Jakarta – Di era digital, perdebatan tentang pentingnya pendidikan formal versus non-formal semakin memanas. Kesuksesan seseorang tidak lagi hanya diukur dari gelar sarjana. Banyak anak muda berhasil membangun karier gemilang sebagai kreator konten, programmer, atau wirausahawan digital. Fenomena ini memunculkan pertanyaan: apakah sekolah dan universitas masih relevan sebagai satu-satunya jalan menuju sukses?
Ijazah Bukan Satu-satunya Kunci Sukses
Kenyataannya, banyak lowongan pekerjaan kini lebih mengutamakan keterampilan nyata daripada ijazah semata. Namun, tekanan sosial dari keluarga dan masyarakat masih kuat, menuntut generasi muda memiliki gelar pendidikan tinggi. Di sisi lain, biaya pendidikan formal yang mahal seringkali menjadi kendala.
Muncul pula fenomena di mana anak muda memilih putus sekolah untuk menjadi kreator digital, melihat jalan ini sebagai “pintasan” menuju kesuksesan. Hal ini menciptakan dilema besar: di satu sisi, ijazah adalah simbol status sosial, tetapi di sisi lain, industri digital menuntut keterampilan praktis yang seringkali tidak diajarkan di bangku sekolah.
Pendidikan Formal: Fondasi Utama Pembelajaran
Meski sering dianggap lambat beradaptasi, pendidikan formal tetap memiliki peran krusial. Sekolah dan universitas berfungsi sebagai fondasi untuk membangun keterampilan dasar, disiplin diri, dan pola pikir kritis. Ini adalah hal-hal yang tidak bisa didapat dengan mudah dari pembelajaran instan.
Pentingnya pendidikan formal ini berlaku di banyak negara. Di Indonesia, kurikulum merdeka mendorong siswa untuk berpikir lebih aktif. Sementara itu, di Pakistan, sistem ujian nasional masih memegang peranan penting dalam menentukan arah pendidikan. Namun, kelambanan adaptasi kurikulum terhadap perkembangan teknologi membuat jalur pendidikan non-formal menjadi pelengkap yang krusial.
Pendidikan Non-Formal: Fleksibilitas di Era Digital
Pandemi COVID-19 menjadi titik balik. Laporan menunjukkan bahwa pengguna kursus daring melonjak drastis, membuktikan bahwa pendidikan non-formal semakin diminati.
Di Indonesia, pengguna platform EdTech melonjak dari 15 juta (2019) menjadi 40 juta (2022). Begitu juga di Pakistan, pasar pendidikan daring tumbuh pesat dan diperkirakan akan mencapai $2,34 miliar pada 2033. Platform lokal seperti Maqsad dan program pemerintah Taleem Ghar berhasil menjangkau jutaan siswa, menunjukkan besarnya potensi pembelajaran digital.
Kelebihan dan Kekurangan: Keseimbangan yang Dibutuhkan
Pendidikan Formal menawarkan kurikulum terstruktur, pengakuan resmi, dan interaksi sosial. Namun, kekurangannya adalah adaptasi yang lambat dan biaya yang tinggi. Sebaliknya, pendidikan non-formal unggul dalam fleksibilitas, fokus pada keterampilan praktis, dan aksesibilitas. Kekurangannya, kualitas bisa tidak merata dan sertifikatnya belum memiliki pengakuan yang sama.
Untuk itu, solusi terbaik bukanlah memilih salah satu, melainkan mengintegrasikan keduanya. Pendidikan formal bisa bekerja sama dengan platform EdTech untuk menciptakan kurikulum yang relevan. Kolaborasi internasional, seperti antara Indonesia dan Pakistan, juga dapat menjadi peluang untuk berbagi pengalaman dalam transformasi digital pendidikan.
Pada akhirnya, di era digital, kesuksesan bukan hanya tentang memiliki satu jenis pendidikan. Generasi digital yang cerdas adalah mereka yang mampu memadukan pondasi kuat dari pendidikan formal dengan keterampilan praktis yang diperoleh dari jalur non-formal.
Daftar Pustaka
it-sourcing.id. (2025). EdTech di Indonesia Mengubah Cara Belajar Student di Era Digital
Media Indonesia. (2021). Selama Pandemi, Jumlah Pengguna Kursus Daring Meningkat 92 Persen
Dipstrategy.co.id. (2025). Statistik Industri Digital di Indonesia 2025
Imarc Group. (2024). Pakistan Online Education Market Report
PakUpTech. (2024). EdTech in Pakistan 2024: From Emergency Response to Systemic Reform
Kompas.com. (2023). Apakah gelar masih penting di dunia kerja digital?