Pakistanindonesia.com – Ada satu ironi dalam perdagangan Indonesia-Pakistan. Nilainya sudah mencapai US$4,1 miliar, dengan ekspor Indonesia ke Pakistan mencapai US$3,5 miliar pada 2024, tetapi sebagian besar perhatian masih tertuju pada komoditas yang sudah lama menjadi andalan. Padahal, jika ingin membuat ekspor Indonesia ke Pakistan tumbuh lebih besar, hanya mengandalkan produk yang sama bisa menjadi jebakan.
Contohnya sangat jelas pada sawit. Nilai ekspor sawit Indonesia ke Pakistan mencapai US$2,77 miliar pada 2025, tumbuh 27,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka itu menunjukkan permintaan yang kuat, tetapi sekaligus memperlihatkan betapa besarnya ketergantungan perdagangan pada satu kelompok komoditas. Pertanyaannya sekarang: bagaimana Indonesia bisa menaikkan nilai ekspor tanpa sekadar menunggu volume sawit bertambah?
1. Jangan Hanya Jual Komoditas, Naikkan Nilai Produknya
Cara pertama adalah memperbesar nilai tambah. Indonesia sudah memiliki basis industri yang memungkinkan produk dikembangkan lebih jauh sebelum dikirim ke pasar Pakistan. Pemerintah sendiri telah mendorong hilirisasi dan perluasan pasar ekspor sebagai bagian dari strategi perdagangan Indonesia.
Sawit menjadi contoh paling mudah. Pakistan merupakan tujuan ekspor minyak sawit terbesar ketiga Indonesia setelah China dan India. Daripada hubungan dagang hanya bertumpu pada bahan mentah atau produk dasar, ruang bisnis dapat diperluas melalui produk turunan seperti oleokimia, bahan pangan olahan, produk industri, dan bahan pendukung manufaktur. Dengan begitu, peningkatan nilai ekspor tidak semata-mata bergantung pada kenaikan volume komoditas.
Strategi serupa dapat diterapkan pada sektor lain. Produk manufaktur, bahan kimia, tekstil, makanan olahan, komponen industri, hingga produk berbasis kayu memiliki peluang untuk dikembangkan sesuai kebutuhan pasar. Kuncinya adalah menjual produk dengan fungsi dan nilai lebih tinggi, bukan sekadar menawarkan harga paling murah.
2. Diversifikasi Produk Sebelum Pesaing Mengambil Celah
Cara kedua mungkin justru yang paling penting: jangan membuat hubungan perdagangan Indonesia-Pakistan terlalu bergantung pada sedikit produk. Diversifikasi berarti mencari barang yang memang dibutuhkan pasar Pakistan sekaligus memiliki kemampuan produksi dan pasokan yang kuat di Indonesia.
Pemerintah Indonesia sendiri sejak beberapa tahun terakhir memasukkan Pakistan sebagai salah satu pasar nontradisional yang perlu digarap. Kemendag menyebut perluasan pasar dan peningkatan nilai tambah sebagai bagian dari upaya memperkuat ekspor.
Peluangnya cukup luas. Produk tekstil dan pakaian Indonesia, misalnya, memiliki basis industri yang kuat. Pada 2025, ekspor tekstil dan produk tekstil Indonesia mencapai US$12,08 miliar, tumbuh 3,55 persen secara tahunan. Ini menunjukkan kapasitas industri yang bisa menjadi modal untuk mencari pasar yang lebih beragam, termasuk melalui produk tertentu yang sesuai kebutuhan Pakistan.
Diversifikasi juga membuat eksportir tidak terlalu rentan terhadap perubahan harga satu komoditas. Jika satu sektor mengalami tekanan, sektor lain masih dapat menjaga pertumbuhan perdagangan. Bagi Indonesia, inilah perbedaan antara sekadar memiliki pasar ekspor dan benar-benar membangun portofolio ekspor.
3. Manfaatkan PTA, Bukan Sekadar Menunggu Buyer
Cara ketiga berkaitan dengan fasilitas perdagangan. Salah satu peluang yang perlu diperhatikan adalah D-8 Preferential Trade Agreement atau D-8 PTA. Pakistan mulai mengoperasikan PTA tersebut pada 1 Januari 2025, dan Kementerian Perdagangan Indonesia menilai implementasinya dapat memperkuat integrasi ekonomi negara-negara D-8.
Namun, perjanjian perdagangan tidak otomatis membuat ekspor melonjak. Pelaku usaha tetap harus mengetahui produk mana yang mendapatkan preferensi, aturan asal barang, tarif yang berlaku, serta dokumen yang dibutuhkan. Tanpa memahami detail tersebut, fasilitas perdagangan hanya akan menjadi angka di atas kertas.
Di sinilah eksportir perlu menggabungkan riset pasar dengan strategi business matching. Kemendag telah mendorong hubungan langsung antara pelaku usaha Indonesia dan calon pembeli Pakistan, termasuk pada sektor sawit. Pendekatan ini penting karena ekspor B2B tidak berhenti pada menemukan orang yang tertarik membeli, tetapi mencari importir atau distributor yang memiliki kebutuhan berulang dan kemampuan transaksi yang jelas.
Masalahnya Bukan Pasar Pakistan
Jika melihat angkanya, masalah utama bukan karena Pakistan tidak membutuhkan produk Indonesia. Nilai perdagangan bilateral telah mencapai US$4,1 miliar dan ekspor Indonesia ke Pakistan sudah berada pada miliaran dolar. Masalah berikutnya adalah bagaimana memperluas jenis produk dan meningkatkan nilai setiap transaksi.
Bahkan pada sektor sawit, pemerintah Indonesia menyatakan tetap ingin menjaga Pakistan sebagai pasar penting sekaligus membuka peluang kerja sama di luar minyak sawit. Pesan ini cukup jelas: pasar sudah ada, tetapi ruang pertumbuhannya tidak seharusnya berhenti pada produk yang sama.
Jika strategi diversifikasi berjalan, Indonesia bisa mengubah hubungan dagang yang selama ini kuat pada komoditas menjadi hubungan yang lebih luas dengan industri Pakistan. Dari bahan baku menuju produk bernilai tambah, dari transaksi satu kali menuju kontrak B2B, dan dari perdagangan komoditas menuju rantai pasok.
Penutup
Tiga cara meningkatkan ekspor Indonesia ke Pakistan pada akhirnya memiliki satu benang merah: Indonesia harus menjual lebih banyak nilai, bukan hanya lebih banyak barang.
Sawit tetap penting karena sudah membuktikan besarnya permintaan. Namun, pertumbuhan jangka panjang dapat datang dari hilirisasi, diversifikasi produk, manufaktur, tekstil, pangan olahan, serta pemanfaatan fasilitas perdagangan yang tersedia.
Dengan perdagangan bilateral US$4,1 miliar, fondasi pasarnya sudah terbentuk. Tantangan berikutnya justru lebih menarik: bisakah Indonesia membuat Pakistan membeli lebih banyak produk bernilai tambah, bukan hanya lebih banyak komoditas?
Sumber Referensi
- Kementerian Perdagangan RI – Pertemuan Wamendag RI dengan Dubes Pakistan untuk Indonesia
https://www.kemendag.go.id/berita/foto/pertemuan-wamendag-ri-dengan-dubes-pakistan-untuk-indonesia - Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional – Pertemuan Dirjen PEN dengan GAPKI
https://ditjenpen.kemendag.go.id/berita/pertemuan-dirjen-pengembangan-ekspor-nasional-dengan-gapki - Kementerian Perdagangan RI – Wamendag RI pada Pakistan Edible Oil Conference
https://www.kemendag.go.id/berita/foto/wamendag-ri-pada-pakistan-edible-oil-conference - Kementerian Perdagangan RI – Ekspor Nonmigas dan Perluasan Pasar
https://www.kemendag.go.id/index.php/berita/pojok-media/ekspor-nonmigas-2024-ditarget-rp4700-t-cpo-masih-jadi-tumpuan - Kementerian Perdagangan RI – Ekosistem Tekstil Indonesia
https://www.kemendag.go.id/index.php/berita/pojok-media/mendag-ekosistem-tekstil-indonesia-berdaya-saing-di-dalam-luar-negeri