3 Alasan Indonesia-Pakistan Makin Strategis

3 Alasan Indonesia-Pakistan Makin Strategis

3 Alasan Indonesia-Pakistan Makin Strategis
Table of Contents

Pakistanindonesia.com – Hubungan Indonesia dan Pakistan memasuki fase yang menarik. Nilai perdagangan kedua negara telah mencapai sekitar US$4,1 miliar, sementara ekspor Indonesia ke Pakistan mencapai US$3,5 miliar pada 2024. Angka tersebut menunjukkan bahwa hubungan ekonomi keduanya bukan lagi sekadar kerja sama diplomatik, tetapi mulai memiliki kepentingan bisnis yang semakin besar.

Yang membuat situasinya lebih menarik, kedua negara sedang mendorong hubungan perdagangan ke tahap berikutnya. Pada Januari 2026, Indonesia dan Pakistan membentuk Joint Trade Committee (JTC) dan membahas peningkatan perjanjian perdagangan yang ada menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) yang ditargetkan pada 2027. Jika proses tersebut berjalan sesuai rencana, ruang kerja sama kedua negara dapat menjadi jauh lebih luas.

1. Perdagangan Sudah Punya Fondasi Kuat

Alasan pertama terletak pada fondasi perdagangan yang sebenarnya sudah terbentuk sejak lama. Indonesia dan Pakistan memiliki Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IP-PTA) yang ditandatangani pada 2012 dan mulai berlaku pada September 2013. Perjanjian tersebut kemudian diperbarui melalui protokol perubahan yang mulai diimplementasikan pada Maret 2019. Artinya, hubungan dagang kedua negara tidak dimulai dari nol karena sudah memiliki kerangka perdagangan preferensial.

Kerangka tersebut juga membuka peluang bagi produk Indonesia untuk masuk ke pasar Pakistan dengan fasilitas tarif tertentu. Kementerian Perdagangan mencatat bahwa setelah implementasi perjanjian, produk kelapa sawit Indonesia mampu memperbesar pangsa pasarnya di Pakistan. Bagi Indonesia, Pakistan juga dapat menjadi salah satu pintu menuju pasar Asia Selatan yang lebih luas. Karena itu, hubungan dagang ini memiliki dimensi yang lebih besar daripada sekadar transaksi ekspor-impor dua negara.

2. Pakistan Bisa Menjadi Pintu Masuk Asia Selatan

Pakistan memiliki pasar domestik yang besar sekaligus posisi geografis yang menghubungkannya dengan kawasan Asia Selatan. Kondisi tersebut menciptakan peluang bagi perusahaan Indonesia yang ingin melakukan diversifikasi pasar di luar tujuan ekspor tradisional. Produk seperti komoditas pertanian, pangan, minyak nabati, serta berbagai produk manufaktur dapat memiliki ruang untuk dikembangkan melalui hubungan bisnis yang lebih kuat. Pemerintah Indonesia sendiri pada 2026 kembali mendorong forum bisnis yang mempertemukan eksportir Indonesia dengan importir Pakistan, termasuk untuk rempah-rempah dan produk pertanian.

Peluangnya tidak hanya berada pada perdagangan barang. Dalam pertemuan bilateral Januari 2026, Indonesia juga mengusulkan penguatan kerja sama sektor jasa, termasuk kesehatan. Jika hubungan ekonomi berkembang menuju CEPA, pembahasan dapat mencakup lebih banyak bidang dan menciptakan ruang baru bagi investasi serta kerja sama perusahaan. Namun, peluang tersebut tetap bergantung pada kemampuan pelaku usaha mengatasi hambatan perdagangan, regulasi, standar produk, logistik, dan perbedaan kondisi pasar.

3. CEPA Bisa Mengubah Skala Hubungan Ekonomi

Faktor ketiga adalah agenda peningkatan kerja sama menuju CEPA. Pada Januari 2026, pemerintah Indonesia dan Pakistan membahas pembentukan JTC sebagai wadah untuk menangani hambatan perdagangan sekaligus mempercepat peningkatan hubungan ekonomi. Pemerintah Indonesia juga menyampaikan rencana untuk memperluas PTA menuju CEPA pada 2027. Jika terealisasi, perubahan tersebut berpotensi memberikan kerangka yang lebih luas dibandingkan perjanjian perdagangan preferensial yang hanya mencakup produk tertentu.

Perubahan itu penting karena hubungan ekonomi modern tidak hanya bergantung pada ekspor barang. Investasi, jasa, fasilitasi perdagangan, kemitraan perusahaan, dan rantai pasok juga semakin menentukan daya tarik hubungan ekonomi antarnegara. Indonesia dan Pakistan sudah memiliki modal awal berupa hubungan diplomatik sejak 1950 serta kerja sama dalam forum seperti D-8. Tantangan berikutnya adalah mengubah kedekatan diplomatik tersebut menjadi kerja sama ekonomi yang lebih seimbang, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha.

Penutup

Indonesia dan Pakistan memiliki tiga fondasi yang membuat hubungan keduanya semakin relevan: perdagangan yang sudah mencapai miliaran dolar, peluang akses pasar Asia Selatan, serta agenda peningkatan kerja sama menuju CEPA. Namun, angka perdagangan besar belum otomatis berarti seluruh potensi sudah dimanfaatkan. Masih terdapat pekerjaan rumah terkait hambatan perdagangan, keseimbangan perdagangan, regulasi, dan diversifikasi produk.

Justru di titik itulah peluang baru muncul. Jika pemerintah dan pelaku usaha mampu memperkuat konektivitas bisnis, memperluas sektor kerja sama, serta memanfaatkan kerangka perdagangan yang tersedia, hubungan Indonesia-Pakistan dapat bergerak dari sekadar hubungan dagang menuju kemitraan ekonomi yang lebih luas.

Sumber Referensi

Last Updated: 30 September 2026, 09:18

Bagikan:

Search

Artikel Lainnya

Ayo Menelusuri