Pakistan kini tengah mengalami transformasi digital besar. Pemerintah dan sektor swasta mengadopsi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk memodernisasi layanan publik, memperluas basis pajak, dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ide ini tampak menjanjikan. Namun tahun 2026 justru menunjukkan bahwa ambisi digital harus berhadapan dengan realitas risiko yang keras.
Masalahnya bukan sekadar teknologi baru.
Ini soal sejauh mana Pakistan benar-benar siap menghadapi kontestasi digital yang melibatkan ancaman siber, penipuan finansial, dan kerangka regulasi yang belum matang.
Bagaimana AI Mempercepat Transformasi, namun Menyebabkan Bahaya Baru
Potensi AI memang nyata. Pakar teknologi menyebut bahwa AI bisa membantu:
- meningkatkan efisiensi layanan pemerintah,
- mempercepat pemetaan pajak melalui analisis citra satelit di Punjab dan KP,
- memantau lingkungan secara real-time dengan dashboard pintar,
- menganalisis data urban untuk perencanaan kota yang lebih efektif.
Namun, AI juga menjadi alat yang disalahgunakan. Pelaku penipuan kini memakai teknologi ini untuk membuat:
- phishing yang lebih meyakinkan,
- platform investasi palsu,
- scam yang mengaku dari bank atau penyedia layanan populer.
Jenis penipuan ini lebih cepat menyebar dan lebih sulit dilacak ketimbang scam tradisional. Efeknya serius: menurut Global State of Scams Report 2025, Pakistan diperkirakan kehilangan sekitar USD 9 miliar per tahun akibat penipuan digital, jumlah yang bahkan lebih besar daripada angka bantuan IMF baru-baru ini.
Ketergantungan Teknologi vs Kedaulatan Keamanan
Langkah pemerintah menetapkan Pakistan Security Standards (PSS) dan peraturan wajib lainnya merupakan reaksi terhadap ancaman ini. Mulai dari IT publik sampai sistem kriptografi swasta, semuanya harus mematuhi standar baru atau menghadapi sanksi hukum dan eksklusi dari kontrak pemerintah.
Namun inilah dilema terbesar:
– Di satu sisi, aturan ini diperlukan untuk memastikan keamanan data dan infrastruktur digital.
– Di sisi lain, ketergantungan pada teknologi dan sistem yang besar serta kompleks tanpa fondasi lokal yang kuat dapat menempatkan Pakistan dalam posisi yang rentan secara strategis.
Artinya, saat teknologi berkembang cepat, kedaulatan keamanan digital juga ikut dipertaruhkan. Bisnis dan pemangku kepentingan kini harus memilih antara mematuhi aturan ketat atau berisiko ditinggalkan di era digital yang terus bergerak maju.
Regulasi Baru: Dari Opsional ke Wajib dan Mengikat
Pakistan tidak lagi berada dalam fase rekomendasi atau panduan umum. Tahun 2026 menjadi titik balik karena regulasi menjadi wajib dan secara hukum dapat ditegakkan. Regulasi yang semula bersifat prinsip kini berubah menjadi ketentuan yang harus dipatuhi jika ingin bertahan di pasar.
Beberapa regulasi penting yang meningkat termasuk:
- Pakistan Security Standards (PSS): wajib untuk semua sektor publik dan swasta.
- Teknology Risk Management Framework oleh State Bank: integrasi cyber risk di level dewan direksi.
- CTDISR-2025 PTA: aturan ketat pelaporan insiden dan akuntabilitas formal.
- Rancangan Personal Data Protection Bill: kewajiban notifikasi breach dalam 72 jam dan lokalisasi data.
Regulasi ini mungkin akan membantu, tetapi juga menimbulkan beban bagi perusahaan kecil dan menengah yang belum punya kapasitas besar untuk compliance.
Efek Ekonomi: Ketidakpercayaan dan Ancaman Investasi
Kerusakan reputasi digital bukan cuma soal kehilangan uang. Itu dapat memengaruhi kepercayaan investor, arus modal asing, dan ekosistem startup. Bisnis global kini melihat keamanan digital sebagai bagian dari pemeriksaan due diligence. Sistem yang rapuh bisa menjadi alasan investor untuk enggan masuk ke pasar Pakistan.
Sementara itu, laporan lain menunjukkan bahwa meskipun Pakistan berupaya menarik investasi digital besar, termasuk melalui acara seperti Digital Foreign Direct Investment Forum 2025, tantangan infrastruktur, regulasi, dan trust tetap ada.
Kesadaran Publik Masih Belum Memadai
Regulasi dan teknologi hanyalah bagian dari solusi. Komponen lain yang penting adalah kesadaran publik. Banyak warga masih tidak tahu cara mengenali AI-generated scam, phishing, atau penipuan lainnya. Kampanye pendidikan digital yang kuat sangat diperlukan.
Sebagai perbandingan, op-ed lain menyatakan bahwa Pakistan mengalami kerugian jutaan dolar setiap tahun karena orang tidak menyadari cara melindungi data pribadi mereka, menghindari situs palsu, dan menjaga kredensial mereka tetap aman.
Tanpa kesadaran yang lebih tinggi, setiap teknologi canggih akan tetap rentan terhadap penyalahgunaan.
Bisnis di Tengah Ancaman
Perusahaan besar, startup teknologi, dan lembaga finansial harus segera menempatkan keamanan digital sebagai prioritas utama. Keputusan ini bukan hanya tentang menghindari sanksi. Ini juga tentang menjaga reputasi, kepercayaan pelanggan, dan kelangsungan bisnis itu sendiri.
Organisasi yang sebelumnya menganggap cyber risk sebagai “isu teknis IT” kini dipaksa melihatnya sebagai risiko strategis bisnis utama.
Penutup
AI dan digitalisasi bisa membawa Pakistan ke puncak inovasi dan efisiensi dalam pemerintahan, layanan publik, dan bisnis. Tetapi tanpa sistem keamanan yang kuat, kesadaran publik yang tinggi, dan regulasi yang adil, ambisi itu bisa berakhir sebagai pintu terbuka bagi scam, fraud, dan keruntuhan kepercayaan ekonomi.
Tahun 2026 bukan hanya tentang peluang digital.
Ini adalah ujian nyata apakah Pakistan bisa menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan, sehingga bukan hanya berkembang, tetapi aman, berkelanjutan, dan tahan terhadap badai digital yang semakin kompleks.



