Modal Visa Umrah, Puluhan Ribu Warga Pakistan Jadi Pengemis di Arab Saudi

Modal Visa Umrah, Puluhan Ribu Warga Pakistan Jadi Pengemis di Arab Saudi

Bagikan

Ketika Ibadah Suci Bertemu Jaringan Kemiskinan Terorganisasi

Kalau kamu mengira visa umrah selalu identik dengan niat ibadah yang tulus dan perjalanan spiritual penuh haru, berarti kamu belum melihat sisi gelap yang kini mengusik Arab Saudi dan Pakistan sekaligus. Di balik lantunan doa di Mekkah dan Madinah, terselip fenomena yang bikin banyak pihak gelisah: puluhan ribu warga Pakistan datang dengan visa umrah, tapi berakhir mengemis di tanah suci.

Arab Saudi baru-baru ini mendeportasi sekitar 56.000 warga Pakistan yang terlibat praktik pengemisan. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia menyimpan cerita tentang kemiskinan, jaringan terorganisasi, dan citra sebuah negara yang tercoreng di mata dunia Islam. Artikel ini akan mengajakmu memahami fenomena ini, bukan dengan nada menghakimi, tapi dengan mencoba melihat manusia di balik angka.

Dari Niat Ibadah ke Trotoar Kota Suci

Bagi banyak warga Pakistan, umrah adalah impian seumur hidup. Namun dalam kasus ini, visa umrah justru dijadikan tiket masuk untuk bertahan hidup dengan cara mengemis.

Di area perbelanjaan, pelataran masjid, hingga jalan-jalan sekitar tempat ibadah, keberadaan pengemis asal Pakistan terlihat jelas. Ironisnya, praktik ini tidak dilakukan secara acak. Aparat Saudi menilai pengemisan tersebut bersifat profesional dan terorganisasi, lengkap dengan pengaturan keberangkatan, pembiayaan tiket, hingga pembagian lokasi mengemis. Yang terjadi bukan lagi soal individu miskin, melainkan sistem.

Arab Saudi Mulai Kehilangan Kesabaran

Pemerintah Arab Saudi sejak 2024 telah memperingatkan Pakistan bahwa penyalahgunaan visa umrah ini berpotensi mengganggu kenyamanan jamaah haji dan umrah lain. Bagi Saudi, tanah suci bukan ruang bebas untuk eksploitasi rasa iba.

Deportasi massal pun dilakukan. Pesannya jelas: ibadah tidak boleh dijadikan kedok untuk aktivitas ilegal. Langkah ini juga menjadi sinyal keras bahwa Arab Saudi ingin menjaga kesakralan ruang publik dan reputasi pengelolaan ibadah di mata dunia.

Jaringan Pengemis: Kemiskinan yang Diatur Rapi

Yang membuat fenomena ini terasa lebih mengganggu adalah fakta bahwa banyak pelaku tidak berangkat sendirian. Mereka dibantu jaringan yang mengurus visa, tiket, bahkan arahan lokasi.

Ini bukan lagi cerita “nasib buruk di negeri orang”, melainkan industri kemiskinan lintas negara. Di titik ini, empati bercampur dengan kemarahan: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari penderitaan ini?

Upaya Pakistan: Terlambat tapi Terpaksa Tegas

Pemerintah Pakistan akhirnya bergerak. Melalui Federal Investigation Agency (FIA), ribuan warga dimasukkan ke dalam Exit Control List (ECL). Sepanjang 2025, lebih dari 66.000 penumpang diturunkan paksa dari pesawat demi mencegah pengemisan dan migrasi ilegal.

Pejabat FIA mengakui praktik ini telah mencoreng citra Pakistan secara global. Di mata dunia, ini bukan sekadar isu sosial, tapi masalah kredibilitas negara.

Bukan Hanya Arab Saudi, Ini Masalah Global

Fenomena pengemis terorganisasi asal Pakistan ternyata tidak hanya terjadi di Arab Saudi. Kasus serupa juga muncul di negara lain, menandakan bahwa ini adalah masalah struktural, bukan insiden tunggal.

Di satu sisi ada negara tujuan yang ingin menjaga ketertiban. Di sisi lain ada warga yang terdesak ekonomi. Dan di tengahnya, ada jaringan gelap yang terus hidup dari celah sistem.

Penutup

Kasus puluhan ribu warga Pakistan yang mengemis di Arab Saudi membuka realitas pahit: kemiskinan bisa menyamar sebagai ibadah, dan ibadah bisa dieksploitasi oleh sistem yang tidak manusiawi.

Ini bukan sekadar cerita deportasi. Ini cerita tentang dunia yang timpang, tentang negara yang terluka citranya, dan tentang manusia yang terjebak di antara iman dan kebutuhan perut.

Di tengah hiruk-pikuk global, kisah ini mengingatkan kita bahwa solusi tidak pernah sesederhana deportasi atau larangan terbang. Yang dibutuhkan adalah keberanian membongkar akar masalah, kemiskinan, jaringan ilegal, dan ketidakadilan yang terus diwariskan.

Ayo Menelusuri