Tari Saman adalah tarian rakyat dari masyarakat Suku Gayo di Provinsi Aceh, Indonesia. Tarian ini tidak hanya menjadi pertunjukan seni, tetapi juga media untuk menyampaikan pesan dakwah serta nilai-nilai kehidupan seperti pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan. Pengakuan UNESCO menegaskan bahwa warisan budaya tak benda ini harus dilestarikan.
Sebelum pertunjukan dimulai, biasanya seorang pemuka adat atau orang tua cerdik pandai tampil sebagai mukaddimah untuk memberikan nasihat kepada penari dan penonton. Tradisi ini menekankan pentingnya moral, sopan santun, dan nilai sosial dalam setiap pertunjukan.
Asal-usul Tari Saman
Tarian ini berasal dari Suku Gayo dan awalnya digunakan sebagai media dakwah Islam. Menurut Wikipedia, tarian ini dipelajari Syekh Saman dari tarian Melayu kuno dan diadaptasi dengan syair-syair dakwah agar lebih mudah diterima masyarakat. Tarian ini dipentaskan untuk menyampaikan pesan religius sekaligus memperkuat kebersamaan komunitas.
Gerakan dan Nyanyian
Tari Saman menggunakan gerakan dasar berupa tepuk tangan dan tepuk dada, disertai gerakan tambahan seperti guncang, kirep, lingang, dan surang-saring, semuanya menggunakan istilah bahasa Gayo. Gerakan yang cepat dan harmonis dilakukan secara bersama-sama, menonjolkan sinkronisasi antarpenari.
Nyanyian dalam tari saman menambah dinamika pertunjukan. Ada lima macam nyanyian:
- Rengum: auman diawali pengangkat.
- Dering: rengum yang segera diikuti seluruh penari.
- Redet: lagu singkat dengan suara pendek di bagian tengah tari.
- Syekh: lagu panjang dan tinggi, tanda perubahan gerak.
- Saur: lagu diulang bersama seluruh penari setelah dinyanyikan penari solo.
Penari dan Penyajian Tari Saman
Tarian ini biasanya ditarikan oleh belasan hingga puluhan laki-laki dengan jumlah ganjil. Seorang syekh ditunjuk untuk memimpin gerakan dan menyanyikan syair-syair (ganit). Pertunjukan dapat dipentaskan sebagai kompetisi antara grup, dengan penilaian berdasarkan kemampuan mengikuti gerak, tari, dan nyanyian lawan.
Fungsi Sosial dan Dakwah
Tari Saman berfungsi sebagai media pendidikan moral, penguatan sosial, dan dakwah Islam. Dengan menampilkan gerakan serempak dan nyanyian yang saling terkait, tarian ini mengajarkan kerja sama, disiplin, dan kebersamaan. Meski bersifat religius, tari Saman tetap menjadi pertunjukan budaya yang menghibur dan mendidik.
Penutup
Tari Saman adalah bukti bahwa seni tradisional dapat menjadi sarana dakwah dan mempererat nilai sosial masyarakat. Menikmati tarian ini memungkinkan kita memahami pesan moral, religius, dan kebersamaan dari budaya Aceh.
Jangan lewatkan artikel menarik lainnya seputar budaya, seni tradisional, warisan Nusantara, pendidikan, dan kolaborasi lintas negara di PakistanIndonesia.com.




