Tari Turuk Langgai: Tarian Tradisional Mentawai yang Menggambarkan Kedekatan dengan Alam

Tari Turuk Langgai: Tarian Tradisional Mentawai yang Menggambarkan Kedekatan dengan Alam

tari turuk langgai
Foto: Kumparan
Table of Contents

Tari Turuk Langgai merupakan tarian tradisional masyarakat Mentawai yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17. Berdasarkan informasi dari Wikipedia, tarian ini mengadopsi gerakan hewan yang ada di sekitar mereka. Masyarakat Mentawai percaya tarian ini merupakan cara berkomunikasi dengan roh leluhur. Biasanya tingkah laku binatang tersebut diperhatikan pada saat mereka pergi berburu dan mengerjakan tinungglu atau ladang.

Setelah pengamatan yang saksama dan berlangsung lama, maka hasil pengamatan itu dituangkan ke dalam bentuk tarian (turuk) dalam berbagai bentuk gerak atau uliat yang ditampilkan sebagai hiburan di berbagai pesta adat di Mentawai. Kedekatan dengan alam inilah yang memengaruhi semua tingkah laku orang Mentawai, termasuk ke dalam seni tari. Sehingga di berbagai tempat di Mentawai gerakan turuk hampir sama, karena meski berbeda tempat hewan yang diamati hampir sama perilakunya. Gerakan turuk juga menyimpan nilai luhur yang penting dalam kehidupan di Mentawai. Seperti turuk uliat kemut menggambarkan cinta kasih, turuk laggai uliat burung elang dan monyet (bilou) menggambarkan perdamaian antar suku.

Pelaksanaan Tari Turuk Langgai dalam Ritual Pengobatan dan Pesta Adat

Tarian ini biasanya ditarikan pada malam hari sebagai media pengobatan. Turuk laggai adalah bagian akhir dari ritual pengobatan yang dilakukan, Sikerei akan menari yang tujuannya agar roh yang sakit terhibur dan tidak meninggalkan raganya. Kalau sampai roh meninggalkan tubuh si sakit maka ia akan meninggal.

Di kejauhan tabuhan Tuddukat (alat musik dari kayu yang dilubangi tengahnya) dan Urai sayup terdengar. Urai merupakan seni olah vokal Mentawai yang dilakukan Sikerei ketika sedang menari dan di akhir setelah tarian selesai. Ketika Tuddukat dipukul maka Sikerei akan menjinjitkan kakinya, kepala menengadah ke atas, badan dibungkukkan dan tangan yang memegang dedaunan mulai bergoyang.

Dalam tarian Turuk Langgai ini ada istilah apakah sebuah kegiatan disetujui oleh leluhur atau tidak. Bila disetujui maka boleh dilanjutkan. Bila tidak maka akan mendatangkan bencana seperti penyakit hingga kematian. Biasanya untuk mengetahui jawaban roh leluhur ini ada cara khusus yang dilakukan Sikerei, seperti melalui pemotongan hewan. Untuk pengobatan, ritual tersebut tidak boleh dipertontonkan, berbeda dengan tarian yang ditampilkan sebagai hiburan.

Ada dua macam Turuk Langgai yaitu turuk puliaijat (ritual pengobatan) dan turuk punen (tarian pesta). Turuk puliaijat melibatkan roh leluhur sehingga tidak akan ditampilkan saat pesta karena hal tersebut dilarang. Turuk Langgai merupakan implementasi kedekatan alam dengan masyarakat Mentawai yang selaras dengan ajaran Arat Sabulungan (kepercayaan asli masyarakat Mentawai). Tarian ini berfungsi sebagai penyampai nilai-nilai luhur seperti persatuan, perdamaian, kemakmuran, dan cinta kasih antar suku.

Penutup

Tari Turuk Langgai menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Mentawai yang menggambarkan hubungan erat antara manusia, alam, dan roh leluhur. Melalui gerakan yang terinspirasi dari perilaku hewan serta pelaksanaannya dalam ritual pengobatan dan pesta adat, tarian ini menyimpan nilai budaya seperti persatuan, perdamaian, kemakmuran, dan cinta kasih antar suku.

Jangan lewatkan artikel menarik lainnya seputar ekonomi, kesehatan, nasional, olahraga, otomotif, religi, pariwisata, pendidikan, politik, seni budaya, dan teknologi hanya di PakistanIndonesia.com.

Last Updated: 26 July 2026, 09:00

Bagikan:

Search

Artikel Lainnya

Ayo Menelusuri