Benteng Rohtas di Provinsi Punjab, Pakistan, merupakan salah satu mahakarya arsitektur militer abad ke-16 yang dibangun atas perintah penguasa Afghan, Sher Shah Suri. Benteng yang masuk daftar Warisan Dunia UNESCO sejak 1997 ini terkenal karena pertahanannya yang sangat kuat. Menariknya, Benteng Rohtas tidak pernah berhasil direbut melalui serangan langsung, meskipun bangunan tersebut akhirnya diserahkan kepada Kaisar Mughal Humayun pada 1555 tanpa pertempuran.
Sher Shah Suri Membangun Benteng Rohtas untuk Menghalangi Mughal
Sher Shah Suri memulai pembangunan Benteng Rohtas pada 1541 setelah mengalahkan Kaisar Mughal Humayun. Penguasa Dinasti Suri tersebut membangun benteng di kawasan strategis dekat Jhelum untuk mengamankan wilayah kekuasaannya sekaligus mengendalikan kelompok Gakhar yang mendukung Mughal.
Lokasi benteng memberikan keuntungan militer karena bangunannya berdiri mengikuti kontur perbukitan. Posisi tersebut membantu pasukan pengawal mengawasi jalur strategis yang menghubungkan kawasan Afghanistan dengan dataran Punjab.
Pembangunan benteng juga mencerminkan strategi pertahanan Sher Shah Suri dalam menghadapi kemungkinan kembalinya pasukan Mughal ke wilayah India.
12 Gerbang dan 68 Bastion Memperkuat Pertahanan Benteng Rohtas
Benteng Rohtas memiliki kompleks pertahanan seluas sekitar 70 hektare. UNESCO mencatat bahwa benteng ini memiliki tembok batu sepanjang lebih dari empat kilometer, 68 bastion, dan 12 gerbang monumental.
Sistem pertahanan Benteng Rohtas memiliki beberapa keunggulan, antara lain:
- Tembok pertahanan masif: Dinding batu membentuk perimeter panjang yang melindungi seluruh kompleks benteng.
- 68 bastion: Menara pertahanan tersebut memberikan posisi strategis bagi penjaga untuk mengawasi area sekitar.
- 12 gerbang monumental: Setiap gerbang memiliki konstruksi kokoh dan menjadi akses masuk yang dapat dikendalikan.
- Sumur bertingkat atau baolis: Fasilitas air tersebut membantu memenuhi kebutuhan garnisun ketika menghadapi situasi pengepungan.
- Benteng bagian dalam: Dinding tambahan memisahkan kawasan benteng utama dengan kompleks pertahanan bagian dalam.
Benteng Rohtas Tidak Pernah Direbut Melalui Pengepungan Militer
Keistimewaan Benteng Rohtas terletak pada catatan sejarah pertahanannya. UNESCO menjelaskan bahwa pasukan musuh tidak pernah berhasil merebut benteng tersebut melalui serangan langsung atau pengepungan paksa.
Ketika Humayun kembali berkuasa pada 1555, penguasa wilayah Benteng Rohtas menyerahkan bangunan tersebut tanpa pertempuran. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa benteng ini tidak harus menghadapi penghancuran melalui peperangan untuk berpindah kekuasaan.
Benteng Rohtas kemudian digunakan oleh berbagai pemerintahan, termasuk Dinasti Mughal, Durrani, dan Sikh. Penggunaan militer kompleks tersebut berlangsung hingga 1707 sebelum benteng kembali ditempati oleh penguasa berikutnya.
UNESCO Mengakui Benteng Rohtas sebagai Warisan Dunia Sejak 1997
UNESCO menetapkan Benteng Rohtas sebagai Situs Warisan Dunia pada 1997 karena nilai arsitektur dan sejarahnya. Bangunan ini memperlihatkan perpaduan tradisi arsitektur militer Turki dan Asia Selatan yang kemudian memengaruhi perkembangan arsitektur Mughal.
Keberadaan Masjid Shahi, gerbang monumental, ukiran batu, serta ornamen kaligrafi menambah nilai sejarah kompleks tersebut.
Hingga sekarang, Benteng Rohtas menjadi bukti kecanggihan teknologi pertahanan abad ke-16. Pembaca dapat mengenal lebih jauh sejarah peradaban Asia Selatan melalui peninggalan arsitektur yang masih bertahan selama berabad-abad.
Untuk menemukan cerita menarik lainnya mengenai sejarah dunia, warisan budaya, dan peninggalan peradaban, pembaca dapat mengunjungi PakistanIndonesia.com. Berbagai artikel menghadirkan informasi sejarah dari berbagai negara.
Jangan lewatkan pula kisah bangunan bersejarah dan tradisi masyarakat yang membentuk identitas berbagai bangsa. Temukan cerita menarik lainnya melalui artikel terbaru di PakistanIndonesia.com.