Solusi Teknologi Pendidikan di Pakistan untuk Akses Belajar yang Lebih Baik”

Solusi Teknologi Pendidikan di Pakistan untuk Akses Belajar yang Lebih Baik”

Bagikan

“Ketika kelas offline tak lagi cukup, teknologi pun datang sebagai pahlawan bagi generasi muda Pakistan.”

Hi readers!
Indonesia dan Pakistan adalah dua negara dengan tantangan besar dalam dunia pendidikan. Namun kali ini, kita akan melihat bagaimana teknologi pendidikan di Pakistan (EdTech) hadir sebagai solusi nyata untuk menjembatani kesenjangan belajar.

Artikel ini akan membahas secara mendalam, tantangan, inisiatif, studi kasus konkret, dan rekomendasi agar teknologi benar-benar bisa menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih adil dan inklusif.

Bayangkan seorang anak di pedesaan Pakistan, koneksi internet terbatas, perangkat sedikit, dan mentor jarang. Namun kini, ia bisa belajar lewat tablet di ruang komunitas. Itu bukan sekadar mimpi — itu adalah kenyataan yang sedang dibangun lewat teknologi pendidikan di Pakistan.

Pakistan sedang menghadapi krisis akses pendidikan yang nyata. Dan teknologi menjadi harapan. Artikel ini membantu kita memahami bagaimana harapan itu diwujudkan, apa hambatannya, dan bagaimana pelajaran bisa diambil untuk negara-lain, termasuk Indonesia.

Mengapa Kesenjangan Akses Belajar Terjadi di Pakistan

Pakistan masih menghadapi krisis akses pendidikan. Berdasarkan laporan Asian Development Bank, negara ini termasuk yang paling rendah dalam kesiapan digital di sektor pendidikan di Asia.

Beberapa faktor penyebab utamanya meliputi:

  1. Rendahnya kesiapan digital

Negara ini dinilai sebagai salah satu yang “paling tidak siap” dalam hal pendidikan digital di kawasan Asia. Penilaian oleh Asian Development Bank menunjukkan bahwa di antara sepuluh negara di wilayah tersebut, Pakistan memiliki posisi terendah dalam kesiapan digital Pendidikan, mentor kurang terlatih ICT, konten digital minim, dan infrastruktur jaringan internet masih lemah.

  1. Infrastruktur dan akses yang timpang

  • Hanya sekitar 24 % rumah tangga di daerah pedesaan memiliki akses internet, dibandingkan dengan 51 % di daerah perkotaan.
  • Sebagian besar sekolah dasar berada di daerah pedesaan (sekitar 86 %) dan banyak yang memiliki akses terbatas ke internet atau perangkat digital.
  • Kurikulum, infrastruktur, dan pelatihan mentor untuk pembelajaran digital belum dibakukan secara nasional.
  1. Kesenjangan antara urban dan rural serta gender

  • Di peringkat membaca di kelas 3, siswa di daerah pedesaan Pakistan memiliki angka jauh lebih rendah dibandingkan siswa kota.
  • Banyak inisiatif digital yang belum menjangkau anak-perempuan atau daerah sangat terpencil secara optimal.
  1. Perangkat dan perangkat lunak yang terbatas

Bahkan ketika jaringan tersedia, perangkat (tablet, laptop, smartphone) sering kali menjadi penghambat. Hal ini memperkuat perbedaan akses antara yang punya dan yang tidak.

Infrastruktur digital yg belum merata, pelatihan mentor yang belum memadai, akses perangkat yang terbatas, perbedaan urban-rural/gender → membuat teknologi pendidikan belum otomatis mencapai seluruh anak di Pakistan.

Masalah-masalah ini membuat teknologi pendidikan belum menjangkau seluruh anak di Pakistan secara merata.

Solusi Teknologi yang Sedang Diterapkan

  1. Platform digital & personalisasi pembelajaran

Salah satu contoh sukses adalah Learning Passport, hasil kolaborasi UNICEF dengan pemerintah Pakistan.
Program ini menyediakan konten digital berkualitas tinggi dalam bahasa lokal untuk siswa sekolah menengah di provinsi Sindh. Fitur unggulannya antara lain:

  • Konten pelajaran sesuai kurikulum nasional.

  • Riwayat belajar tersimpan secara personal.

  • Lebih dari 4.000 siswa di 28 sekolah telah menggunakan 970 tablet yang disediakan.

  1. Media sederhana sebagai solusi rendah-teknologi

Tidak semua sekolah memiliki koneksi cepat. Karena itu, muncul pendekatan “low-tech” seperti pembelajaran lewat WhatsApp di daerah pedesaan Bahawalnagar (Punjab Selatan).
Mentor mengirim materi, video solusi, dan kuis lewat grup sesuai tingkat siswa.
Hasilnya, skor Bahasa Urdu dan Inggris meningkat signifikan.
Inisiatif ini membuktikan bahwa teknologi pendidikan tidak harus canggih — yang penting adalah akses dan relevansi.

  1. Kolaborasi Global dan Akses Perangkat

Kemitraan antara Google dan Kementerian Pendidikan Pakistan menghadirkan lebih dari 500.000 Chromebook yang dirakit secara lokal.
Tujuannya adalah memperluas akses perangkat digital, melatih mentor, dan menciptakan ruang belajar yang “smart”.


Kolaborasi lintas sektor seperti ini membuktikan bahwa perubahan besar membutuhkan kerja sama antara pemerintah, swasta, dan komunitas.

Studi Kasus

Untuk membuat ini makin konkret, mari kita lihat dua studi kasus yang menggambarkan bagaimana teknologi pendidikan berjalan di Pakistan, dengan segala kelebihan dan hambatannya.

Program Learning Passport di Sindh

Di sekolah Government Girls Comprehensive High School (GGHS) North Nazimabad, Karachi, program Learning Passport dijalankan sejak 2022.
Beberapa temuan penting dari implementasi ini:

  • Menargetkan siswa kelas 6–8 dengan distribusi 970 tablet di empat kota besar.

  • Sekitar 90% peserta adalah siswi perempuan, memperkuat inklusi gender.

  • Tantangan utama adalah koneksi internet tidak stabil dan minimnya laboratorium komputer.

  • Hasil awal, kehadiran meningkat dan siswa merasa lebih semangat belajar.

Inisiatif lokal dengan konten berbahasa daerah, kurikulum relevan, dan sistem offline terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.

 

Apa yang Membuat Solusi Ini Berhasil?

Dari studi kasus dan inisiatif di atas, kita bisa merangkum beberapa faktor kunci keberhasilan teknologi pendidikan di Pakistan:

  1. Relevansi lokal

    Bahasa lokal, konten sesuai kurikulum, memahami konteks murid (rural/urban, laki/­perempuan). Learning Passport menyediakan materi dalam bahasa lokal.

  2. Pelatihan stakeholder & dukungan profesional

    Teknologi saja tidak cukup,  perlu adanya pelatihan agar bisa menggunakan dan mengintegrasikan. Kekurangan pelatihan ini di Pakistan menjadi salah satu hambatan besar.

  3. Kolaborasi multi-sektor

    Pemerintah maupun swasta, internasional (UNICEF, Google) dan komunitas lokal. Kolaborasi Google-Pakistan untuk Chromebook misalnya.

  4. Pendekatan inklusif & fokus ke kelompok terpinggirkan

    Anak perempuan, daerah pedesaan, komunitas miskin. Inklusi ini penting agar teknologi tidak menambah jurang kesenjangan. Learning Passport dengan pengguna ~90 % siswi perempuan.

  5. Pendekatan pragmatis dalam infrastruktur

    Teknik offline, low-tech, klaster belajar, modul yang bisa digunakan di koneksi lemah. Fokus pada perangkat yang bisa offline di beberapa sekolah Pakistan.

Hambatan yang Masih Harus Diatasi

Meski banyak kemajuan, tantangan tetap ada:

  • Akses internet dan perangkat masih terbatas.

  • Kebijakan nasional belum detail dan terukur.

  • Kesenjangan antara kota dan desa masih lebar.

  • Konten digital belum selalu sesuai budaya dan bahasa lokal.

Kesimpulan

Teknologi pendidikan bukanlah “peluru ajaib” yang otomatis menyelesaikan semua persoalan, tetapi alat yang sangat potensial untuk menjembatani kesenjangan belajar, terutama di negara dengan infrastruktur dan akses yang tidak merata seperti Pakistan. Dari inisiatif-WhatsApp di pedesaan hingga program Learning Passport di kota besar, terlihat bahwa yang paling penting adalah akses, relevansi, pelatihan, dan inklusi.

Bagi kita yang berada di Indonesia, atau bekerja di bidang teknologi Pendidikan, kisah Pakistan ini memberikan inspirasi sekaligus peringatan: bahwa solusi teknologi harus disesuaikan konteks dan harus dirancang agar menjangkau semua anak, bukan hanya yang sudah punya akses.

Sumber Referensi:

Pernah belajar lewat platform digital, ikut kelas online, atau punya pengalaman menarik soal teknologi pendidikan di Pakistan atau Indonesia?

Yuk, ceritakan di kolom komentar di bawah!
Siapa tahu, dari obrolan kecil ini bisa lahir kolaborasi besar di masa depan.

 

Ayo Menelusuri