Pakistanindonesia.com – Indonesia dan Pakistan punya satu kesamaan yang sering luput dari perhatian: keduanya memiliki pasar domestik besar dan ekonomi digital yang terus berkembang. Namun, hubungan bisnis kedua negara selama ini masih jauh lebih dikenal melalui perdagangan barang dibandingkan kolaborasi teknologi. Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Pakistan mencapai US$4,1 miliar, sementara ekspor Indonesia ke Pakistan mencapai US$3,5 miliar pada 2024.
Di sisi digital, peluangnya justru mulai terlihat semakin jelas. Pakistan mencatat ekspor jasa ICT sebesar US$3,8 miliar pada FY2025, naik 18,3 persen, dengan software consultancy dan layanan komputer menjadi kontributor utama. Indonesia sendiri mencatat volume transaksi pembayaran digital 4,79 miliar transaksi pada Januari 2026, tumbuh 39,65 persen secara tahunan, sementara transaksi QRIS tumbuh 131,47 persen. Jika dua ekosistem ini mulai saling terhubung, bisnis yang muncul tidak harus berupa perusahaan raksasa.
1. Jasa IT dan AI Bisa Menjadi Jembatan Pertama
Peluang paling mudah dibayangkan adalah jasa teknologi lintas negara. Pakistan sudah memiliki industri IT dan tenaga digital yang berorientasi ekspor, sedangkan Indonesia mempunyai pasar domestik besar yang sedang mempercepat digitalisasi bisnis, pemerintahan, perdagangan dan UMKM.
Data State Bank of Pakistan menunjukkan ekspor jasa ICT negara tersebut mencapai US$3,8 miliar pada FY2025, meningkat 18,3 persen dari tahun sebelumnya. Pemerintah Pakistan juga mencatat pengembangan IT parks dan e-Rozgaar centres sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem teknologi.
Bagi perusahaan Indonesia, kondisi ini membuka kemungkinan mencari partner Pakistan untuk software development, outsourcing, data services, AI, desain digital, hingga pengembangan aplikasi. Sebaliknya, perusahaan teknologi Pakistan dapat melihat Indonesia sebagai pasar untuk solusi yang membutuhkan lokalisasi, distribusi dan partner lokal.
Yang menarik, model bisnisnya tidak harus dimulai dengan investasi besar. Kolaborasi proyek, white-label software, layanan B2B dan outsourcing dapat menjadi pintu masuk sebelum kedua perusahaan membangun usaha bersama.
2. E-Commerce Lintas Negara Bisa Mengubah Cara Produk Dijual
Peluang kedua berada di e-commerce. Selama ini ekspor sering dibayangkan sebagai kontainer, distributor dan gudang. Era digital membuat proses tersebut bisa dimulai jauh lebih sederhana: menemukan konsumen melalui marketplace, media sosial, website dan platform B2B.
Indonesia mempunyai ekosistem perdagangan digital yang besar, sementara Pakistan juga sedang memperkuat ekonomi digital dan konektivitasnya. Pemerintah Indonesia sendiri menempatkan digitalisasi sebagai bagian penting dalam peningkatan daya saing UMKM dan akses pasar global. Pada 2026, Kementerian Perdagangan menekankan bahwa UMKM perlu memanfaatkan teknologi, membangun merek, memahami pasar dan memenuhi standar untuk dapat bersaing secara global.
Di sinilah produk Indonesia seperti makanan olahan, modest fashion, produk halal, kerajinan, kecantikan dan barang rumah tangga berpotensi diuji melalui kanal digital Pakistan. Sebaliknya, produk Pakistan seperti tekstil, apparel, olahraga dan berbagai produk manufaktur dapat menemukan konsumen Indonesia melalui kanal yang sama.
Namun, e-commerce lintas negara tidak cukup hanya mengunggah produk. Masalah pembayaran, bea masuk, sertifikasi, pengiriman dan layanan purna jual tetap harus dihitung. Justru perusahaan yang mampu menyelesaikan masalah tersebut berpotensi menjadi pemain penting di belakang layar.
3. Fintech dan Keamanan Siber Bisa Menjadi Bisnis yang Lebih Besar
Peluang ketiga mungkin yang paling menarik: layanan keuangan digital dan keamanan siber. Indonesia sedang mengalami pertumbuhan pembayaran digital yang sangat cepat. Pada triwulan IV 2025, volume pembayaran digital mencapai 14,26 miliar transaksi, naik 39,21 persen secara tahunan, sementara QRIS tumbuh 139,99 persen.
Pakistan juga sedang memperkuat ekonomi digitalnya. Kementerian IT dan Telecommunication Pakistan pada 2026 menyoroti pertumbuhan ekspor IT dan penguatan konektivitas sebagai bagian penting transformasi ekonomi digital negara tersebut.
Kombinasi tersebut membuka ruang bagi perusahaan yang bergerak dalam payment technology, fraud detection, identity verification, cybersecurity, cloud security dan layanan kepatuhan digital. Perusahaan Indonesia bisa membawa pengalaman membangun ekosistem pembayaran dalam negeri, sementara perusahaan Pakistan dapat menawarkan kemampuan teknologi dan talenta IT untuk pengembangan produk.
Keamanan siber bahkan menjadi semakin penting karena semakin banyak transaksi dan data berpindah ke internet. Pemerintah Indonesia sendiri menempatkan keamanan siber sebagai area yang membutuhkan kolaborasi pemerintah, sektor swasta dan mitra internasional.
Bukan Sekadar Jual Beli, tetapi Membangun Ekosistem Digital
Ada alasan mengapa peluang ini semakin relevan sekarang. Indonesia dan Pakistan sedang membicarakan penguatan hubungan ekonomi, termasuk percepatan pembentukan Indonesia-Pakistan Comprehensive Economic Partnership Agreement (IPak-CEPA) dan optimalisasi Joint Trade Committee. Pada Februari 2026, Kementerian Perdagangan RI juga menyebut pengembangan UMKM dan harmonisasi standar sebagai bagian dari agenda penguatan hubungan bilateral.
Jika proses tersebut berkembang, perdagangan kedua negara tidak harus berhenti pada produk fisik. Jasa digital, software, talenta teknologi, platform perdagangan dan solusi keamanan dapat menjadi bagian baru dari hubungan ekonomi tersebut.
Inilah yang membuat ekonomi digital menarik. Sebuah perusahaan tidak selalu membutuhkan gudang di Pakistan untuk mulai memasuki pasar Pakistan. Dalam model tertentu, cukup dengan software, koneksi internet, partner lokal dan pemahaman regulasi.
Penutup
Tiga peluang bisnis digital Indonesia-Pakistan terlihat semakin jelas: jasa IT dan AI, e-commerce lintas negara, serta fintech dan keamanan siber. Ketiganya memiliki karakter berbeda, tetapi mempunyai satu kesamaan: dapat berkembang tanpa harus bergantung sepenuhnya pada perdagangan komoditas.
Nilai perdagangan bilateral yang sudah mencapai US$4,1 miliar menunjukkan hubungan ekonomi kedua negara bukanlah pasar yang baru dimulai. Tantangannya sekarang adalah memperluas bentuk kerja sama tersebut ke sektor yang tumbuh lebih cepat.
Pertanyaan besarnya bukan lagi apakah Indonesia dan Pakistan bisa berdagang secara digital. Pertanyaannya adalah siapa yang lebih dulu membangun jembatan digital di antara dua pasar besar tersebut.
Sumber Referensi
- Kementerian Perdagangan Republik Indonesia – Penguatan Hubungan Dagang Indonesia-Pakistan
https://www.kemendag.go.id/berita/foto/wamendag-menerima-kunjungan-dubes-ri-pakistan-1771984227 - 3. Ministry of Commerce Pakistan – Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement
https://www.commerce.gov.pk/unilateral-market-access/