RI Berkomitmen Perkuat Kerja Sama D-8 Meski KTT Ditunda

kerja sama d-8
Foto: Antara News
Table of Contents

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan bahwa Indonesia tetap berkomitmen untuk memperkuat kerja sama negara-negara anggota D-8. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan yang membahas tantangan bersama meski pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8 ditunda, seperti diberitakan Antara News.

Menurut keterangan tertulis Kemlu RI di Jakarta, komitmen tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI, Heru H. Subolo. Pernyataan itu disampaikan dalam Preliminary Discussion D-8 Youth Dialogue bertema “Navigating Uncertainty, Building Resilience” yang digelar di Universitas Airlangga, Surabaya.

Kegiatan diskusi tersebut diselenggarakan oleh Kemlu RI bekerja sama dengan Universitas Airlangga (Unair). Forum ini juga menjadi salah satu capaian keketuaan Indonesia di D-8 periode 2026-2027. Heru meyakini bahwa kemitraan dengan lembaga nonpemerintah dapat memperkaya perspektif, rekomendasi, dan solusi. Menurutnya, hal tersebut dapat dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan para ahli yang menghasilkan pendekatan inovatif dan inklusif.

Diskusi Bahas Ketahanan Energi dan Pangan

Diskusi tersebut berfokus pada dua dari lima isu prioritas keketuaan D-8 Indonesia, yakni “Energy Resilience in the Midst of Global Uncertainty” dan “Food Security in a Time of Crisis”. Pembahasan menyoroti pentingnya ketahanan energi dan pangan yang didukung oleh ekosistem berkelanjutan, termasuk pasokan yang aman, ruang fiskal yang sehat, transisi yang adil, serta penerimaan sosial yang kuat.

Selain itu, diskusi juga menempatkan pemuda sebagai salah satu pilar penting dalam masyarakat. Generasi muda dinilai memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran bersama serta memelopori berbagai kegiatan konkret yang berorientasi pada solusi.

Terkait hal tersebut, Wakil Rektor Unair Bidang Riset, Inovasi, dan Community Development, Muhammad Miftahussurur, menyerukan agar perguruan tinggi dapat menjadi katalisator dalam pelaksanaan rekomendasi yang dihasilkan dari kegiatan tersebut. Ia juga mendorong kampus untuk mendukung berbagai misi D-8 yang bertujuan memecahkan tantangan bersama.

D-8 Dinilai Berpotensi Jadi Kekuatan Menengah Global

Sementara itu, Deputi II Bidang Polugri Kemenkopolkam, Muhammad K. Koba, mengatakan bahwa D-8 memiliki karakter unik sebagai aliansi ekonomi lintas kawasan Global South. Organisasi tersebut mencakup negara-negara di Asia Selatan, Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika.

Menurutnya, karakter tersebut membuat D-8 berpotensi menjadi kelompok kekuatan menengah (middle-power group). D-8 dinilai mampu berperan sebagai penyeimbang di tengah rivalitas kekuatan besar, fragmentasi tatanan global, dan meningkatnya proteksionisme.

Kegiatan diskusi tersebut dihadiri sekitar 150 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya. Peserta berasal dari Universitas Airlangga (Unair), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Surabaya (UBAYA), Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Universitas Ciputra, Universitas Hang Tuah, UIN Sunan Ampel, dan UPN Veteran Jawa Timur.

Penutup

Komitmen Indonesia untuk memperkuat kerja sama D-8 tetap berlanjut meski pelaksanaan KTT D-8 ditunda. Melalui forum D-8 Youth Dialogue, Indonesia mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan generasi muda dalam membahas berbagai tantangan bersama. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari keketuaan Indonesia di D-8 periode 2026-2027.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar internasional, nasional, ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, teknologi, religi, olahraga, pariwisata, blog, dan seni budaya hanya di PakistanIndonesia.com.

Last Updated: 6 June 2026, 07:30

Bagikan:

Search

Berita Lainnya

Ayo Menelusuri