5 Rahasia Memilih Produk Ekspor ke Pakistan, Jangan Cuma Ikut Tren

5 Rahasia Memilih Produk Ekspor ke Pakistan, Jangan Cuma Ikut Tren

5 Rahasia Memilih Produk Ekspor ke Pakistan, Jangan Cuma Ikut Tren
Table of Contents

Pakistanindonesia.com – Banyak orang mengira memulai ekspor cukup dengan menemukan produk yang sedang laku. Kenyataannya justru sebaliknya: produk yang laris di Indonesia belum tentu laku di Pakistan. Kesalahan memilih barang, menghitung biaya, atau membaca kebutuhan pasar dapat membuat modal tertahan bahkan sebelum produk menemukan pembeli.

Pakistan sebenarnya bukan pasar kecil. Data World Bank melalui WITS menunjukkan impor Pakistan mencapai sekitar US$65,37 miliar pada 2025. Pada periode yang sama, Indonesia tercatat sebagai salah satu pemasok penting Pakistan dengan nilai sekitar US$3,49 miliar. Angka ini memperlihatkan bahwa jalur perdagangan sudah terbentuk, tetapi pertanyaan yang lebih penting adalah: produk apa yang masih punya ruang untuk dimasuki eksportir Indonesia?

1. Jangan Cari Produk yang Viral, Cari yang Memang Dibutuhkan

Rahasia pertama terdengar sederhana, tetapi sering dilewatkan: mulai dari kebutuhan pasar, bukan dari barang yang ingin dijual. Data perdagangan menunjukkan Pakistan mengimpor berbagai produk dalam jumlah besar, mulai dari energi hingga minyak sawit dan peralatan komunikasi. Bahkan dalam data WITS, impor minyak sawit nonmentah Pakistan tercatat sekitar US$2,86 miliar.

Ini menjadi petunjuk penting bagi eksportir Indonesia. Produk yang sudah memiliki arus perdagangan biasanya lebih mudah diteliti karena ada bukti permintaan dan pelaku bisnis yang sudah aktif. Sawit adalah contoh paling jelas: ekspor produk sawit Indonesia ke Pakistan mencapai US$2,77 miliar pada 2025, naik 27,48 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun peluang tidak harus berupa komoditas mentah; produk turunannya, bahan pendukung industri, makanan olahan, kemasan, dan kebutuhan manufaktur juga dapat diteliti.

2. Lihat Angka Impor, Bukan Sekadar Jumlah Penduduk

Pakistan memiliki populasi yang besar, tetapi jumlah penduduk saja tidak cukup untuk menentukan produk ekspor. Eksportir perlu melihat apa yang benar-benar dibeli Pakistan dari luar negeri dan siapa negara pemasoknya.

Data perdagangan memperlihatkan Indonesia sudah memiliki posisi sebagai pemasok dengan pangsa sekitar 6,98 persen dari impor Pakistan dalam data WITS yang tersedia. China, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Indonesia, dan Qatar tercatat sebagai pemasok utama. Artinya, calon eksportir sebaiknya tidak hanya bertanya “apakah orang Pakistan suka produk ini?”, tetapi juga “apakah perusahaan Pakistan memang mengimpor produk sejenis dari luar negeri?”

3. Cari Produk yang Punya Nilai Tambah

Kesalahan lain adalah mengejar barang yang hanya mengandalkan harga murah. Strategi tersebut sangat berisiko karena eksportir akan berhadapan langsung dengan pemasok dari berbagai negara.

Indonesia memiliki basis manufaktur yang cukup kuat. Pada 2025, sektor industri manufaktur menyumbang 80,27 persen struktur ekspor Indonesia, menurut Kementerian Perdagangan. Produk mesin dan perlengkapan elektrik juga mencatat ekspor Indonesia sebesar US$19,18 miliar secara global pada 2025.

Karena itu, produk ekspor ke Pakistan dapat diarahkan pada barang yang menawarkan fungsi atau kualitas tertentu. Bahan baku industri, komponen, produk kimia, mesin, produk makanan olahan, hingga barang manufaktur tertentu bisa menjadi kandidat. Semakin jelas manfaat produknya bagi pembeli bisnis, semakin kecil ketergantungan pada perang harga.

4. Regulasi Bisa Membunuh Produk yang Sebenarnya Laku

Ini bagian yang sering tidak terlihat di awal. Sebuah produk bisa memiliki permintaan tinggi, tetapi tetap sulit diekspor jika persyaratan impor, standar, sertifikasi, label, atau dokumennya tidak terpenuhi.

Karena itu, sebelum menentukan produk ekspor ke Pakistan, eksportir harus mengecek kode HS, tarif, persyaratan impor, standar produk, serta dokumen yang diperlukan. Ini semakin penting untuk kategori yang berkaitan dengan pangan, obat-obatan, bahan kimia, dan produk tertentu yang memiliki persyaratan teknis lebih ketat.

Jangan sampai riset berhenti pada Google Trends atau marketplace. Produk terlihat populer belum tentu berarti produk tersebut mudah masuk secara legal ke pasar Pakistan.

5. Rahasia Terakhir: Produk Bagus Tidak Ada Artinya Tanpa Buyer

Inilah bagian yang paling sering dilupakan calon eksportir. Memilih produk bukan berarti langsung memiliki pasar. Bahkan produk yang permintaannya besar tetap membutuhkan importir, distributor, wholesaler, atau perusahaan pengguna yang dapat melakukan pembelian secara konsisten.

Pemerintah Indonesia sendiri mendorong pendekatan business matching dan pitching untuk memperkuat ekspor ke Pakistan. Pada sektor sawit misalnya, Kementerian Perdagangan secara khusus memfasilitasi hubungan antara pelaku usaha Indonesia dan pasar Pakistan.

Artinya, riset produk sebaiknya berjalan bersamaan dengan riset calon pembeli. Cari perusahaan yang sudah mengimpor produk serupa, periksa reputasinya, pahami kapasitas pembeliannya, dan jangan buru-buru mengirim barang hanya karena mendapatkan satu permintaan melalui internet.

Produk yang Tepat Bukan Selalu Produk yang Paling Ramai

Ada ironi dalam bisnis ekspor. Produk dengan permintaan terbesar justru sering memiliki persaingan paling keras. Sementara produk yang terlihat lebih kecil bisa memberikan ruang yang lebih menarik apabila kebutuhan pembelinya spesifik dan pemasoknya terbatas.

Hubungan perdagangan Indonesia-Pakistan sendiri memiliki fondasi yang semakin kuat. Total perdagangan bilateral mencapai US$4,1 miliar, sedangkan ekspor Indonesia ke Pakistan mencapai US$3,5 miliar pada 2024. Pakistan juga mulai mengoperasikan D-8 Preferential Trade Agreement sejak 1 Januari 2025, yang dapat menjadi salah satu faktor pendukung perdagangan antarnegara anggota.

Bagi eksportir Indonesia, momentum tersebut berarti riset pasar tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan “produk apa yang laku?”. Pertanyaan yang lebih tajam adalah produk apa yang dibutuhkan, bisa memenuhi aturan, kompetitif secara harga, dan memiliki buyer yang benar-benar mampu membeli?

Penutup

Lima rahasia memilih produk ekspor ke Pakistan pada akhirnya bermuara pada satu prinsip: jangan memilih produk hanya karena terlihat menarik dari sisi penjual. Lihat kebutuhan pasar, data impor, nilai tambah, regulasi, dan calon buyer sebelum mengeluarkan modal.

Pasar Pakistan memang menawarkan ruang besar, tetapi besarnya pasar bukan jaminan sebuah produk akan sukses. Justru eksportir yang mampu membaca celah kecil dengan data yang tepat dapat memiliki posisi yang lebih kuat daripada mereka yang sekadar mengikuti tren.

Dengan perdagangan bilateral yang sudah mencapai miliaran dolar, peluang Indonesia-Pakistan jelas bukan lagi sekadar wacana. Tantangannya sekarang adalah menemukan produk yang tepat—dan membuktikan bahwa ada pembeli nyata di ujung rantai perdagangan tersebut.

Sumber Referensi

Last Updated: 23 September 2026, 10:56

Bagikan:

Search

Artikel Lainnya

Ayo Menelusuri