Di tengah euforia kecerdasan buatan yang disebut-sebut sebagai masa depan industri kreatif, sebuah pengakuan datang dari pemerintah Pakistan. Menteri Informasi Attaullah Tarar secara terbuka menyebut bahwa adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) telah memicu masalah ketenagakerjaan di sektor periklanan—sektor yang selama ini hidup dari ide, rasa, dan sentuhan manusia.
Pernyataan itu disampaikan Tarar melalui akun X miliknya pada Kamis. Ia mengakui bahwa penggunaan AI secara masif mulai berdampak langsung pada para pekerja kreatif, mulai dari content creator, desainer grafis, editor, creative director, aktor, model, hingga teknisi dan kameramen.
“AI mulai memengaruhi lapangan kerja para kreator. Saya mengundang proposal tentang bagaimana masalah ini bisa diatasi dan bagaimana profesi-profesi ini tidak menjadi usang,” tulis Tarar, sembari membuka pintu bagi publik untuk mengirimkan gagasan ke alamat email Kementerian Informasi.
Kreativitas yang Mulai Tersaingi Mesin
Industri periklanan selama ini dikenal sebagai ruang ekspresi manusia: ide liar, emosi, dan intuisi. Namun, kehadiran AI perlahan mengubah lanskap itu. Visual bisa dibuat dalam hitungan detik, naskah iklan dihasilkan otomatis, musik latar dikomposisi mesin, bahkan wajah dan suara manusia kini bisa direplikasi.
Laporan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) yang dirilis Mei lalu menguatkan kekhawatiran tersebut. ILO mencatat sekitar satu dari empat pekerja di dunia berada dalam profesi yang memiliki tingkat keterpaparan terhadap kemampuan AI generatif.
Meski begitu, ILO menegaskan bahwa hanya sedikit pekerjaan yang benar-benar berisiko mengalami otomatisasi penuh. Masalahnya bukan sekadar hilangnya pekerjaan, melainkan perubahan besar pada cara kerja dan nilai kreativitas itu sendiri.
Ketika Manusia dan AI Sulit Dibedakan
Fenomena ini semakin terasa ketika survei Ipsos pada November lalu menunjukkan fakta mengejutkan. Dalam riset yang dilakukan untuk platform streaming asal Prancis, Deezer, sebanyak 97 persen responden tidak mampu membedakan musik yang sepenuhnya dibuat AI dengan musik buatan manusia.
Lebih dari separuh responden mengaku tidak nyaman dengan kenyataan tersebut. Ketidakmampuan membedakan karya manusia dan mesin menimbulkan pertanyaan besar: jika audiens tak lagi peduli siapa penciptanya, apa arti kreativitas?
Survei yang sama juga menunjukkan kecemasan publik. Sebanyak 51 persen responden percaya AI akan membanjiri platform streaming dengan musik berkualitas rendah, sementara hampir dua pertiga yakin teknologi ini akan mengikis kreativitas manusia.
Industri Iklan di Persimpangan Jalan
Pernyataan Menteri Informasi Pakistan membuka diskusi yang lebih luas. Apakah AI adalah alat bantu yang mempercepat kerja kreator, atau justru pesaing yang diam-diam mengambil peran mereka?
Di satu sisi, AI menjanjikan efisiensi dan biaya murah. Di sisi lain, para pekerja kreatif menghadapi realitas baru: klien yang mulai bertanya mengapa harus membayar mahal ide manusia jika mesin bisa melakukannya lebih cepat.
Ajakan Tarar untuk mengirimkan proposal bisa dibaca sebagai sinyal bahwa negara belum memiliki jawaban pasti. Masa depan industri kreatif kini berada di wilayah abu-abu, antara kolaborasi manusia–mesin atau perlahan tergeser oleh algoritma.
Penutup
AI mungkin tidak sepenuhnya menggantikan manusia hari ini. Namun, yang jelas, ia sudah mengubah aturan main. Ketika pemerintah mulai mengakui adanya ancaman lapangan kerja, satu hal menjadi pasti: perdebatan soal kreativitas, teknologi, dan nasib pekerja iklan baru saja dimulai.