Pakistanindonesia.com – Selama ini hubungan Indonesia dan Pakistan sering dilihat dari angka ekspor-impor. Padahal, peluang yang lebih besar mungkin berada di balik angka tersebut: rantai pasok. Ketika perdagangan berkembang, perusahaan tidak hanya membutuhkan pembeli, tetapi juga pemasok bahan baku, distributor, pengolah, jasa logistik, hingga mitra investasi yang mampu menghubungkan satu pasar dengan pasar lainnya.
Momentum tersebut semakin menarik karena perdagangan bilateral Indonesia-Pakistan sudah memiliki fondasi melalui Indonesia-Pakistan Preferential Trade Agreement (IP-PTA). Pemerintah kedua negara juga terus membahas pengembangan hubungan perdagangan menuju kerangka yang lebih luas. Jika konektivitas bisnis semakin kuat, rantai pasok Indonesia-Pakistan dapat berkembang dari transaksi komoditas menjadi hubungan industri yang lebih kompleks.
1. Komoditas Bisa Menjadi Pintu Masuk Rantai Pasok
Potensi pertama berada pada komoditas yang selama ini sudah diperdagangkan. Produk sawit menjadi contoh paling jelas karena Pakistan merupakan salah satu pasar penting bagi produk sawit Indonesia. Kementerian Perdagangan mencatat ekspor produk sawit Indonesia ke Pakistan mencapai US$2,77 miliar pada 2025, naik 27,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka tersebut memperlihatkan bahwa hubungan komoditas antara kedua negara sudah memiliki skala yang cukup besar untuk menjadi dasar pengembangan bisnis lanjutan.
Rantai pasok dapat berkembang ketika perdagangan tidak berhenti pada pengiriman bahan atau produk dasar. Pelaku usaha dapat melihat peluang pada pengemasan, pengolahan, pergudangan, distribusi, hingga penyediaan jasa pendukung. Dalam konteks ini, Pakistan bukan hanya menjadi tujuan akhir barang Indonesia, tetapi dapat menjadi bagian dari jaringan bisnis yang menghubungkan produk Indonesia dengan kebutuhan pasar Asia Selatan. Tentu saja, realisasinya bergantung pada biaya logistik, regulasi, skala permintaan, dan keputusan perusahaan.
2. Pertanian dan Pangan Punya Ruang untuk Diperluas
Potensi kedua muncul dari sektor pertanian dan pangan. Pada Januari 2026, Indonesia dan Pakistan menggelar forum perdagangan yang secara khusus mempertemukan pelaku usaha untuk membahas rempah-rempah dan produk pertanian. Forum tersebut menunjukkan bahwa hubungan bisnis kedua negara tidak hanya bertumpu pada komoditas yang sudah lama dominan, tetapi juga membuka ruang untuk diversifikasi produk.
Rantai pasok di sektor pangan memiliki karakter yang menarik karena melibatkan banyak pelaku sekaligus. Petani dan produsen berada di awal rantai, kemudian muncul pengolah, pengemas, eksportir, importir, distributor, hingga pengecer. Jika hubungan perdagangan semakin intensif, peluang kerja sama dapat muncul pada beberapa titik tersebut, terutama untuk produk yang membutuhkan pasokan konsisten dan pengolahan sebelum mencapai konsumen akhir.
3. Logistik dan Mitra Industri Bisa Ikut Tumbuh
Potensi ketiga justru berada di sektor yang sering tidak terlihat oleh konsumen. Semakin besar perdagangan, semakin besar pula kebutuhan terhadap jasa logistik, pergudangan, pembiayaan perdagangan, inspeksi, sertifikasi, distribusi, dan layanan bisnis lainnya. Hubungan dagang yang semakin aktif dapat menciptakan permintaan terhadap perusahaan yang mampu menghubungkan eksportir Indonesia dengan importir serta distributor Pakistan.
Kedua negara juga telah membangun berbagai forum bisnis untuk mempertemukan perusahaan. Pada Juni 2026, KJRI Karachi memfasilitasi pertemuan eksportir Jawa Barat dengan sekitar 30 importir potensial Pakistan, termasuk pelaku usaha di sektor teh, kopi, kakao, serta mesin dan peralatan pertanian. Forum seperti ini penting karena rantai pasok tidak dibangun hanya melalui perjanjian pemerintah, tetapi juga melalui hubungan langsung antarpelaku usaha.
Mengapa Rantai Pasok Menjadi Penting?
Perubahan terbesar dalam perdagangan global bukan hanya soal siapa menjual produk kepada siapa. Perusahaan semakin memperhatikan bagaimana bahan baku diperoleh, diproses, dikirim, disimpan, dan akhirnya mencapai pasar. Karena itu, hubungan dagang yang hanya bergantung pada satu atau dua komoditas dapat memiliki ruang pengembangan apabila pelaku usaha mulai membangun koneksi pada tahapan lain.
Indonesia dan Pakistan sudah memiliki salah satu fondasi untuk mengembangkan hubungan tersebut. Berdasarkan informasi Kementerian Perdagangan, perubahan IP-PTA mencakup konsesi perdagangan 279 pos tarif Indonesia dan 320 pos tarif Pakistan yang mulai diimplementasikan pada 2019. Kedua negara kemudian membahas pengembangan hubungan perdagangan menuju cakupan yang lebih luas, termasuk agenda menuju Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).
Bagi perusahaan, perkembangan tersebut dapat menjadi sinyal untuk mulai memetakan peluang secara lebih spesifik. Bukan berarti seluruh sektor otomatis akan terintegrasi, tetapi terdapat ruang untuk menguji model kerja sama baru berdasarkan kebutuhan pasar. Dari pemasok bahan baku sampai distributor, masing-masing dapat melihat posisi yang mungkin diambil dalam jaringan perdagangan tersebut.
Penutup
Tiga potensi terbesar rantai pasok Indonesia-Pakistan terlihat pada komoditas, pertanian-pangan, serta logistik dan jasa pendukung industri. Perdagangan sawit menunjukkan bahwa hubungan komoditas sudah memiliki nilai ekonomi besar, sedangkan forum rempah dan produk pertanian memperlihatkan adanya ruang untuk diversifikasi.
Tantangan berikutnya adalah mengubah hubungan perdagangan menjadi jaringan bisnis yang lebih terhubung. Jika perusahaan, pemerintah, dan penyedia jasa pendukung mampu menemukan model kerja sama yang efisien, Indonesia dan Pakistan memiliki peluang untuk memperluas hubungan ekonomi dari sekadar transaksi ekspor-impor menuju jaringan rantai pasok regional yang lebih beragam.