Phalsa: Manis-Asam Buah Musim Panas dan Peluang Ekonomi

Phalsa: Manis-Asam Buah Musim Panas dan Peluang Ekonomi

phalsa
Foto: Dreamstime

Bagikan

Phalsa adalah buah kecil berbentuk berry dari pohon atau semak Grewia asiatica yang populer di musim panas. Buah ini membantu tubuh tetap terhidrasi dan meningkatkan kemampuan melawan panas. Manfaat kesehatannya lebih dari sekadar menyegarkan ketika suhu melonjak tinggi.

Orang-orang biasanya memakan segenggam phalsa atau mengonsumsinya dalam bentuk sherbet dingin atau squash untuk tetap aman dari efek panas yang ekstrem. Selama musim panas di Sindh, suhu di pedesaan dan perkotaan biasanya mencapai 42-48°C, yang semakin meningkatkan permintaan buah ini, seperti dilaporkan oleh The News International.

Phalsa: Buah Musim Panas yang Populer

Phalsa matang berwarna ungu gelap dan dikenal dengan rasa manis-asam khas serta nilai obatnya. Dalam bahasa Sindhi, buah ini disebut Pharwa. Popularitasnya meningkat di pasar lokal maupun di jalanan, dengan harga Rs300-400 per kilogram. Produsen mengatakan permintaan meningkat dua hingga tiga kali lipat, meski rantai pasokannya belum memadai.

Phalsa mulai hadir di pasar lokal pada akhir April atau awal Mei dan tersedia hingga Juni, tergantung produksi, varietas, dan perawatan kebun. Para pedagang menjelaskan bahwa kenaikan harga terjadi karena permintaan, bukan manipulasi pasar.

Peluang Ekonomi dari Phalsa

Banyak produsen menanamnya di lahan keluarga mereka, meski sebagian besar kebun telah diganti dengan tanaman buah lain karena fluktuasi pasar. Menurut Manzoor Kalhoro, produsen dari distrik Hyderabad, buah ini perishable dan tidak bisa disimpan lama. Biasanya pedagang membeli buah hijau setengah matang untuk dikirim ke Punjab dan Khyber Pakhtunkhwa agar matang setelah dua-tiga hari.

Sebelumnya, phalsa ditanam di banyak kebun untuk memenuhi permintaan dari Karachi, Hyderabad, dan kota-kota lain. Namun, ketidakstabilan politik dan kesulitan distribusi membuat banyak petani mengalami kerugian, sehingga mereka mengganti tanaman phalsa dengan buah lain.

Pemetikan dan Pengolahan

Phalsa adalah tanaman yang rapuh, biasanya dipetik oleh perempuan, sedangkan laki-laki terlibat dalam pengemasan. Beberapa produsen menyewakan kebun mereka dengan harga Rs100.000-150.000 per acre per tahun, dengan 800-1000 tanaman per acre.

Pada awal musim, produsen membawa satu atau dua keranjang (8-10 kg) setiap hari ke pasar. Saat puncak musim, pengambilan dilakukan hampir setiap hari. Phalsa digunakan untuk berbagai tujuan: ada yang membuat acar, jus, atau dijadikan sayuran dari buah hijau.

Tantangan Pekerja

Para pemetik phalsa, sebagian besar perempuan, sering mengeluhkan upah yang rendah, hanya Rs10-15 per kg, dengan kapasitas memetik 8-10 kg per hari. Pada masa lalu, beberapa perempuan bisa memetik hingga 40 kg per hari, namun ukuran kebun kini menyusut drastis. Mereka juga menghadapi risiko bekerja di bawah panas terik.

Potensi Tambahan dari Phalsa

Beberapa petani senior menyebut daunnya juga berharga untuk membuat beedi (rokok tangan) dan dulunya menjadi alternatif daun tendu (Diospyros melanoxylon). Meski permintaan daun menurun, peluang ekonomi dari buah dan daun masih ada. Musim pertanian berakhir di musim dingin, saat cabang Phalsa dipangkas untuk merangsang pertumbuhan tunas di musim semi.

Penutup

Phalsa bukan sekadar menyegarkan di musim panas, tetapi juga menjadi sumber peluang ekonomi bagi petani dan pengusaha kecil di Pakistan. Dengan pengolahan yang tepat, distribusi yang baik, dan perawatan kebun yang optimal, tanaman ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.

Jangan lewatkan artikel menarik lainnya seputar peluang ekonomi, agribisnis, buah musiman, perdagangan, dan kesehatan di PakistanIndonesia.com.

Ayo Menelusuri