Pakistanindonesia.com – Pakistan selama ini lebih sering dikenal sebagai pasar besar di Asia Selatan daripada sebagai pemain farmasi regional. Namun, angka terbaru mulai mengubah cerita itu. Ekspor produk farmasi Pakistan mencapai sekitar US$457 juta pada tahun fiskal 2024–25, naik 34 persen dibandingkan periode sebelumnya dan menjadi pertumbuhan tahunan tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Yang membuat perkembangan ini menarik bukan sekadar angka ekspor. Afghanistan sudah menjadi pasar terbesar dengan nilai sekitar US$155,7 juta, sementara Sri Lanka, Uzbekistan, Irak hingga Vietnam masuk dalam jajaran tujuan utama. Artinya, industri Pakistan sebenarnya sudah mempunyai pijakan regional—tetapi pertanyaannya, apakah negara ini mampu mengubah pijakan tersebut menjadi kekuatan farmasi Asia yang lebih besar?
1. Obat Generik Bisa Menjadi Senjata Utama
Salah satu kekuatan terbesar Pakistan berada pada produksi obat generik. Menurut Trade Development Authority of Pakistan (TDAP), industri farmasi Pakistan bernilai sekitar US$3,29 miliar dan telah tumbuh dua digit dalam lima tahun terakhir. Namun, TDAP juga mengakui Pakistan masih merupakan pemain kecil di pasar global dan ekspornya cukup terkonsentrasi pada sejumlah pasar.
Di sinilah peluang regional muncul. Negara berkembang membutuhkan obat dengan harga relatif terjangkau, sementara Pakistan telah memiliki basis manufaktur dan pengalaman produksi obat. Strategi ekspor resmi Pakistan bahkan menempatkan antibiotik, pengencer darah, steroid, multivitamin, nutraceutical, serta vaksin sebagai sejumlah segmen yang berpotensi dikembangkan.
2. Afghanistan Jadi Pasar yang Sulit Diabaikan
Jika mencari bukti paling nyata, Afghanistan adalah jawabannya. Data Pakistan Pharma Trade Portal menunjukkan Afghanistan menyerap sekitar 34 persen ekspor farmasi Pakistan pada FY2024–25. Nilainya mencapai sekitar US$155,68 juta, jauh di atas sejumlah pasar lain.
Hubungan ini juga ditopang kedekatan geografis dan jalur perdagangan. Kementerian Luar Negeri Pakistan mencatat produk farmasi termasuk komoditas ekspor utama Pakistan ke Afghanistan, sementara perdagangan bilateral kedua negara mencapai sekitar US$1,998 miliar pada FY2024–25. Namun, ketergantungan pada satu pasar juga menjadi risiko. Jika kondisi perbatasan, keamanan, atau kebijakan perdagangan berubah, ekspor farmasi dapat ikut terdampak.
3. Asia Tengah Bisa Menjadi Babak Berikutnya
Peluang yang lebih menarik justru dapat muncul di Asia Tengah. Uzbekistan sudah mencatat nilai ekspor farmasi Pakistan sekitar US$22,84 juta pada FY2024–25, menempatkannya sebagai salah satu dari sepuluh pasar terbesar.
Pakistan mempunyai kepentingan strategis untuk menghubungkan manufaktur dengan pasar Asia Tengah melalui jalur perdagangan regional. Dalam pertemuan bilateral Pakistan-Tajikistan pada 2025, kedua negara secara khusus mengeksplorasi peningkatan kerja sama perdagangan, termasuk sektor farmasi.
Jika konektivitas dan prosedur perdagangan semakin efisien, farmasi dapat menjadi bagian dari diversifikasi hubungan ekonomi Pakistan dengan negara-negara Asia Tengah. Tantangannya adalah memastikan produk memenuhi standar regulasi masing-masing negara dan tidak hanya mengandalkan harga murah.
4. Malaysia dan Indonesia Membuka Peluang Lebih Besar
Peluang lainnya berada di Asia Tenggara. Pakistan dan Malaysia pada 2025 menyepakati penjajakan kerja sama di bidang kesehatan, farmasi, dan perangkat medis, menunjukkan bahwa hubungan farmasi tidak lagi terbatas pada kawasan Asia Selatan.
Indonesia juga menjadi contoh menarik. Dalam pernyataan bersama Pakistan-Indonesia pada Desember 2025, kedua negara sepakat memperkuat kolaborasi kesehatan, farmasi, perangkat medis, teknologi kesehatan, kesehatan digital, hingga kesiapsiagaan menghadapi penyakit dengan potensi pandemi, termasuk produksi vaksin, dengan tetap mengikuti regulasi masing-masing negara.
Ini membuka peluang yang lebih luas daripada sekadar ekspor obat. Kerja sama regional bisa berkembang menjadi produksi bersama, transfer pengetahuan, penelitian, teknologi kesehatan, hingga pengembangan rantai pasok.
5. Tantangan Terbesarnya Justru Ada di Dalam Negeri
Di balik optimisme tersebut terdapat persoalan yang tidak boleh ditutup-tutupi. Industri farmasi Pakistan masih menghadapi ketergantungan pada bahan baku dan active pharmaceutical ingredients (API) impor, sehingga perubahan nilai tukar dan gangguan rantai pasok dapat meningkatkan tekanan biaya. PACRA juga mencatat pertumbuhan sektor Pakistan masih sebagian dipengaruhi kenaikan harga, sementara pertumbuhan volume relatif lebih terbatas.
Pemerintah Pakistan mencoba mendorong perubahan tersebut. Kementerian Keuangan pada November 2025 menyebut ekspor farmasi tumbuh 34 persen dan industri bersama pemerintah membahas pembentukan PharmEx Pakistan, dengan ambisi mencapai US$3 miliar ekspor farmasi dalam tiga tahun dan US$10 miliar dalam lima tahun berikutnya. Target itu terdengar agresif, tetapi sekaligus menunjukkan betapa besar ambisi Pakistan untuk mengubah farmasi menjadi mesin ekspor baru.
Penutup
Potensi industri farmasi Pakistan tidak lagi sekadar cerita tentang pasar domestik. Pertumbuhan ekspor, posisi Afghanistan sebagai pasar utama, penetrasi ke Uzbekistan dan Sri Lanka, serta penjajakan kerja sama dengan Malaysia dan Indonesia menunjukkan adanya peluang untuk membangun jaringan farmasi lintas kawasan. Namun, pertumbuhan 34 persen belum otomatis menjadikan Pakistan sebagai kekuatan farmasi Asia.
Justru di sinilah pertarungan sebenarnya dimulai. Pakistan harus membuktikan bahwa kenaikan ekspor tersebut dapat berubah menjadi produk berkualitas, pasar yang lebih beragam, standar regulasi yang kuat, serta rantai pasok yang tidak terlalu bergantung pada impor. Jika berhasil, industri farmasi bisa menjadi salah satu pintu Pakistan untuk memperluas pengaruh ekonominya di Asia. Jika gagal, pertumbuhan besar hari ini bisa saja hanya menjadi lonjakan sementara.
Sumber Referensi
- Trade Development Authority of Pakistan (TDAP) – Pharmaceuticals
https://tdap.gov.pk/pharmaceuticals/ - Pakistan Pharma Trade Portal – Data Ekspor Farmasi Pakistan
https://pakistanpharmaportal.tdap.gov.pk/ - Ministry of Foreign Affairs Pakistan – Kerja Sama Pakistan-Indonesia
https://mofa.gov.pk/press-releases/visit-of-he-prabowo-subianto-president-of-the-republic-of-indonesia-to-pakistan-8-9-december-2025-joint-statement