Markhor Pakistan adalah hewan nasional yang dikenal dengan tanduk spiral khas. Populasinya sempat menurun tajam, tetapi kini mulai pulih berkat program konservasi yang lebih terarah (Dawn, 2024). Perbaikan ini mendapat perhatian luas karena dianggap sebagai contoh sukses konservasi satwa liar di Asia Selatan.
Upaya pelestarian yang melibatkan pemerintah, komunitas lokal, dan lembaga internasional memperlihatkan hasil nyata. Program berbasis masyarakat membantu menekan perburuan ilegal dan menjaga habitat tetap stabil (UN Pakistan, 2024).
Konservasi Modern dan Perubahan Populasi
Menurut laporan WWF-Pakistan dan beberapa media nasional, populasi markhor kini mencapai 3.500–5.000 ekor, meningkat drastis dari sebelumnya yang berada di ambang kepunahan (AA News, 2024). Program konservasi berbasis komunitas yang diterapkan di berbagai wilayah seperti Chitral, Kohistan, dan Swat, terbukti efektif menekan perburuan ilegal dan menjaga keberlangsungan habitat.
Upaya ini didorong oleh model “community-managed trophy hunting”, di mana sebagian besar dana lisensi—sekitar 80%—dikembalikan kepada masyarakat lokal dalam bentuk pembangunan sekolah, fasilitas kesehatan, hingga proyek lingkungan (Dawn, 2024). Pendekatan ini memberi insentif ekonomi langsung kepada warga untuk aktif melindungi markhor.
Komitmen Pemerintah dan Dukungan Global
Pemerintah Khyber Pakhtunkhwa menegaskan bahwa konservasi markhor menjadi prioritas utama, terutama setelah PBB menetapkan 24 Mei sebagai International Day of the Markhor Pengakuan global ini memperkuat legitimasi Pakistan sebagai pemimpin konservasi satwa liar di kawasan pegunungan.
Selain itu, pemerintah menyerukan kolaborasi antarnegara untuk melindungi sub-spesies markhor seperti Sulaiman dan Kashmir markhor yang habitatnya lebih rentan tersingkir akibat perubahan iklim.
Kisah Inspiratif dari Lapangan
Salah satu kisah paling menarik datang dari Asadullah Bazai, mantan juara menembak nasional Pakistan yang kini berubah haluan menjadi pelindung markhor di Balochistan (Daily Times, 2024). Bersama timnya, Bazai membentuk jaringan relawan lokal yang memantau perburuan liar serta melakukan edukasi masyarakat.
Perubahan sikap ini menunjukkan bahwa konservasi satwa liar bukan hanya soal regulasi, tetapi juga perubahan mentalitas masyarakat yang hidup berdampingan dengan spesies tersebut.
Tantangan yang Masih Mengintai
Meski populasi meningkat, sejumlah tantangan tetap ada. Perubahan iklim mengurangi luas habitat pegunungan dan memengaruhi pola hidup markhor. Nilai ekonomi tinggi dari “trophy hunting” legal juga dapat menimbulkan celah bagi praktik ilegal jika pengawasan tidak dilakukan secara konsisten (Dawn, 2024).
Beberapa sub-spesies, seperti Sulaiman markhor, hidup di wilayah yang sangat terbatas. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap gangguan lokal dan bencana alam.
Harapan Masa Depan dan Potensi Ekowisata
Dengan pengelolaan yang tepat, markhor Pakistan dapat menjadi ikon ekowisata global. Setiap tahun, wisatawan domestik dan mancanegara menunjukkan minat besar untuk melihat langsung mamalia bertanduk spiral ini di habitat alaminya. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, sektor ini dapat menjadi tulang punggung ekonomi lokal tanpa mengorbankan keseimbangan ekologi.
Dukungan internasional dan keterlibatan terus-menerus dari komunitas lokal menjadi kunci mempertahankan tren positif ini. Pakistan kini memiliki kesempatan besar untuk menjadi contoh sukses konservasi satwa liar di dunia.
Konservasi markhor Pakistan menunjukkan bahwa pendekatan sederhana seperti melibatkan masyarakat lokal dapat membawa perubahan besar. Keberhasilan ini memberi harapan bahwa spesies lain yang terancam punah juga bisa diselamatkan melalui kerja sama yang konsisten.
Pembaca yang ingin mengikuti berita lingkungan, konservasi, dan perkembangan terbaru di Pakistan dapat mengunjungi PakistanIndonesia.com. Situs tersebut menyediakan informasi yang relevan dan mudah dipahami.



