Di antara suasana duka dan protokol kenegaraan yang kaku, sebuah momen tak terduga terjadi di Dhaka. Tidak ada pidato. Tidak ada pernyataan resmi.
Hanya dua pria dari dua negara yang telah puluhan tahun bermusuhan. Mereka saling menatap sejenak, lalu berjabat tangan.
Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, dan Ketua Majelis Nasional Pakistan, Sardar Ayaz Sadiq, bertemu di sela pemakaman mantan Perdana Menteri Bangladesh pada akhir 2025. Kamera menangkap momen itu. Dunia pun bereaksi.
Bagi India dan Pakistan, jabat tangan bukan sekadar gestur sopan.
Ia adalah pesan politik. Ia adalah simbol. Dan sering kali, ia adalah kontroversi.
Mengapa Dunia Langsung Terkejut?
Jawabannya sederhana.
Karena hanya beberapa bulan sebelumnya, kedua negara ini hampir kembali ke jurang perang terbuka.
Pada Mei 2025, insiden keamanan di wilayah Kashmir memicu eskalasi militer paling serius dalam beberapa dekade terakhir. Serangan udara, pernyataan keras, dan mobilisasi pasukan membuat Asia Selatan kembali menahan napas.
Setelah itu, hubungan diplomatik membeku.
India bahkan menangguhkan Indus Waters Treaty, perjanjian penting yang selama lebih dari 60 tahun menjadi penyangga kerja sama teknis antara dua musuh bebuyutan ini.
Dalam situasi seperti itu, kontak fisik saja sudah terasa mustahil.
Apalagi jabat tangan.
Namun Dhaka justru menghadirkan kejutan.
Mengapa Jabat Tangan Ini Terjadi di Dhaka?
Menariknya, pertemuan ini tidak terjadi di Islamabad atau New Delhi.
Ia terjadi di negara ketiga. Di wilayah netral. Di bawah sorotan diplomat dunia.
Hal ini bukan kebetulan.
Bagi kedua negara, bertemu langsung di rumah sendiri masih terlalu sensitif. Terlalu politis. Terlalu berisiko secara domestik.
Dhaka menjadi ruang aman untuk sebuah pesan samar:
“Kami belum beramai, tapi kami juga belum sepenuhnya menutup pintu.”
Isyarat Perdamaian atau Sekadar Drama Diplomasi?
Di Pakistan, jabat tangan ini disambut dengan nada optimistis. Banyak pihak melihatnya sebagai tanda kecil bahwa jalur dialog belum sepenuhnya mati.
Media sosial pun dipenuhi narasi harapan.
Banyak yang percaya 2026 tidak harus dimulai dengan konflik baru.
Namun di India, reaksinya jauh lebih dingin. Bagi mereka, jabat tangan tanpa dialog hanyalah etika internasional.
Bukan terobosan politik.
Mengapa Jabat Tangan Ini Tetap Dianggap Penting?
Dalam politik internasional, simbol sering kali mendahului kebijakan nyata.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak dialog besar dimulai dari momen kecil yang awalnya diremehkan. Namun Asia Selatan juga penuh dengan simbol kosong yang tidak pernah berujung perubahan.
Di sinilah jabat tangan Dhaka menjadi ambigu.
Ia berdiri di antara harapan dan skeptisisme.
Dampaknya bagi Politik, Bisnis, dan Teknologi
Hubungan India–Pakistan bukan hanya soal politik.
Dampaknya terasa langsung pada dunia bisnis dan teknologi.
Ketegangan politik menciptakan:
-
Risiko investasi regional
-
Gangguan rantai pasok
-
Hambatan kerja sama teknologi lintas batas
Sebaliknya, stabilitas membuka peluang:
-
Perdagangan regional yang lebih sehat
-
Kolaborasi teknologi dan digitalisasi
-
Meningkatnya kepercayaan pasar internasional
Satu jabat tangan memang tidak mengubah segalanya.
Namun ia bisa mengubah persepsi. Dan dalam ekonomi global, persepsi sering kali sama pentingnya dengan realitas.
Penutup: Akhir Cerita atau Awal Bab Baru?
Jabat tangan di Dhaka mungkin hanya berlangsung beberapa detik.
Namun gema politiknya bisa bertahan jauh lebih lama.
Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya rumit.
Apakah ini awal dialog, atau hanya adegan singkat dalam drama geopolitik Asia Selatan?
Jika tidak ada langkah lanjutan, Dhaka akan dikenang sebagai simbol kosong.
Namun jika 2026 membawa dialog nyata, dunia akan melihat kembali momen ini sebagai titik awal perubahan.
Untuk saat ini, satu hal pasti.
Di antara dua negara yang terbiasa berbicara lewat konflik, diam dan berjabat tangan saja sudah cukup untuk membuat Asia Selatan dan dunia bertanya-tanya.



