Pakistanindonesia.com – Pakistan punya masalah yang sekaligus bisa menjadi peluang bisnis: sektor pertaniannya sangat besar, tetapi belum seluruh rantai nilainya menghasilkan nilai tambah maksimal. Dalam Pakistan Economic Survey 2025–26, pertanian menyumbang 23,44 persen terhadap GDP Pakistan dan tumbuh 2,89 persen pada tahun fiskal tersebut. Di dalamnya, peternakan menjadi komponen terbesar dengan kontribusi 14,64 persen terhadap GDP dan pertumbuhan 3,75 persen. Angka ini menunjukkan bahwa agribisnis bukan sekadar aktivitas pedesaan, tetapi bagian penting dari ekonomi Pakistan.
Yang menarik, peluangnya tidak hanya berada di lahan pertanian. Ketika produksi pangan meningkat, kebutuhan terhadap pengolahan, penyimpanan, distribusi, teknologi, pembiayaan, hingga akses pasar ikut tumbuh. Pemerintah Pakistan sendiri pada 2026 menempatkan agri-value chains, ekspor pertanian, dan peningkatan produktivitas sebagai bagian dari agenda pertumbuhan berbasis ekspor. Artinya, pertanyaan bagi pelaku usaha bukan hanya apa yang diproduksi Pakistan, tetapi di mana nilai bisnis terbesar dapat diciptakan setelah produk keluar dari lahan dan peternakan.
1. Bisnis Peternakan dan Produk Susu
Sektor pertama yang sulit diabaikan adalah peternakan. Data Pakistan Economic Survey 2025–26 memperkirakan produksi susu mencapai 60,19 juta ton, sedangkan produksi daging sapi mencapai 2,63 juta ton dan daging kambing 854 ribu ton. Peternakan juga menyumbang 62,45 persen terhadap nilai tambah sektor pertanian Pakistan. Skala tersebut menciptakan ruang bagi bisnis pakan, kesehatan hewan, pengolahan susu, rantai dingin, hingga produk pangan berbasis susu.
Peluangnya semakin menarik ketika bisnis tidak berhenti pada penjualan produk segar. Susu dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, sementara daging membutuhkan proses pemotongan, pengemasan, penyimpanan, dan distribusi yang memenuhi standar. Pemerintah Pakistan pada 2026 juga menekankan transformasi sektor peternakan dan pengembangan ekspor daging. Dengan demikian, perusahaan yang mampu menghubungkan peternak dengan industri pengolahan dapat mengambil posisi penting dalam rantai nilai agribisnis.
2. Pengolahan Beras dan Pangan
Bisnis kedua adalah pengolahan pangan berbasis tanaman. Pakistan menghasilkan 9,99 juta ton beras pada 2025–26, naik 2,8 persen dari tahun sebelumnya. Selain beras, produksi gandum mencapai 29,61 juta ton dan tebu 89,45 juta ton. Besarnya produksi menyediakan bahan baku untuk penggilingan, pengemasan, makanan olahan, hingga distribusi.
Namun produksi besar tidak otomatis berarti nilai bisnis besar. Peluang justru muncul ketika produk dibuat lebih siap untuk pasar, baik domestik maupun ekspor. Beras premium dengan kemasan konsumen, produk pangan siap masak, tepung khusus, atau bahan pangan olahan dapat memiliki model bisnis yang berbeda dari penjualan komoditas curah. Di titik ini, kualitas, merek, standar keamanan pangan, dan jaringan distribusi menjadi sama pentingnya dengan volume produksi.
3. Buah dan Sayuran Bernilai Tambah
Bisnis ketiga berada pada komoditas yang terlihat sederhana tetapi memiliki ruang pengembangan besar. Pakistan Economic Survey 2025–26 mencatat kelompok tanaman lain tumbuh 2,43 persen, didukung kenaikan produksi sayuran 12,6 persen dan buah 2,8 persen. Pertumbuhan tersebut membuka kebutuhan terhadap pengumpulan hasil, sortasi, pengemasan, penyimpanan, dan distribusi yang lebih efisien.
Masalah utama produk segar adalah umur simpan dan kehilangan kualitas sebelum mencapai konsumen. Karena itu, bisnis cold storage, pengolahan buah, pengeringan, pembekuan, dan pengemasan dapat menjadi bagian penting dari rantai nilai. Peluang tersebut juga relevan bagi perusahaan yang ingin masuk ke perdagangan regional karena produk yang lebih tahan simpan lebih mudah didistribusikan. Jadi, bisnis buah dan sayuran bukan hanya soal bertani, tetapi bagaimana menjaga nilai produk setelah panen.
4. Perikanan dan Akuakultur
Bisnis keempat adalah perikanan dan akuakultur. Sektor perikanan Pakistan tumbuh 1,66 persen pada 2025–26, meningkat dari 1,43 persen pada tahun sebelumnya. Pemerintah Pakistan juga telah menempatkan pengembangan perikanan, akuakultur, pengolahan bernilai tambah, rantai dingin, dan standar kebersihan internasional sebagai bagian dari agenda pengembangan sektor tersebut.
Ini membuka peluang dari hulu hingga hilir. Budidaya ikan, pakan, fasilitas pendingin, pengolahan hasil laut, pengemasan, hingga logistik dapat menjadi mata rantai bisnis yang saling terhubung. Bahkan Kementerian Keuangan Pakistan menyebut ekspor makanan laut saat ini berada di sekitar US$500 juta dan pemerintah melihat ruang untuk meningkatkannya menuju US$2 miliar dalam beberapa tahun melalui kebijakan sektor perikanan dan akuakultur. Target tersebut merupakan sasaran kebijakan, bukan hasil yang sudah tercapai, tetapi menunjukkan arah pengembangan industrinya.
5. Agritech dan Jasa Penunjang Pertanian
Bisnis kelima justru tidak harus memiliki lahan. Agritech dapat masuk melalui teknologi irigasi, pemantauan tanaman, distribusi benih, layanan informasi pasar, pembiayaan, hingga solusi produktivitas petani. Data Pakistan Economic Survey 2025–26 menunjukkan penggunaan pupuk selama Juli–Maret mencapai sekitar 3,795 juta ton, naik 11,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menggambarkan besarnya aktivitas input pertanian yang dapat dilayani oleh berbagai perusahaan.
Digitalisasi juga semakin relevan karena pemerintah Pakistan sedang mendorong akses pembiayaan untuk pertanian dan UMKM. Pada Agustus 2026, Finance Division melaporkan persetujuan pembiayaan melalui sejumlah inisiatif telah meningkat dan pemerintah menargetkan perluasan pembiayaan pertanian serta UMKM dalam beberapa tahun mendatang. Bagi perusahaan, peluangnya bukan sekadar menjual aplikasi, tetapi membangun layanan yang menyelesaikan masalah nyata seperti produktivitas, akses modal, distribusi input, dan akses pasar.
Agribisnis Pakistan Tidak Hanya Soal Bertani
Lima sektor tersebut menunjukkan satu perubahan penting: agribisnis Pakistan semakin sulit dipahami hanya sebagai aktivitas menghasilkan bahan pangan. Nilai ekonomi juga berada pada proses setelah panen, pengolahan, penyimpanan, pembiayaan, teknologi, dan ekspor. Dengan pertanian menyumbang hampir seperempat GDP, perubahan kecil pada efisiensi rantai nilai dapat berdampak pada banyak pelaku ekonomi.
Namun peluang tidak berarti tanpa risiko. Produksi pertanian Pakistan tetap dipengaruhi cuaca, ketersediaan air, harga input, kualitas infrastruktur, dan akses pasar. Karena itu, bisnis yang masuk ke sektor ini perlu melihat rantai pasok secara menyeluruh, bukan sekadar mengejar komoditas yang sedang naik. Justru di antara berbagai hambatan tersebut terdapat ruang bagi perusahaan yang mampu memberikan solusi yang membuat produk lebih awet, lebih berkualitas, lebih mudah dipasarkan, dan lebih kompetitif.
Penutup
Lima bisnis agribisnis Pakistan yang memiliki ruang pertumbuhan adalah peternakan dan susu, pengolahan pangan, buah dan sayuran, perikanan serta akuakultur, dan agritech. Data terbaru menunjukkan bahwa sektor pertanian tetap menjadi bagian penting ekonomi Pakistan sekaligus sedang diarahkan menuju produktivitas dan ekspor bernilai tambah.
Bagi pelaku usaha, peluang terbesar mungkin bukan berada pada pertanyaan siapa yang menghasilkan komoditas paling banyak. Pertanyaan yang lebih menarik adalah siapa yang mampu mengambil nilai dari setiap tahap setelah komoditas tersebut dihasilkan. Di situlah agribisnis Pakistan dapat berubah dari sektor berbasis produksi menjadi jaringan bisnis yang menghubungkan petani, industri, teknologi, logistik, dan pasar global.
Sumber Referensi Sah
- Government of Pakistan – Pakistan Economic Survey 2025–26, Agriculture
https://www.finance.gov.pk/survey/chapter_26/2_Agriculture.pdf - Government of Pakistan – Highlights of Pakistan Economic Survey 2025–26
https://www.finance.gov.pk/survey/chapter_26/Highlights_of_the_PES_2026.pdf - Pakistan Bureau of Statistics – External Trade Statistics
https://www.pbs.gov.pk/external-trade-statistics/