Dulmuluk adalah teater kesenian tradisional yang berasal dari Kota Palembang, Sumatera Selatan. Teater Dulmuluk terinspirasi dari seorang pedagang keturunan Arab yang bernama Wan Bakar. Ia datang ke Kota Palembang pada abad ke-20. Di Kota Palembang, Wan Bakar menggelar pembacaan kisah petualangan Abdul Muluk Jauhari.
Berdasarkan informasi dari Wikipedia, salah satu manuskrip syair ini (Cod.Or. 3368) memuat kolofon yang menyebutkan bahwa Raja Ali Haji selesai mengarang syair ini pada tanggal 8 Rajab 1262 yang bertepatan dengan 2 Juli 1846 (Iskandar, 1999: 174). Ada dua pendapat penulis kitab ini yaitu Raja Ali Haji bin Raja Achmad dari Pulau Penyengat, Riau dan Saleha, sepupu Raja Ali Haji. Kitab ini kemudian dipentaskan dalam bentuk teater.
Sejarah Dulmuluk
Teater Dulmuluk adalah teater tradisional Sumatera Selatan yang lahir di Kota Palembang. Awal mula terbentuknya teater ini adalah berupa pembacaan syair oleh Wan Bakar yang membacakan tentang syair Abdul Muluk di sekitar rumahnya di Tangga Takat 16 Ulu. Agar lebih menarik, pembacaan syair kemudian disertai dengan peragaan oleh beberapa orang serta iringan musik gambus dan terbangan. Seiring perkembangan zaman, Dulmuluk juga sudah menggunakan alat musik modern, seperti organ dan keyboard.
Kisah dan Pementasan Dulmuluk
Ada dua pendapat penulis kitab ini yaitu Raja Ali Haji bin Raja Achmad dari Pulau Penyengat Indra Sakti (Riau) – versi DR. Philipus Pieter Voorda Van Eysinga (seorang hakim di Batavia) sedangkan versi Von de Wall menyebut Saleha, sepupu raja Ali Haji. Kitab ini kemudian dipentaskan dalam bentuk teatrikal.
Dalam setiap pementasan, ada enam orang pemain dan empat orang pengiring musik, yang memperagakan aktingnya di depan para penonton. Teater khas Sumatera Selatan ini menceritakan tentang kisah Abdul Muluk dan pantun-pantun jenakanya. Para pemain dulmuluk yang terkenal di antaranya: Jonhar Saad, Kemas Mangcek Abie Torik, Randi Jonhar, dan Mang Wahab Wakpet.
Penghargaan
Teater Dulmuluk yang kental dengan cerita rakyat ini merupakan tradisi seni peninggalan abad ke-19. Penampilannya selalu sukses menghibur para penontonnya, salah satunya dari grup Teater Dulmuluk dari Dewan Kesenian Sumatera Selatan (DKSS). Pada tanggal 16 Desember 2013, teater Dulmuluk ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Bangsa oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.
Penutup
Dulmuluk merupakan teater tradisional dari Palembang yang berawal dari pembacaan syair Abdul Muluk oleh Wan Bakar. Kesenian ini kemudian dipentaskan secara teatrikal dengan melibatkan pemain, pengiring musik, serta kisah Abdul Muluk dan pantun-pantun jenaka.
Jangan lewatkan artikel menarik lainnya seputar ekonomi, kesehatan, nasional, olahraga, otomotif, religi, pariwisata, pendidikan, politik, seni budaya, dan teknologi hanya di PakistanIndonesia.com.