Pakistanindonesia.com – Hubungan ekonomi Indonesia dan Pakistan ternyata menyimpan angka yang cukup besar, tetapi belum banyak dibicarakan. Nilai perdagangan bilateral kedua negara telah mencapai US$4,1 miliar, dengan pertumbuhan 23,29 persen dalam lima tahun. Indonesia bahkan mencatat ekspor ke Pakistan sebesar US$3,5 miliar pada 2024.
Namun ada satu masalah menarik: perdagangan tersebut masih sangat bergantung pada komoditas tertentu. Pertanyaannya, apakah hubungan Indonesia-Pakistan akan berhenti sebagai hubungan jual-beli sawit dan barang komoditas, atau justru berkembang menjadi kerja sama industri, teknologi, pangan, dan jasa? Di sinilah sejumlah sektor ekonomi Indonesia-Pakistan mulai terlihat semakin menarik.
1. Sawit Masih Besar, tetapi Permainannya Bisa Berubah
Kalau mencari sektor yang sudah memiliki bukti nyata, minyak sawit berada di barisan depan. Pada 2025, ekspor produk sawit Indonesia ke Pakistan mencapai US$2,77 miliar, tumbuh 27,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pakistan juga tercatat sebagai tujuan ekspor minyak sawit Indonesia terbesar ketiga setelah China dan India.
Angka tersebut menunjukkan bahwa permintaan sudah terbentuk, sehingga peluang berikutnya bukan sekadar meningkatkan volume ekspor. Tantangannya adalah memperluas produk turunan, seperti bahan pangan olahan, oleokimia, dan produk bernilai tambah lainnya. Jika hubungan dagang semakin dalam, Indonesia memiliki peluang bergerak dari sekadar pemasok bahan baku menjadi bagian dari rantai industri Pakistan.
2. Pangan dan Pengolahan Bisa Menjadi Pertarungan Baru
Pakistan memiliki sektor pertanian dan pangan yang besar, sementara Indonesia mempunyai pengalaman panjang dalam industri pengolahan makanan dan produk konsumen. Pemerintah Pakistan sendiri memasukkan food processing sebagai salah satu sektor investasi yang ditawarkan melalui Board of Investment.
Peluangnya tidak hanya berupa ekspor makanan jadi. Perusahaan Indonesia dapat melihat ruang pada bahan baku, teknologi pengolahan, pengemasan, distribusi, hingga produk halal yang memiliki pasar konsumen luas. Justru sektor seperti inilah yang dapat membuat hubungan ekonomi kedua negara lebih dekat dengan konsumen, bukan hanya perdagangan antarperusahaan besar.
3. Manufaktur dan Tekstil Punya Ruang Besar
Pakistan merupakan salah satu pusat industri tekstil di Asia Selatan, sementara Indonesia mempunyai basis manufaktur yang relatif beragam. Kemendag juga mencatat produk kimia organik sebagai salah satu komoditas nonmigas penting Indonesia ke Pakistan, terutama karena industri tekstil dan kertas Pakistan membutuhkan bahan kimia untuk proses produksi.
Artinya, peluang tidak selalu berada pada produk akhir. Bahan kimia industri, mesin, komponen, serat, bahan pendukung tekstil, hingga teknologi produksi dapat menjadi pintu masuk kerja sama yang lebih dalam. Jika rantai pasok kedua negara semakin terhubung, perdagangan Indonesia-Pakistan berpotensi bergerak dari transaksi komoditas menuju hubungan antarsektor industri.
4. Teknologi Digital Bisa Menjadi Kartu yang Selama Ini Terlupakan
Inilah sektor yang paling berbeda dari pola perdagangan tradisional. Ekonomi digital Pakistan terus berkembang dan ekspor layanan ICT negara tersebut mencapai US$3,8 miliar pada FY2025, naik 18,3 persen, terutama ditopang jasa konsultasi perangkat lunak dan pekerja lepas bidang komputer serta informasi.
Indonesia juga memiliki pasar digital yang sangat besar. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi pada kuartal II 2026, tumbuh 36,88 persen secara tahunan, sementara transaksi QRIS meningkat 100,12 persen. Ini membuka ruang untuk kerja sama software, AI, cybersecurity, outsourcing, e-commerce, layanan digital, dan solusi pembayaran.
5. Logistik dan Infrastruktur Menjadi Penghubung Utama
Sektor ekonomi Indonesia-Pakistan tidak akan berkembang maksimal jika biaya dan konektivitas perdagangan tetap menjadi hambatan. Karena itu, logistik memiliki posisi strategis, terutama untuk mempercepat arus barang dari pelabuhan hingga pusat distribusi.
Pakistan sendiri menempatkan logistik, transportasi, infrastruktur, teknologi informasi, energi, dan telekomunikasi sebagai bidang yang mendapat perhatian dalam agenda investasi nasional. Board of Investment Pakistan juga mencantumkan logistik sebagai salah satu sektor investasi yang ditawarkan.
Bagi perusahaan Indonesia, peluangnya dapat muncul melalui jasa logistik, pergudangan, teknologi rantai pasok, manajemen distribusi, maupun penyediaan peralatan pendukung. Infrastruktur memang membutuhkan modal besar, tetapi efeknya dapat menjalar ke banyak sektor lain karena perdagangan membutuhkan jaringan distribusi yang efisien.
Penutup
Yang menarik dari hubungan Indonesia-Pakistan bukan hanya besarnya angka perdagangan, tetapi arah perubahannya. Nilai bilateral US$4,1 miliar menunjukkan fondasi perdagangan sudah tersedia, sementara beroperasinya D-8 PTA di Pakistan sejak 1 Januari 2025 serta upaya melanjutkan pembahasan perdagangan barang Indonesia-Pakistan dapat membuka ruang baru.
Jika hubungan tersebut terus diperluas, sektor ekonomi Indonesia-Pakistan tidak harus berhenti pada sawit. Pangan, manufaktur, teknologi digital, logistik, dan industri bernilai tambah dapat menjadi babak berikutnya. Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kedua negara bisa berdagang, tetapi seberapa jauh hubungan dagang tersebut bisa berubah menjadi rantai bisnis yang saling terhubung?
Sumber Referensi
- Kementerian Perdagangan RI – Pertemuan Wamendag RI dengan Dubes Pakistan untuk Indonesia
https://www.kemendag.go.id/berita/foto/pertemuan-wamendag-ri-dengan-dubes-pakistan-untuk-indonesia - Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional – Perdagangan Sawit Indonesia-Pakistan
https://ditjenpen.kemendag.go.id/berita/pertemuan-dirjen-pengembangan-ekspor-nasional-dengan-gapki - State Bank of Pakistan – Annual Report FY2025
https://www.sbp.org.pk/reports/annual/aarFY25/Chapter-05.pdf - Bank Indonesia – Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2026
https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/Pages/Laporan-Kebijakan-Moneter-Triwulan-II-2026.aspx - Pakistan Board of Investment – Sectors
https://invest.gov.pk/sectors - Kemendag – Indonesia-Pakistan Trade Preferential Agreement
https://ftasupportcenter.kemendag.go.id/ip-pta