Di tengah hamparan padang pasir Cholistan yang membentang sunyi di Pakistan, berdiri megah destinasi wisata Derawar Fort—sebuah benteng batu bata yang menyimpan lebih dari sekadar kisah pertahanan. Tak jauh darinya, menjulanglah Masjid Abbasi, yang putih dan bersih, seolah mencerminkan niat suci para peziarah. Lebih ke arah kota, Noor Mahal, sebuah istana bercahaya, masih terawat apik, menyuarakan gema kemegahan masa lampau. Ketiga situs ini adalah warisan dari bekas Negara Bagian Bahawalpur, Pakistan, yang tak hanya menyisakan sejarah kekuasaan, tetapi juga menyimpan narasi spiritualitas yang mendalam.
Bagi bangsa seperti Indonesia dan Pakistan, sejarah dan religiusitas sering kali berpadu erat, membentuk fondasi budaya dan kehidupan masyarakat. Di tengah arus modernisasi, menyusuri jejak spiritual masa silam bukan sekadar nostalgia. Ini adalah ziarah batin yang meneguhkan kembali jati diri kita sebagai bangsa yang hidup dari nilai dan iman. Mari kita telusuri keagungan Derawar Fort, Masjid Abbasi, dan Noor Mahal yang menjadi saksi bisu peradaban Islam di Punjab.
Derawar Fort: Keteguhan Iman dalam Benteng Pasir
Dibangun oleh Nawab Bahawal Khan pada abad ke-18, Derawar Fort bukan hanya benteng pelindung dari serangan musuh. Ia juga menjadi simbol keteguhan peradaban Islam yang berdiri tegak di tengah kekeringan gurun. Dindingnya yang kokoh mencerminkan semangat jihad an-nafs—perjuangan batin yang mempertahankan nilai dan keimanan.
Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Khaldun, sejarawan dan pemikir Islam:
“Asabiyyah (solidaritas sosial) adalah kekuatan utama dalam membangun peradaban.”
Dalam konteks ini, Derawar Fort bukan sekadar bangunan fisik. Lebih dari itu, ia adalah manifestasi kekuatan kolektif umat yang berpegang teguh pada keimanan. Kisah benteng ini mengingatkan kita pada fungsi keraton di Yogyakarta atau Kesultanan Ternate di Indonesia, yang meskipun bersifat politis, tetap tak lepas dari spiritualitas keislaman.
Masjid Abbasi: Ruang Suci yang Menghidupkan Jiwa
Tidak jauh dari Benteng Derawar, Masjid Abbasi berdiri anggun dengan tiga kubah putih. Keindahannya menyerupai Masjid Badshahi di Lahore. Dibangun pada tahun 1849, masjid ini merupakan bentuk pengabdian spiritual penguasa Bahawalpur kepada Tuhannya. Masjid ini bukan hanya tempat salat, melainkan juga ruang pengajaran, tafakur, dan pemersatu masyarakat.
Jalaluddin Rumi, penyair sufi, pernah berkata:
“Pergilah, carilah masjid di dalam hatimu. Di situlah tempat sujud yang sejati.”
Masjid Abbasi tidak hanya menjadi tempat ibadah formal, tetapi juga ruang pencarian makna, tempat hati-hati menemukan kedamaian dalam ketundukan. Ruang sakral ini menjadi pengingat bahwa Islam tidak hanya dibangun lewat kekuatan, tetapi juga lewat kelembutan zikir. Fungsinya serupa dengan Masjid Agung Demak, yang dahulu menjadi pusat dakwah dan kekuatan spiritual kerajaan Islam di tanah Jawa.
Noor Mahal: Kemewahan yang Menyimpan Cahaya Spiritualitas
Dibangun oleh Nawab Sadiq Muhammad Khan IV pada abad ke-19, Noor Mahal merupakan contoh nyata dari sinkretisme arsitektur yang menawan. Gaya neoklasik Eropa berpadu harmonis dengan elemen-elemen Islam di seluruh bangunannya. Meskipun megah secara fisik, istana ini tidak kehilangan ruhnya sebagai simbol pencerahan dan spiritualitas.
Sebagaimana dikatakan oleh Al-Ghazali:
“Kebijaksanaan bukan hanya pada ilmu, tetapi pada bagaimana engkau mempergunakannya untuk mendekat kepada Allah.”
Di masa itu, ruang-ruang istana digunakan untuk diskusi intelektual, pengajaran, dan penulisan naskah-naskah keislaman. Ini adalah bentuk kebijaksanaan pemimpin dalam menciptakan peradaban spiritual yang abadi.
Penutup: Warisan Religius yang Tak Pernah Mati di Pakistan
Warisan seperti Derawar Fort, Masjid Abbasi, dan Noor Mahal bukan hanya catatan sejarah dalam buku panduan wisata. Ia adalah cermin ruh zaman yang menyuarakan nilai-nilai tauhid, keberanian, keindahan, dan pencarian makna hidup. Warisan ini berbicara kepada kita—bahwa spiritualitas Islam tidak hanya pada syariat, tetapi juga tertanam dalam batu bata, pilar, dan tiang yang dibangun dengan niat ibadah.
Bagi Indonesia dan Pakistan, dua bangsa Muslim dengan akar sejarah yang panjang, mengenal warisan seperti ini adalah bentuk penghormatan terhadap masa lalu dan kompas untuk masa depan. Karena, seperti dikatakan oleh Ali Syariati:
“Agama adalah gerakan sejarah, bukan stagnasi masa lalu.”
Mari kita terus menjaga dan mengapresiasi keagungan sejarah dan religi yang terukir di Punjab, simak terus berita dan artikel menarik lainnya hanya di PakistanIndonesia.com!
Sumber :
- Salman Rashid, Prisons, Forts and Palaces of Pakistan, Pakistan Heritage Portal
- Artikel akademik: “Architectural Heritage of Bahawalpur: A Symbol of Muslim Identity” – oleh Dr. Nosheen Ali
- 3. Travel blogs dan video dokumenter sejarah (misal: PTV World – Destination Pakistan)