Mamanda: Seni Teater Tradisional dari Kalimantan Selatan

Mamanda: Seni Teater Tradisional dari Kalimantan Selatan

mamanda kalimantan selatan
Foto: Wikipedia
Table of Contents

Mamanda adalah seni teater atau pementasan tradisional yang berasal dari Kalimantan Selatan. Dibandingkan dengan seni pementasan yang lain, Mamanda lebih mirip dengan Lenong dari segi hubungan yang terjalin antara pemain dengan penonton. Interaksi ini membuat penonton menjadi aktif menyampaikan komentar lucu yang disinyalir dapat membuat suasana menjadi lebih hidup. Bedanya, kesenian Lenong kini lebih mengikuti zaman ketimbang Mamanda yang monoton pada alur cerita kerajaan. Sebab, pada kesenian Mamanda, tokoh-tokoh yang dimainkan adalah tokoh baku seperti Raja, Perdana Menteri, Mangkubumi, Wazir, Panglima Perang, Harapan Pertama, Harapan Kedua, Khadam (badut/ajudan), Permaisuri, dan Sandut (Putri).

Tokoh-tokoh ini wajib ada dalam setiap pementasan. Agar tidak ketinggalan, tokoh-tokoh Mamanda sering pula ditambah dengan tokoh-tokoh lain seperti Raja dari Negeri Seberang, Perompak, Jin, Kompeni, dan tokoh-tokoh tambahan lain guna memperkaya cerita. Disinyalir istilah Mamanda digunakan karena di dalam lakonnya, para pemain seperti Wazir, Menteri, dan Mangkubumi dipanggil dengan sebutan pamanda atau mamanda oleh Sang Raja. Mamanda secara etimologis terdiri dari kata “mama” (mamarina) yang berarti paman dalam bahasa Banjar dan “nda” yang berarti terhormat. Jadi, Mamanda berarti paman yang terhormat, yaitu sapaan kepada paman yang dihormati dalam sistem kekerabatan atau kekeluargaan.

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, seni drama tradisional Mamanda ini sangat populer di kalangan masyarakat Kalimantan pada umumnya. Bahkan, beberapa waktu silam, seni lakon Mamanda rutin menghiasi layar kaca sebelum hadirnya saluran televisi swasta yang turut menyaingi acara televisi lokal. Tak heran, kesenian ini sudah mulai jarang dipentaskan. Dialog Mamanda lebih kepada improvisasi pemainnya sehingga spontanitas yang terjadi lebih segar tanpa ada naskah yang mengikat. Namun, alur cerita Mamanda masih tetap dikedepankan. Di sini, Mamanda dapat dimainkan dengan naskah yang utuh atau inti ceritanya saja.

Sejarah Mamanda di Kalimantan Selatan

Asal muasal Mamanda adalah kesenian Badamuluk yang dibawa rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka tahun 1897. Dulunya, di Kalimantan Selatan, kesenian ini bernama Komedi Indra Bangsawan. Persinggungan kesenian lokal di Banjar dengan Komedi Indra Bangsawan melahirkan bentuk kesenian baru yang disebut sebagai Ba Abdoel Moeloek atau lebih tenar dengan Badamuluk. Kesenian ini hingga saat ini lebih dikenal dengan sebutan Mamanda.

Bermula dari kedatangan rombongan bangsawan Malaka pada 1897 M yang dipimpin oleh Encik Ibrahim dan istrinya, Cik Hawa, di Tanah Banjar, kesenian ini dipopulerkan dan disambut hangat oleh masyarakat Banjar. Setelah beradaptasi, teater ini melahirkan sebuah teater baru bernama “Mamanda”.

Aliran dan Nilai Budaya

Mamanda mempunyai dua aliran. Pertama adalah Aliran Batang Banyu yang hidup di pesisir sungai daerah Hulu Sungai, yaitu di Margasari. Sering juga disebut Mamanda Periuk. Kedua adalah Aliran Tubau yang bermula tahun 1937 M. Aliran ini hidup di daerah Tubau, Rantau, dan sering dipentaskan di daerah daratan. Aliran ini disebut juga Mamanda Batubau dan berkembang di Tanah Banjar.

Pertunjukan Mamanda mempunyai nilai budaya. Pertunjukan Mamanda, di samping merupakan media hiburan, juga berfungsi sebagai media pendidikan bagi masyarakat Banjar. Cerita yang disajikan baik tentang sejarah kehidupan, contoh teladan yang baik, kritik sosial atau sindiran yang bersifat membangun, demokratis, dan nilai-nilai budaya masyarakat Banjar.

Pada awalnya, Mamanda mempunyai pengiring musik, yaitu orkes Melayu dengan mendendangkan lagu-lagu berirama Melayu. Sekarang, iringannya beralih menggunakan musik panting dengan mendendangkan Lagu Dua Harapan, Lagu Dua Raja, Lagu Tarima Kasih, Lagu Baladon, Lagu Mambujuk, Lagu Tirik, Lagu Japin, Lagu Gandut, Lagu Mandung-Mandung, dan Lagu Nasib.

Struktur Pertunjukan Mamanda

Struktur pertunjukan Mamanda di Banjarmasin terdiri dari: a) Ladon, berfungsi sebagai pembukaan dalam pertunjukan Mamanda di Banjarmasin, juga digunakan sebagai elemen awal yang memulai rangkaian acara. Ladon adalah sebuah atraksi salam yang berupa tarian yang diiringi dengan syair, di mana para aktor yang terlibat menari dengan jumlah ganjil. Di Banjarmasin, para aktor menyanyikan satu atau dua bait syair; b) Perkenalan Staf Kerajaan, dimulai dengan masuknya tokoh Harapan Pertama dan Kedua, diikuti oleh Perdana Menteri, Raja yang didampingi oleh Wazir, Mangkubumi, Permaisuri, Perdana Menteri, Panglima Perang, dan diakhiri dengan Hadam dan Inang; c) Sidang Kerajaan, merupakan bagian dari cerita utama yang dimulai setelah perkenalan para tokoh; d) Babujukan, yang menandai tahap akhir dari rangkaian cerita dalam pertunjukan.

Perkembangan Mamanda di Kalimantan Selatan

Sekarang ini, Mamanda mulai terpinggirkan oleh kesenian modern. Bahkan mungkin, hanya sedikit generasi muda yang tahu kesenian ini. Jika kesenian asli daerah seperti Mamanda tak lagi mendapat perhatian generasi muda, jangan heran nantinya benar-benar punah. Keberadaan kesenian bertutur seperti Mamanda Kecamatan Paringin Selatan dan Wayang Gong di Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan, sudah sekarat. Kesenian yang dulu jadi sarana warga mendapatkan hiburan sekaligus informasi nyaris mati karena kurang mendapat apresiasi masyarakat.

Pemerintah sebenarnya sudah berupaya melestarikan dengan menghadirkan di sejumlah even resmi seperti hari jadi kabupaten beberapa waktu lalu, tetapi memang terbatas. Kendala lainnya, banyak masyarakat kita kurang tertarik lagi. Abdul Syukur, pelaku teater dan sastra Banjarmasin, mengatakan dulu saat ada Departemen Penerangan, kesenian bertutur lebih terangkat karena sering diminta tampil menyampaikan program pemerintah, terutama di kalangan pedalaman. Tapi sekarang makin jarang sehingga banyak masyarakat jadi kurang mengenal.

Kendati begitu, Abdul Syukur mengatakan perlu adanya modifikasi agar kesenian tersebut dapat diterima semua kalangan lagi. Misalnya, bahasa yang digunakan tidak melulu bahasa daerah setempat, tetapi dengan bahasa Indonesia.

Penutup

Mamanda merupakan seni teater tradisional dari Kalimantan Selatan. Kesenian ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pendidikan dan penyampaian nilai budaya masyarakat Banjar. Mamanda memiliki ciri khas berupa tokoh baku, dialog improvisasi, serta interaksi antara pemain dan penonton. Warisan kesenian ini memiliki karakter unik dan perlu terus dilestarikan.

Jangan lewatkan artikel menarik lainnya seputar ekonomi, kesehatan, nasional, olahraga, otomotif, religi, pariwisata, pendidikan, politik, seni budaya, dan teknologi hanya di PakistanIndonesia.com.

Last Updated: 29 August 2026, 09:00

Bagikan:

Search

Artikel Lainnya

Ayo Menelusuri