Tanaman biofarmaka merupakan tanaman obat dengan segudang khasiat dan sering dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sejak dulu. Berdasarkan informasi dari GoodStats, pemanfaatannya pun beragam, bisa untuk kesehatan, kosmetik, hingga kuliner. Pada praktiknya, tanaman obat dapat diolah menjadi jamu atau ramuan tradisional lainnya guna mengatasi berbagai keluhan kesehatan seperti batuk, nyeri, dan gangguan pencernaan. Pengobatan dengan metode ini sering kali menjadi rujukan oleh sebagian publik karena dianggap lebih aman dan minim efek samping apabila dibandingkan dengan obat kimia.
Tak hanya untuk kesehatan, produksi tanaman obat juga berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan cara mengoptimalkan budidaya dan pengolahannya menjadi produk dengan nilai jual tinggi, seperti jamu kemasan yang bisa didistribusikan dengan skala kecil.
Daftar Tanaman Biofarmaka dengan Produksi Tertinggi di Indonesia 2025
Sejalan dengan itu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terkait jumlah produksi tanaman biofarmaka di Indonesia pada tahun 2025. Laporan tersebut menunjukkan bahwa tanaman jahe memimpin jumlah produksi dengan capaian tertinggi sebesar 165,6 juta kilogram (kg). Adapun, luas panennya mencapai 6,35 ribu hektare (ha). Tanaman jahe memiliki sejumlah manfaat bagi kesehatan, mulai dari meredakan pusing, mengurangi nyeri menstruasi, hingga mengurangi rasa mual dan muntah pasca operasi.
Di urutan kedua ada kapulaga dengan capaian produksi sebesar 155,5 juta kg dan luas panennya sekitar 6,32 ribu ha. Tanaman ini umum dijumpai di dapur untuk meningkatkan aroma masakan gulai atau kari. Selanjutnya, kunyit menyusul dengan 146,5 juta kg dan luas panennya mencapai 5,32 ribu ha. Tanaman ini sering dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti penyedap masakan dan pengobatan tradisional.
Posisi keempat diduduki oleh lengkuas yang tercatat memiliki jumlah produksi sebesar 69,4 juta kg. Adapun, sejumlah khasiat dari tanaman ini, antara lain meredakan nyeri, melawan infeksi, meningkatkan daya tahan tubuh, dan mencegah penuaan dini.
Lebih lanjut, peringkat kelima diisi oleh jeruk nipis dengan capaian produksi sebanyak 55,6 juta kg. Serai berada di urutan berikutnya dengan produksi 48,6 juta kg. Sementara itu, kencur mencatat produksi sebesar 44,3 juta kg.
Jenis tanaman biofarmaka lainnya yang juga termasuk ke dalam daftar adalah temulawak. Produksinya mencapai 32,5 juta kg. Selanjutnya, lidah buaya mencatat produksi sebesar 3,6 juta kg. Sementara itu, mahkota dewa memiliki produksi sebesar 3,5 juta kg.
Penutup
Data BPS menunjukkan bahwa jahe menjadi tanaman biofarmaka dengan produksi tertinggi di Indonesia pada 2025, mencapai 165,6 juta kg, disusul kapulaga sebesar 155,5 juta kg dan kunyit sebesar 146,5 juta kg. Selain ketiganya, terdapat lengkuas, jeruk nipis, serai, kencur, temulawak, lidah buaya, dan mahkota dewa yang juga masuk dalam daftar.
Jangan lewatkan artikel menarik lainnya seputar ekonomi, kesehatan, nasional, olahraga, otomotif, religi, pariwisata, pendidikan, politik, seni budaya, dan teknologi hanya di PakistanIndonesia.com.