Kalau kamu mengira kecerdasan buatan (AI) cuma soal teknologi canggih yang bikin hidup lebih praktis, mungkin kamu belum melihat sisi gelapnya. Di Temu Nasional Literasi Digital, pemerintah Indonesia melalui Komdigi mulai angkat suara: penyalahgunaan AI bukan lagi ancaman masa depan, tapi masalah hari ini.
Menariknya, peringatan ini datang saat Pakistan negara yang juga sedang berjuang membangun ekosistem digital, sudah lebih dulu merasakan dampaknya. Dari hoaks politik berbasis AI, deepfake, hingga manipulasi informasi publik, Pakistan menjadi cermin keras tentang apa yang bisa terjadi jika literasi digital tertinggal dari kecepatan teknologi.
Artikel ini mengajak kamu duduk sebentar, menarik napas, dan melihat isu AI bukan sebagai jargon teknologi, tapi sebagai realita sosial yang menyentuh kehidupan manusia.
Ketika AI Disalahgunakan, yang Terguncang Bukan Hanya Teknologi
Di Pakistan, penyalahgunaan AI pernah memicu kegaduhan nasional. Video deepfake tokoh publik menyebar luas, hoaks berbasis AI memperkeruh suasana politik, dan masyarakat awam kesulitan membedakan mana fakta, mana rekayasa.
Masalahnya bukan pada teknologinya, tapi pada manusia yang belum siap. Literasi digital belum merata, sementara AI berkembang tanpa rem. Dampaknya? Kepercayaan publik runtuh, ruang digital jadi penuh kecurigaan.
Temu Nasional Literasi Digital: Alarm Dini untuk Indonesia
Di forum nasional literasi digital, Komdigi menyoroti bahwa AI bisa menjadi pisau bermata dua. Satu sisi membawa efisiensi dan inovasi, sisi lain membuka peluang penyalahgunaan skala besar.
Isu seperti deepfake, pencurian identitas, manipulasi data, hingga penipuan berbasis AI mulai masuk ke ruang publik Indonesia. Jika tidak diimbangi edukasi dan etika, Indonesia berpotensi mengulang pengalaman pahit Pakistan. Peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menyadarkan.
Pakistan sebagai Cermin: Ketika Regulasi Kalah Cepat
Pakistan bukan negara tanpa upaya. Mereka punya talenta digital, startup teknologi, dan pengguna internet yang besar. Namun, regulasi dan literasi sering tertinggal.
Ketika AI digunakan untuk propaganda dan manipulasi, negara baru tersadar setelah dampaknya terasa. Masyarakat menjadi korban, sementara kepercayaan pada teknologi ikut runtuh.
Ini pelajaran penting bagi Indonesia: bertindak sebelum krisis, bukan setelahnya.
Indonesia di Persimpangan: Belajar atau Mengulang
Indonesia hari ini masih berada di fase waspada. Komdigi bicara, akademisi berdiskusi, komunitas digital bergerak. Tapi semua itu akan sia-sia jika literasi digital hanya berhenti di seminar.
AI tidak mengenal batas negara. Apa yang terjadi di Pakistan bisa dengan mudah terjadi di Indonesia. Hoaks berbasis AI tidak memilih korban, dan masyarakat awam adalah yang paling rentan.
Pilihan Indonesia jelas: belajar dari pengalaman negara lain, atau mengulang kesalahan yang sama.
Literasi Digital Bukan Elit, tapi Kebutuhan Semua Orang
Masalah terbesar dari penyalahgunaan AI adalah anggapan bahwa ini isu “orang pintar”. Padahal, yang paling terdampak justru masyarakat umum.
Literasi digital harus turun ke akar rumput: sekolah, komunitas, keluarga. Bukan hanya tahu cara pakai AI, tapi tahu kapan harus curiga, kapan harus berhenti menyebar, dan kapan harus bertanya.
Pakistan sudah membayar mahal karena terlambat. Indonesia masih punya kesempatan untuk lebih siap.
Penutup
Temu Nasional Literasi Digital bukan sekadar agenda tahunan. Ia adalah alarm keras bahwa dunia digital berubah lebih cepat dari kesiapan manusia.
Ketika Indonesia mulai waspada terhadap penyalahgunaan AI, Pakistan sudah lebih dulu terpukul. Pertanyaannya sekarang bukan siapa yang lebih canggih, tapi siapa yang lebih belajar dari kesalahan.
Karena di era AI, yang paling berbahaya bukan teknologi—melainkan manusia yang menggunakannya tanpa kesadaran.



