Kurikulum Berbasis Cinta Hadir sebagai Ikhtiar Jawab Tantangan Dunia Pendidikan

kurikulum berbasis cinta
Foto: Antara
Table of Contents

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) hadir sebagai ikhtiar menjawab berbagai tantangan dunia pendidikan, seperti diberitakan MetroTV News. Antara lain, kekeringan batin, penurunan kualitas akhlak, perundungan, kekerasan, dan kebencian.

“Kita tidak ingin melahirkan anak didik yang kering batinnya, hanya tajam pikirannya. Yang kita harapkan adalah pikirannya tajam tapi hatinya juga subur,” ujar Menag.

Hal itu diungkap Menag, saat merilis Belajar Mandiri Kurikulum Berbasis Cinta di Jakarta. Menag menjelaskan Kemenag menghadirkan KBC sebagai paradigma baru dalam dunia pendidikan. Paradigma ini menekankan pendidikan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual.

Peran Guru dan ASN dalam Penyebaran Nilai Cinta

Ia mendorong para guru, penyuluh dan ASN Kemenag menjadi agen utama dalam menyebarkan nilai-nilai cinta, empati, dan kepedulian sosial, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat luas. Kurikulum Berbasis Cinta juga ingin melahirkan anak-anak Indonesia yang produktif dan berkah. Sebab, kata Menag, tidak semua produktif itu berkah dan tidak mungkin ada berkah tanpa produktif.

Tujuan dan Sasaran Kurikulum Berbasis Cinta

Sasaran utama dari program ini adalah terwujudnya ekosistem pendidikan dan kehidupan beragama yang harmonis, inklusif, dan berkeadaban. Peserta didik dan masyarakat tumbuh dengan karakter saling menghargai, toleran, serta menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

“Para peserta diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran, pembinaan umat, dan pelayanan publik secara konkret dan berkelanjutan,” kata Menag.

“Sehingga mereka akan bertoleransi satu sama lain, mereka akan mencintai sesamanya bahkan sesama makhluk, lingkungan hidupnya,” ujarnya.

Pelatihan Belajar Mandiri KBC untuk Peningkatan Guru

Sementara itu, Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Muhammad Ali Ramdhani mengatakan kegiatan belajar mandiri KBC bertujuan meningkatkan kompetensi pedagogik dan kepribadian guru serta penyuluh. Belajar Mandiri KBC yang diikuti oleh 305.344 peserta secara daring ini menunjukkan tingginya semangat guru dalam meningkatkan kapasitas dan kualitas diri di era digital.

“Tujuan dari pelatihan ini pada dasarnya adalah ingin memberikan pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan untuk menginternalisasi pemaknaan Kurikulum Berbasis Cinta,” ujar Dhani.

Penutup

Kehadiran Kurikulum Berbasis Cinta menjadi langkah penting Kementerian Agama dalam menjawab berbagai tantangan dunia pendidikan. Pendekatan ini juga menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual peserta didik. Dengan nilai cinta dan empati, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak dan berkepribadian baik.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar pendidikan, nasional, internasional, ekonomi, politik, kesehatan, religi, olahraga, pariwisata, teknologi, dan seni budaya hanya di PakistanIndonesia.com.

Last Updated: 23 April 2026, 09:17

Bagikan:

Search

Berita Lainnya

Ayo Menelusuri