Langit Pakistan akan kembali menjadi sorotan dunia pada awal Januari 2026. Bukan karena konflik politik atau gejolak ekonomi, melainkan karena supermoon pertama tahun 2026 yang dipastikan akan terlihat jelas pada 3 dan 4 Januari, menurut Space and Upper Atmosphere Research Commission (Suparco).
Fenomena ini dikenal sebagai Wolf Moon, bulan purnama pertama dalam kalender tahunan yang bertepatan dengan posisi bulan paling dekat dengan Bumi. Akibatnya, bulan akan tampak lebih besar hingga 14 persen dan lebih terang hampir 30 persen dibandingkan bulan purnama biasa.
Namun, di balik kekaguman visual itu, muncul pertanyaan yang lebih besar dan agak kontroversial: mengapa fenomena langit justru menjadi headline nasional, sementara isu teknologi, ekonomi, dan inovasi Pakistan masih tertatih?
Apa Itu Supermoon dan Mengapa Penting?
Supermoon terjadi ketika fase purnama bertepatan dengan perigee, titik terdekat bulan dengan Bumi dalam orbit elipsnya. Pada supermoon 3 Januari 2026, jarak Bumi–bulan diperkirakan hanya 362.312 kilometer, membuatnya tampak 6–7 persen lebih besar dan hingga 10 persen lebih terang.
Menurut Suparco, supermoon ini akan terbit pukul 17.51 waktu Pakistan (PKT) dengan tingkat iluminasi mencapai 99,8 persen, dan dapat disaksikan sepanjang malam hingga 4 Januari.
Bagi masyarakat umum, ini adalah fenomena langit yang indah. Tapi bagi negara dengan lembaga antariksa resmi, ini seharusnya menjadi panggung edukasi teknologi dan sains, bukan sekadar pengumuman observasional.
Antara Edukasi Sains dan Romantisasi Fenomena
Pakistan bukan negara asing dalam urusan antariksa. Suparco telah berdiri sejak 1961 dan memiliki sejarah panjang dalam penelitian atmosfer dan satelit. Namun ironisnya, setiap kali fenomena langit terjadi, narasi yang muncul cenderung romantis, bukan strategis.
Supermoon kembali menjadi viral. Media ramai. Media sosial penuh foto bulan. Tapi diskusi tentang investasi teknologi antariksa, riset astronomi, dan dampak ekonomi sektor sains nyaris absen.
Di negara-negara maju, fenomena seperti supermoon sering dimanfaatkan untuk:
- Meningkatkan minat STEM (Science, Technology, Engineering, Math)
- Mendorong wisata astronomi
- Memperkuat branding teknologi nasional
Di Pakistan? Fenomena ini lebih sering berhenti sebagai berita satu hari.
Potensi Ekonomi yang Terlewat
Fenomena supermoon sebenarnya punya potensi ekonomi nyata. Negara seperti Jepang dan Korea Selatan mengemas peristiwa langit sebagai event wisata berbasis teknologi, lengkap dengan observatorium publik, merchandise edukatif, hingga siaran digital interaktif.
Pakistan, dengan langit malam yang relatif minim polusi cahaya di banyak wilayah, justru memiliki keunggulan alamiah. Tapi tanpa strategi teknologi dan bisnis, keunggulan ini menguap begitu saja.
Supermoon Januari 2026 adalah penutup siklus supermoon yang dimulai Oktober 2025, setelah sebelumnya muncul pada:
- 7 Oktober 2025
- 5 November 2025 (Beaver Supermoon)
- 4–5 Desember 2025
Siklus berikutnya baru akan dimulai pada November 2026. Artinya, ada jeda waktu panjang untuk merancang pendekatan yang lebih visioner. Pertanyaannya: apakah Pakistan akan belajar?
Teknologi Antariksa: Di Mana Posisi Pakistan?
Di tengah perlombaan global teknologi antariksa—dari SpaceX hingga program bulan India—Pakistan masih berkutat pada fungsi dasar observasi. Padahal, minat publik jelas ada. Setiap fenomena langit selalu ramai.
Ini menunjukkan satu hal penting: pasarnya ada, tapi industrinya belum dibangun.
Tanpa investasi serius pada riset, startup teknologi antariksa, dan edukasi publik berbasis sains, fenomena seperti supermoon akan terus menjadi tontonan, bukan peluang.
Penutup
Supermoon pertama 2026 memang layak dinikmati. Ia indah, langka, dan mengingatkan manusia akan skala semesta. Tapi di saat yang sama, ia juga menjadi cermin diam tentang bagaimana sebuah negara memaknai sains dan teknologi.
Apakah supermoon hanya akan menjadi pelarian visual di tengah realitas sulit? Ataukah menjadi titik awal untuk membangun ekosistem teknologi dan sains yang lebih serius di Pakistan?
Langit telah memberi panggungnya. Sekarang, giliran Pakistan menentukan: menatap atau melangkah lebih jauh.



