Pola Makan Orang Pakistan: Bukan Soal Selera, Tapi Sistem Negara

Pola Makan Orang Pakistan: Bukan Soal Selera, Tapi Sistem Negara

Bagikan

Apa yang Dimakan Orang Pakistan Bukan Sekadar Soal Selera

Selama ini, makanan di Pakistan sering dibicarakan dengan nada yang sangat personal. Soal kebiasaan keluarga, tradisi turun-temurun, atau sekadar apa yang paling mengenyangkan di tengah harga yang terus naik. Jarang ada yang bertanya lebih jauh: mengapa makanan tertentu selalu ada di piring, sementara yang lain nyaris tak pernah muncul?

Padahal, kalau dilihat lebih dekat, piring makan orang Pakistan tidak dibentuk di dapur semata. Ia dibentuk jauh sebelumnya, di meja kebijakan, di gudang pengadaan, dan di ruang rapat para pelaku usaha pangan.

Gandum dan Rasa Aman yang Diciptakan Negara

Di Pakistan, gandum bukan hanya bahan makanan. Ia adalah rasa aman. Selama puluhan tahun, negara hadir memastikan gandum selalu ada dan selalu terjangkau. Pemerintah membeli hasil panen petani, menetapkan harga minimum, dan mendistribusikan tepung bersubsidi ke masyarakat.

Kebijakan ini pernah menjadi penyelamat di masa sulit. Banyak keluarga bisa tetap makan saat krisis datang. Tapi seperti banyak kebijakan darurat lainnya, yang awalnya solusi perlahan berubah menjadi kebiasaan permanen.

Ketika gandum terus dijaga, pasar pun belajar. Petani memilih gandum karena paling aman. Pabrik makanan fokus ke produk berbasis tepung. Pedagang menjadikannya barang utama. Lama-kelamaan, masyarakat pun tumbuh dengan satu keyakinan sederhana: makan itu ya pasti pakai gandum.

Ketergantungan yang Tak Terasa

Masalahnya, ketergantungan jarang terasa sampai suatu hari ia mulai rapuh. Perubahan iklim, air tanah yang menipis, tanah yang lelah, dan biaya produksi yang makin mahal pelan-pelan menekan produktivitas gandum Pakistan.

Namun, respons yang muncul sering kali masih sama: mempertahankan pola lama. Padahal, dari sudut pandang ekonomi, terlalu bergantung pada satu bahan pangan adalah taruhan besar. Sekali terguncang, dampaknya terasa ke mana-mana ke harga, ke anggaran negara, dan ke dapur rumah tangga.

Diversifikasi sering dianggap urusan gaya hidup sehat. Padahal, bagi negara dan pelaku usaha, ia adalah soal bertahan dari risiko.

Beras: Kaya di Luar Negeri, Biasa di Rumah Sendiri

Pakistan dikenal dunia sebagai pengekspor beras. Namun anehnya, di dalam negeri, beras belum benar-benar diberi ruang sebagai pilihan yang setara dengan gandum. Inovasi beras lebih banyak diarahkan ke pasar luar negeri, sementara konsumen dalam negeri dibiarkan dengan pilihan yang terbatas.

Padahal, bagi rumah tangga perkotaan yang waktunya semakin sempit, produk beras yang praktis dan siap masak bisa menjadi alternatif yang masuk akal. Mengembangkan konsumsi beras bukan berarti mengancam gandum. Ini soal memberi masyarakat lebih banyak pilihan, tanpa memaksa.

Kacang-kacangan yang Selalu Kurang

Cerita lain datang dari lentil dan kacang-kacangan. Meski kondisi alam Pakistan memungkinkan, negara ini masih mengimpor sebagian besar kebutuhannya. Bukan karena orang enggan makan lentil, melainkan karena sistemnya tak pernah benar-benar dibangun.

Benih kurang didukung, petani minim pendampingan, dan industri pengolahan berjalan setengah hati. Padahal, dengan sedikit sentuhan, pembersihan yang baik, kemasan rapi, dan distribusi yang efisien, kacang-kacangan bisa menjadi pilihan pangan yang terjangkau sekaligus bernilai ekonomi tinggi.

Sayuran Mahal, Bukan Karena Langka

Sayuran sering dianggap makanan tambahan, bukan bagian utama dari piring. Harganya naik turun, kualitasnya tak selalu konsisten. Masalahnya bukan pada petani semata, tapi pada perjalanan panjang dari kebun ke meja makan.

Banyak hasil panen rusak di jalan karena kurangnya penyimpanan dingin dan distribusi yang rapi. Semua kebocoran itu akhirnya dibayar oleh konsumen.

Bukan Soal Disiplin, Tapi Soal Sistem

Menyalahkan masyarakat atas pilihan makan mereka adalah jalan pintas yang keliru. Orang memilih makanan yang paling masuk akal bagi hidup mereka. Murah, mudah ditemukan, dan tidak merepotkan.

Kalau gandum terus mendominasi, itu karena sistem membuatnya paling rasional.

Perusahaan besar sebenarnya mulai melihat perubahan. Kota tumbuh, waktu makin sempit, dan kebutuhan akan makanan praktis yang lebih beragam semakin nyata. Mengembangkan produk berbasis kacang, sayuran, dan olahan sederhana bukan sekadar wacana sosial, tapi peluang bisnis yang nyata.

 

Peran negara tetap penting, tapi perubahan tak harus memutus yang lama. Mengurangi ketergantungan berlebihan pada gandum, memberi ruang pada tanaman lain, dan membenahi distribusi pangan bisa membuka jalan bagi pasar untuk bergerak sendiri.

Ketika pilihan yang beragam menjadi terjangkau dan mudah diakses, masyarakat akan menyesuaikan tanpa perlu dihakimi.

Penutup

Apa yang dimakan orang Pakistan hari ini bukan kebetulan. Ia adalah hasil dari kebijakan, keputusan bisnis, dan kebiasaan yang dibentuk perlahan. Melihatnya dari sudut pandang ini membantu kita berhenti menyalahkan individu dan mulai bertanya pada sistem.

Piring makan bukan hanya soal rasa. Ia adalah cermin dari bagaimana sebuah negara mengatur pangannya. Dan perubahan paling masuk akal selalu dimulai bukan dari ceramah, tapi dari pilihan yang dibuat lebih mungkin.

Ayo Menelusuri