Dari Akuntan ke Desainer : Zubair Shah dan Fashion Pakistan yang Menolak Mati

Dari Akuntan ke Desainer : Zubair Shah dan Fashion Pakistan yang Menolak Mati

Bagikan

Di saat banyak desainer memilih jalan aman, mengulang siluet lama, bermain warna netral, dan menunggu undangan fashion week, Zubair Shah justru melawan arus. Bukan hanya soal desain yang tak biasa, tetapi juga soal keberanian mengaitkan fashion dengan isu sosial yang sering dihindari industri.

Lima tahun lalu, Zubair Shah bukanlah siapa-siapa di dunia mode. Ia seorang akuntan yang hidupnya berkutat pada angka dan laporan keuangan. Lalu pandemi Covid-19 datang, mengguncang stabilitas bisnis, menutup panggung-panggung mode, dan memaksa industri kreatif untuk beradaptasi atau mati. Di tengah kekacauan itulah, Zubair mengambil keputusan yang oleh banyak orang dianggap nekat: meninggalkan dunia akuntansi dan meluncurkan brand menswear secara online. Keputusan itu, kini, justru menjadi titik balik hidupnya.

Melawan Arus Konvensi

Zubair Shah bukan tipikal desainer yang bermain aman. Ia terang-terangan mengaku tertarik pada material mentah dan konsep yang menantang pakem mode arus utama. Acrylic sheets, multi-button detailing, gaun transformasi, hingga cocktail dress dramatis menjadi bagian dari kamus kreatifnya.

Dalam koleksinya, publik bisa menemukan sherwani pria dengan ornamen fauna, bustier emas burnished, rompi bertumpuk rantai emas, hingga power suit warna permen yang menabrak stereotip busana formal Pakistan. Ia bahkan menawarkan tafsir baru safari suit untuk Gen Z—lebih berani, lebih eksperimental, dan jauh dari kesan kolonial yang kaku.

“Saya selalu tertarik pada hal yang tidak terduga,” ujar Zubair. “Fashion seharusnya memancing reaksi, bukan sekadar diterima dengan anggukan.”

Namun saat menggarap koleksi berbasis warisan budaya dan craftsmanship, ia mengakui mengambil inspirasi dari nama-nama besar seperti Sabyasachi Mukherjee dan Hasan Shehryar Yasin (HSY). Bukan untuk meniru, melainkan untuk menangkap cara mereka menghadirkan sejarah, kemewahan, dan identitas Asia Selatan ke dalam busana modern.

Muse, Panggung, dan Politik Visual

Setiap desainer punya muse, dan bagi Zubair Shah, Abeera Khan adalah representasi energi yang ia cari. Cara berjalan di catwalk, gestur tubuh, hingga ekspresi wajahnya dianggap mampu “menghidupkan” busana.

Tak hanya Abeera, model pria Aasif Rehmaan juga menjadi figur penting dalam perjalanan kreatifnya. Di mata Zubair, Aasif bukan sekadar model, tetapi simbol profesionalisme dan respek di industri yang sering kali penuh ego.

Menariknya, Zubair kini tengah merancang koleksi baru yang sepenuhnya dibangun di sekitar kepribadian muse-nya, sebuah pendekatan yang jarang dilakukan di Pakistan, di mana model sering dianggap pelengkap, bukan pusat narasi.

Apakah Fashion Pakistan Sedang Sekarat?

Ya, karena sebelum pandemi, Pakistan memiliki kalender mode yang jelas dan hidup. Karachi dan Lahore rutin menggelar fashion week besar seperti PFDC Fashion Week, Fashion Pakistan Week, dan HUM Showcase. Kini, sebagian besar tinggal kenangan. Yang tersisa hanyalah Hum Bridal Couture Week, TDAP Fashion Week, dan Laam Fashion Week, yang dijanjikan kembali hadir Januari 2026.

Namun tidak, karena di luar panggung resmi, banyak desainer dan model tetap bertahan lewat platform independen, meski minim dukungan institusional.

Fashion sebagai Alat Perlawanan Sosial

Di sinilah Zubair Shah berbeda, alih-alih mengejar validasi elit industri, ia memilih menjadikan fashion sebagai medium advokasi. Ia bekerja sama dengan Depilex Smileagain Foundation milik Masarrat Misbah, merancang busana untuk penyintas serangan asam dan membawa mereka ke catwalk—sebuah langkah yang menuai pujian sekaligus perdebatan.

Ia juga mendukung Angeline Malik saat menjalani pengobatan kanker, menjadikannya model botak pertama di Pakistan yang berjalan di runway. Sebuah momen yang menantang standar kecantikan konvensional dan membuka percakapan tentang tubuh, penyakit, dan penerimaan diri.

Tak berhenti di situ, Zubair aktif memperkenalkan talenta muda dari sekolah mode seperti Indus University dan MITE. Kini, ia bahkan tengah menyiapkan studio desainnya sendiri di Tariq Road, salah satu pusat komersial paling sibuk di Karachi.

Lebih dari Sekadar Busana

Bagi Zubair Shah, fashion bukan soal tren musiman atau tepuk tangan sesaat. Ini soal sikap.

“Industri ini memang keras,” katanya kepada generasi muda yang ingin masuk dunia mode. “Tapi di dalamnya juga ada orang-orang yang akan membantumu tumbuh. Kalau kamu yakin, teruslah berjuang.”

Tak heran jika sosok yang paling ia kagumi adalah Shah Rukh Khan—bukan hanya karena karier gemilangnya, tetapi karena etika, filantropi, dan caranya memperlakukan perempuan serta publik.

Di tengah industri fashion Pakistan yang kehilangan banyak panggung, Zubair Shah justru membangun panggungnya sendiri. Mungkin bukan yang paling glamor, tetapi jelas paling jujur.

Dan justru karena itulah, ia sulit diabaikan.

Ayo Menelusuri