Pakistan kembali membuat langkah besar di panggung kerja sama internasional. Kali ini, bersama China, Pakistan menandatangani 24 nota kesepahaman (MoU) di bidang teknologi yang bertujuan memperluas kolaborasi digital kedua negara. Kesepakatan ini diumumkan usai pertemuan di Beijing dalam kerangka Joint Working Group on IT Cooperation.
Di atas kertas, ini terlihat seperti kabar baik: investasi, transfer teknologi, dan peluang baru bagi industri IT Pakistan. Namun, di balik optimisme itu, muncul satu pertanyaan penting yang mulai ramai dibicarakan: apakah kerja sama ini benar-benar memperkuat kemandirian digital Pakistan, atau justru menambah ketergantungan baru?
24 MoU: Skala Besar, Dampak Jangka Panjang
Dari total 24 MoU yang ditandatangani, rinciannya mencerminkan skala kerja sama yang cukup dalam:
- 1 kesepakatan antar-pemerintah (G2G)
- 7 kesepakatan pemerintah dengan sektor bisnis (G2B)
- 16 kesepakatan langsung antar-perusahaan (B2B)
Artinya, kerja sama ini tidak berhenti pada tataran diplomasi, tetapi langsung masuk ke jantung industri teknologi. Mulai dari pengembangan perangkat lunak, infrastruktur ICT, hingga ekosistem digital yang lebih luas.
Pemerintah Pakistan dan China menyebut fokus utama kerja sama ini adalah pembangunan “digital corridor”, sebuah jalur kolaborasi teknologi yang diklaim inovatif, pragmatis, dan berorientasi pertumbuhan industri IT.
Digital Corridor: Jalan Pintas atau Jalur Satu Arah?
Digital corridor digambarkan sebagai pintu pembuka peluang bagi perusahaan teknologi Pakistan untuk masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk dalam pengembangan infrastruktur digital dan kerja sama teknologi informasi.
Namun, kritik mulai muncul dari kalangan pengamat. China bukan sekadar mitra teknologi biasa. Negara ini adalah raksasa digital global dengan kekuatan besar dalam data, platform, dan modal. Tanpa regulasi yang kuat dan posisi tawar yang seimbang, ada kekhawatiran Pakistan hanya menjadi pasar, pengguna, atau penyedia tenaga kerja, bukan pusat inovasi yang mandiri.
Kerja sama teknologi, di era AI dan big data, bukan sekadar soal bisnis. Ia menyangkut kendali data, standar teknologi, dan arah masa depan ekonomi digital.
Target Besar: 300 Ribu Anak Muda dan AI
Kementerian IT dan Telekomunikasi Pakistan menyebut kerja sama ini sejalan dengan agenda nasional untuk:
- melatih hingga 300.000 pemuda Pakistan dalam keterampilan digital tingkat lanjut,
- mendorong adopsi kecerdasan buatan (AI),
- serta meningkatkan ekspor IT dan kapasitas digital nasional.
Bagi generasi muda Pakistan, janji ini terdengar menjanjikan. Pelatihan digital bisa membuka jalan ke lapangan kerja baru. Namun, tantangan klasik tetap ada: apakah pelatihan ini akan melahirkan inovator lokal, atau hanya mencetak tenaga kerja siap pakai untuk ekosistem teknologi asing?
Peluang Nyata, Risiko Nyata
Tak bisa dipungkiri, kerja sama Pakistan–China ini membawa peluang besar. Industri IT Pakistan bisa mendapatkan akses teknologi, pasar, dan investasi yang selama ini sulit dijangkau.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa kerja sama berskala besar selalu membawa konsekuensi. Tanpa kebijakan perlindungan industri lokal, penguatan startup domestik, dan kejelasan kepemilikan data, keuntungan jangka pendek bisa berubah menjadi ketergantungan jangka panjang.
Penutup
Penandatanganan 24 MoU teknologi antara Pakistan dan China menandai babak baru kerja sama digital kedua negara. Ini adalah peluang emas untuk mempercepat transformasi digital Pakistan. Di sisi lain, ini juga ujian besar bagi kemandirian teknologi nasional. Di era digital, pertanyaannya bukan lagi siapa bermitra dengan siapa, melainkan siapa yang memegang kendali ketika teknologi menjadi tulang punggung ekonomi.



