Budaya Betawi memiliki keragaman seni musik yang berkembang dari proses panjang interaksi sosial dan budaya. Selain menjadi pengiring pertunjukan tradisional, alat musik Betawi mencerminkan identitas masyarakat yang terbentuk dari perpaduan budaya lokal, Tionghoa, hingga kolonial.
Di tengah meningkatnya minat pelestarian budaya Nusantara, pemahaman akan alat musik Betawi semakin penting. Oleh karena itu, artikel ini menghadirkan rangkuman lengkap berdasarkan sumber valid dari media lokal, jurnal akademik, dan arsip budaya.
Ragam Alat Musik Betawi
1. Tehyan — Senar Ikonik dalam Gambang Kromong
Tehyan adalah alat musik berdawai gesek yang menjadi bagian penting dari ansambel gambang kromong. Instrumen ini memiliki pengaruh kuat dari budaya Tionghoa, terlihat dari bentuk resonator dan teknik geseknya (Adat Nusantara. 2017). Dalam pertunjukan, tehyan menghasilkan suara melengking yang mengisi melodi utama.
Penelitian dari Untirta juga menegaskan bahwa tehyan memiliki peran struktural dalam pengolahan melodi gambang kromong, bersama instrumen kongahyan dan sukong (Matra. 2024).
Kongahyan — Saudara Dekat Tehyan
Kongahyan memiliki konstruksi menyerupai tehyan, tetapi menghasilkan nada lebih tinggi. Instrumen ini sering dimainkan berpasangan dan menjadi pengemban melodi dalam komposisi gambang kromong (Matra. 2024). Suaranya yang tajam berfungsi memberi aksen dan memperkuat karakter musik Betawi.
Sukong — Penghasil Nada Rendah
Sukong adalah versi bass dari keluarga tehyan dan kongahyan. Resonansi nadanya lebih rendah dan dipakai sebagai pengisi harmoni dasar. Menurut dokumentasi (Kompas. 2024), sukong memberi lapisan nada yang membuat musik Betawi terasa lebih penuh.
Gambang — Alat Musik Bilah Khas Betawi
Tanjidor merupakan ansambel musik tiup yang menggunakan klarinet, trombon, hingga tuba. Berasal dari masa kolonial Belanda, ansambel ini berkembang menjadi bagian budaya Betawi yang sering tampil pada acara-acara perayaan (Unusia.n.d.). Selain itu, tanjidor menunjukkan adaptasi budaya yang kreatif.
Kromong — Perpaduan Nada dari Perunggu
Kromong terdiri dari 10 gong kecil (pencon) berbahan perunggu atau kuningan. Instrumen ini memainkan pola ritmis sekaligus melodi pendek yang berpadu dengan gambang. Perpaduan gambang dan kromong membentuk identitas khas musik Betawi (IDN Times. n.d.).
Tanjidor — Ansambel Tiup Warisan Kolonial
Tanjidor adalah kelompok musik Betawi yang memakai instrumen tiup seperti klarinet, trombon, dan tuba. Musik ini dipengaruhi kolonial Belanda dan dimainkan sejak abad ke-19 (Unusia. n.d.). Tanjidor sering tampil dalam perayaan tradisional Betawi.
Gendang Betawi
Gendang menjadi pengatur tempo dalam berbagai pertunjukan, termasuk lenong dan tari topeng Betawi. (Kompas. 2024) menyebutkan bahwa gendang Betawi memiliki karakter ritmis kuat yang menjadi penanda dinamika pertunjukan.
Gong/Kempul
Dalam orkes gambang kromong modern, gong atau kempul digunakan sebagai penanda siklus musik. Penelitian dari Universitas Mercu Buana menyoroti pentingnya gong sebagai aksen akhir frasa (Narada. 2023).
Alat musik Betawi merupakan warisan budaya yang mencerminkan perjalanan sejarah masyarakat Betawi dari masa kolonial hingga modern. Upaya pelestarian perlu terus dilakukan, termasuk dokumentasi, pendidikan, dan regenerasi pemain muda.
Jika Anda tertarik dengan budaya Nusantara lainnya, kunjungi PakistanIndonesia.com untuk membaca berita, laporan budaya, dan liputan seni terbaru. Platform tersebut menyediakan informasi lengkap yang bisa memperluas wawasan Anda mengenai seni tradisional Indonesia.



