Akademisi Indonesia Bidik Peluang Baru untuk Kerja Sama China-Indonesia di Sektor Pelabuhan dan Maritim

kerja sama china-indonesia
Foto: Antara News
Table of Contents

Iwan Pramesti Anwar, dosen ilmu kemaritiman dari Institut Teknologi Bandung (ITB), baru-baru ini mengunjungi Pelabuhan Tianjin seksi Beijiang. Pelabuhan tersebut merupakan terminal pintar nol karbon pertama di dunia yang menerapkan teknologi otonomos dan kecerdasan di pelabuhan modern, seperti diberitakan Antara News.

“Sungguh luar biasa! Saya belum pernah melihat begitu banyak kendaraan otonomos beroperasi di sebuah pelabuhan. Inilah perpaduan kecerdasan buatan, sistem otonomos dan sistem operasional nirawak, hebat sekali!,” katanya.

Lokakarya Internasional Bahas Pengembangan Pelabuhan dan Jalur Air

Iwan datang ke Tianjin dalam rangka mengikuti Lokakarya Teknis Internasional. Lokakarya tersebut membahas Konstruksi Pelabuhan dan Jalur Air di Negara-negara Sabuk dan Jalur Sutra (International Technical Workshop for Belt and Road Countries Port and Waterway Construction).

Ajang ini menarik lebih dari 30 pejabat pemerintah, teknisi, pengelola, dan akademisi dari 10 negara dan kawasan. Kegiatan tersebut diselenggarakan di Institut Penelitian Rekayasa Transportasi Air Tianjin (Tianjin Research Institute for Water Transport Engineering) yang berada di bawah naungan Kementerian Transportasi China.

Ajang ini berfokus pada diskusi dan studi mengenai struktur pelabuhan, pemantauan keamanan, pengiriman cerdas, serta proyek dukungan pelabuhan. Kegiatan tersebut juga melibatkan institusi ilmiah dan laboratorium lokal.

Kerja Sama ITB dan Tianjin Perkuat Sektor Kemaritiman

“Kami berharap bisa memperdalam kerja sama dan pertukaran ilmiah di bidang kemaritiman, antara ITB dan Tianjin. Praktik luar biasa di Tianjin adalah hal yang belum kami lihat di Indonesia dan pengalaman ini akan memberi dorongan vital untuk proyek-proyek pengoptimalan jalur pengiriman dan pelabuhan di Indonesia,” papar Iwan.

Hubungan Iwan dengan China jauh melampaui program pelatihan ini. “Kami memiliki banyak proyek kerja sama untuk mengatasi berbagai tantangan di Indonesia dalam kerangka Inisiatif Sabuk dan Jalur Sutra (BRI). Kami memberikan dukungan ilmiah dan melibatkan mahasiswa dalam penilaian multidisiplin,” kata Iwan.

Pada 2006, ITB dan Institut Penelitian Rekayasa Transportasi Air Tianjin memulai pertukaran personel. Selama bertahun-tahun, kedua pihak mengembangkan berbagai platform penelitian bersama. Di antaranya adalah kolam eksperimen teknik pelabuhan dan pusat penelitian yang didukung oleh mitra China. Fasilitas tersebut menyediakan dukungan teknis untuk berbagai proyek terkait di Indonesia.

“Kami telah mengumpulkan banyak pengalaman melalui kerja sama antara ITB dan Institut Tianjin. Kunjungan saya ke Tianjin kali ini juga merupakan bagian dari kerja sama jangka panjang tersebut,” kata Iwan.

Seiring berlanjutnya kerja sama Sabuk dan Jalur Sutra China-Indonesia, sejumlah proyek di bidang pembangunan pelabuhan telah membuahkan hasil nyata. Di antaranya adalah tahap pertama terminal Kawasan Industri Terpadu Indonesia-China (Jinjiang Park) dan terminal berkapasitas 70.000 ton di Kawasan Industri Nanshan di Bintan.

Kerja sama antara berbagai perusahaan dan lembaga pendidikan juga terus dipererat. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan talenta dan pengembangan teknologi.

Pelabuhan Pintar China Tunjukkan Efisiensi Operasional

Pusat tersebut juga bekerja sama dengan petugas pengatur pelabuhan, nakhoda, operator kapal tunda, dan penyedia layanan navigasi untuk mengatur jadwal kapal secara dinamis. Mereka juga menyusun rencana kedatangan dan keberangkatan kapal yang akurat hingga hitungan menit. Hasilnya, insiden kompleks di jalur utama berkurang lebih dari 30 persen, fluktuasi jadwal kapal turun dari 27 persen menjadi 13 persen, dan tingkat ketepatan waktu kapal-kapal utama mencapai 100 persen.

Dalam lokakarya tersebut, para peserta juga mengunjungi Pusat Layanan Lalu Lintas Kapal di Administrasi Keselamatan Maritim Tianjin (Tianjin VTS). Kunjungan itu dilakukan untuk mempelajari praktik-praktik China dalam pelayaran cerdas.

Yin Xianming, seorang petugas jaga di pusat tersebut, mengatakan bahwa pihaknya telah bekerja sama dengan Tianjin Port Group untuk mengatasi praktik manajemen yang terfragmentasi. Kerja sama tersebut juga bertujuan mendorong koordinasi yang lebih erat antardepartemen terkait. Melalui berbagi informasi secara waktu nyata (real-time) dan operasi yang terkoordinasi, pelabuhan tersebut berhasil meningkatkan efisiensi pergerakan kapal.

Iwan menyoroti praktik pelabuhan pintar di China. Menurutnya, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), sistem automasi, dan teknologi operasi otonomos sedang mentransformasi manajemen pelabuhan.

“Teknologi pintar tidak hanya dapat meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan mengurangi kesalahan manusia,” kata Iwan.

“BRI bukan hanya tentang pembangunan infrastruktur. Ini juga tentang berbagi pengetahuan, pengembangan bakat, dan kerja sama teknologi,” katanya.

Penutup

Keberadaan teknologi pelabuhan cerdas di Tianjin memberikan gambaran nyata bagaimana transformasi digital mampu meningkatkan efisiensi dan keselamatan operasional maritim. Pengalaman ini menjadi referensi penting bagi pengembangan sektor pelabuhan di Indonesia melalui kerja sama riset dan pertukaran pengetahuan. Kerja sama akademisi Indonesia dan China diharapkan dapat terus diperkuat untuk menjawab tantangan industri maritim global yang semakin kompleks.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar kerja sama internasional, kerja sama ekonomi, kerja sama politik, kerja sama pendidikan, kerja sama teknologi, kerja sama pariwisata, kerja sama seni budaya, kerja sama kesehatan, kerja sama otomotif, dan kerja sama religi hanya di PakistanIndonesia.com.

Last Updated: 9 June 2026, 07:30

Bagikan:

Search

Berita Lainnya

Ayo Menelusuri