Masjid Istiqlal adalah masjid nasional yang berada di Jakarta Pusat, Indonesia. Masjid ini menjadi masjid terbesar di Asia Tenggara dan masjid terbesar kedelapan di dunia dalam hal kapasitas jamaah. Pembangunan masjid ini dilakukan untuk memperingati kemerdekaan Indonesia. Nama “Istiqlal” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti “kemerdekaan”. Bangunan ini dibuka untuk umum pada 22 Februari 1978, berdasarkan informasi dari Wikipedia.
Terletak di dekat Istana Merdeka serta bersebelahan dengan Gereja Katedral Jakarta dan Gereja Immanuel, masjid ini menjadi simbol kerukunan antarumat beragama. Keberadaannya mencerminkan komitmen Indonesia terhadap toleransi dan harmoni sosial, sekaligus menjadi ikon arsitektur dan budaya nasional.
Sejarah dan Pembangunan Masjid Istiqlal
Gagasan pembangunan Masjid Istiqlal pertama kali dicetuskan oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta sebagai masjid nasional di ibu kota yang dapat menampung jamaah dari seluruh negeri. Pada tahun 1951, Hatta mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh seperti Sjafruddin Prawiranegara dan Hamka untuk membentuk panitia pembangunan.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Presiden Soekarno pada 24 Agustus 1961, dan pembangunan berlangsung selama 17 tahun. Masjid ini dirancang oleh arsitek Friedrich Silaban, seorang keturunan Huria Kristen Batak Protestan, dengan tema arsitektur “Ketuhanan” yang menekankan kesederhanaan dan monumentalitas.
Arsitektur dan Kapasitas Masjid Istiqlal
Masjid Istiqlal mengusung gaya arsitektur formalisme baru dan internasional. Bangunan utama terdiri dari lima lantai ditambah satu lantai dasar, dimahkotai kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Minaret tunggal setinggi 96,66 meter menjulang di sudut selatan masjid.
Dengan lantai dan dinding berlapis marmer serta ornamen geometrik dari baja antikarat, masjid ini mampu menampung lebih dari 200.000 jamaah. Arsitekturnya menekankan fungsi sekaligus estetika, menjadikannya landmark nasional dan destinasi wisata religi.
Lokasi Strategis dan Simbol Toleransi
Masjid Istiqlal dibangun di area Taman Wijaya Kusuma di depan Gereja Katedral Jakarta, yang sebelumnya merupakan lokasi Taman Wilhelmina dan Benteng Prins Frederik. Penempatan ini disengaja oleh Soekarno untuk melambangkan kerukunan antarumat beragama sesuai prinsip Pancasila.
Selain fungsi ibadah, masjid ini mendorong keterbukaan dan inklusivitas, terlihat dari pembangunan Terowongan Silaturahim yang menghubungkannya dengan Gereja Katedral. Masjid ini juga menawarkan pengajaran bahasa Ibrani modern bagi pengunjung dan jamaah.
Renovasi dan Peran Kontemporer
Antara Mei 2019 hingga Juli 2020, masjid menjalani renovasi besar-besaran senilai sekitar 511 miliar rupiah. Renovasi mencakup pembersihan marmer, sistem pencahayaan LED baru, perbaikan mimbar dan mihrab, renovasi ruang VIP, taman, alun-alun, serta pembangunan parkir bawah tanah dua lantai.
Masjid Istiqlal juga meraih sertifikasi EDGE pada 2022, menjadikannya salah satu bangunan Green Building pertama di dunia untuk tempat ibadah. Semua ini memperkuat perannya sebagai simbol toleransi, edukasi, dan pusat kegiatan sosial di Indonesia.
Penutup
Masjid Istiqlal tidak hanya menjadi kebanggaan umat Islam di Indonesia, tetapi juga lambang toleransi dan kerukunan antarumat beragama. Keberadaannya menunjukkan bagaimana sejarah, arsitektur, dan fungsi sosial dapat bersinergi untuk memperkuat nilai-nilai keberagaman.
Jangan lewatkan artikel menarik lainnya seputar budaya, toleransi, religi, wisata religi, kolaborasi, dan berbagai berita terkini dari Indonesia dan Pakistan di PakistanIndonesia.com.




