Pakistanindonesia.com – Pakistan mungkin bukan negara pertama yang muncul ketika pengusaha Indonesia membicarakan pasar Asia. Nama seperti India, China, Jepang, atau Singapura jauh lebih sering masuk radar bisnis. Namun, angka terbaru menunjukkan Pakistan punya pasar domestik sekitar 255,2 juta penduduk pada 2025, dengan ekonomi bernilai sekitar US$407,3 miliar menurut World Bank.
Yang membuatnya menarik bukan sekadar jumlah penduduk. Pakistan sedang mengalami perubahan struktur ekonomi, mulai dari pertumbuhan sektor digital, kebutuhan industri, pertanian, hingga perdagangan lintas negara. Bagi pelaku usaha Indonesia, kondisi ini membuka pertanyaan penting: apakah Pakistan selama ini justru terlalu sering dipandang dari sisi risikonya, sementara peluang pasarnya kurang diperhatikan?
1. Pakistan Punya Pasar Lebih dari 255 Juta Orang
Fakta pertama adalah ukuran pasarnya. World Bank mencatat populasi Pakistan mencapai 255,2 juta orang pada 2025, menjadikannya salah satu pasar konsumen terbesar di dunia. Populasi tersebut juga masih tumbuh sekitar 1,6 persen per tahun.
Bagi pengusaha Indonesia, angka ini penting karena pasar besar berarti kebutuhan yang beragam. Produk makanan, barang konsumsi, tekstil, layanan digital, kesehatan, hingga solusi teknologi memiliki ruang untuk dikembangkan. Tantangannya bukan sekadar menjual produk, tetapi memahami kebutuhan konsumen lokal dan jalur distribusinya.
2. Ekonominya Tidak Hanya Bergantung pada Komoditas
Gambaran Pakistan sebagai pasar yang hanya bertumpu pada sektor tradisional juga semakin kurang lengkap. Pakistan Economic Survey 2025-26 mencatat ekonomi Pakistan tumbuh 3,70 persen pada FY2026. Pemerintah juga menempatkan ekspor, produktivitas, investasi swasta, dan transformasi sektor digital sebagai bagian penting dari agenda pertumbuhan.
Perubahan tersebut menciptakan peluang bagi perusahaan yang menawarkan solusi, bukan hanya barang. Perangkat lunak, layanan bisnis, teknologi finansial, logistik, pendidikan digital, hingga layanan profesional dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi baru. Dengan kata lain, peluang Indonesia di Pakistan tidak harus berhenti pada aktivitas ekspor.
3. Industri Tekstil Pakistan Sangat Besar
Pakistan memiliki industri tekstil yang sudah terintegrasi dari bahan baku hingga produk jadi. Data Pakistan Economic Survey menunjukkan ekspor tekstil dan apparel mencapai sekitar US$13,58 miliar pada Juli–Maret FY2026, setara 59,7 persen dari total ekspor negara pada periode tersebut.
Dominasi ini justru membuka peluang kerja sama yang lebih luas. Perusahaan Indonesia dapat melihat Pakistan sebagai pasar sekaligus bagian dari rantai pasok regional, terutama untuk bahan baku, mesin, teknologi produksi, desain, pengemasan, dan produk pendukung industri. Model bisnis seperti ini berpotensi lebih kuat dibanding sekadar mengejar transaksi satu kali.
4. Pertanian Masih Menjadi Mesin Ekonomi
Fakta berikutnya mungkin terlihat tradisional, tetapi justru penting. Pertanian masih menjadi sektor besar dalam ekonomi Pakistan dan terhubung dengan industri makanan, peternakan, tekstil, perdagangan, serta ekspor. Pakistan Economic Survey 2025-26 bahkan menyediakan sektor pertanian sebagai salah satu bab utama dalam laporan ekonominya.
Bagi pengusaha Indonesia, ini berarti peluang tidak hanya berada di kota-kota besar. Teknologi pertanian, pengolahan pangan, rantai dingin, kemasan, pupuk, alat produksi, dan solusi distribusi dapat menjadi area kerja sama. Pertanyaannya kemudian bukan apakah Pakistan membutuhkan produk Indonesia, tetapi produk seperti apa yang mampu menyelesaikan kebutuhan lokal.
5. Uang dari Pekerja Migran Sangat Berpengaruh
Ada satu angka lain yang sering luput dari pembahasan pasar Pakistan: remitansi. Pakistan Economic Survey 2025-26 mencatat remitansi pekerja mencapai US$30,3 miliar pada Juli–Maret FY2026, naik 8,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Arus uang tersebut penting bagi perekonomian sekaligus daya beli rumah tangga. World Bank juga mencatat remitansi Pakistan setara sekitar 9,9 persen dari PDB pada 2025. Bagi bisnis konsumen, kondisi ini menunjukkan bahwa perilaku belanja di Pakistan tidak bisa hanya dibaca dari pendapatan domestik, tetapi juga dari arus pendapatan masyarakat yang bekerja di luar negeri.
6. Ekonomi Digital Mulai Menjadi Kekuatan Baru
Pakistan juga sedang berusaha memperbesar peran teknologi dalam ekonominya. Kementerian Keuangan Pakistan menyebut ekspor layanan IT telah menembus US$4 miliar dan pemerintah melihat sektor tersebut sebagai salah satu pilar ekonomi baru.
Bagi perusahaan Indonesia, perkembangan ini menarik karena kerja sama digital tidak selalu membutuhkan investasi fisik besar sejak awal. Software, outsourcing, layanan kreatif, teknologi pendidikan, keamanan digital, dan solusi bisnis berbasis cloud dapat menjadi pintu masuk. Pasar Asia Selatan akhirnya bukan hanya soal barang yang dikirim menggunakan kapal, tetapi juga layanan yang dikirim melalui internet.
7. Hubungan Dagang Indonesia–Pakistan Sudah Punya Fondasi
Fakta terakhir justru paling relevan bagi pengusaha Indonesia. Kementerian Perdagangan RI mencatat nilai perdagangan Indonesia–Pakistan mencapai US$4,1 miliar, dengan pertumbuhan 23,29 persen dalam lima tahun, sementara ekspor Indonesia ke Pakistan mencapai US$3,5 miliar pada 2024.
Hubungan tersebut juga sedang diarahkan menuju tahap yang lebih luas. Indonesia dan Pakistan telah membahas rencana memperluas Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) pada 2027. Pembahasan itu juga mencakup peluang sektor jasa, termasuk kesehatan.
Penutup
Tujuh fakta tersebut menunjukkan bahwa Pakistan bukan pasar yang bisa dibaca hanya dari satu sisi. Di balik tantangan ekonominya, terdapat populasi besar, industri tekstil, pertanian, remitansi, ekonomi digital, serta hubungan dagang Indonesia yang sudah memiliki fondasi. Bagi pengusaha Indonesia, memahami Pakistan berarti melihat Asia Selatan dengan perspektif yang lebih luas dan tidak terpaku pada pasar yang selama ini paling populer. Perubahan terbesar mungkin bukan terjadi ketika Pakistan tiba-tiba menjadi pusat perhatian, tetapi ketika semakin banyak perusahaan mulai memahami cara masuk ke pasarnya lebih awal.
Sumber Referensi Sah
- World Bank – Pakistan Data
https://data.worldbank.org/country/pakistan - Pakistan Economic Survey 2025-26 – Ministry of Finance Pakistan
https://www.finance.gov.pk/survey_2026.html - Kementerian Perdagangan RI – Pertemuan Wamendag RI dengan Dubes Pakistan
https://www.kemendag.go.id/index.php/berita/foto/pertemuan-wamendag-ri-dengan-dubes-pakistan-untuk-indonesia