Tanggul NCICD Ancol Barat Perkuat Perlindungan Pesisir Jakarta dari Ancaman Rob

Konstruksi tanggul NCICD menjadi langkah strategis menjaga kawasan pesisir tetap aman dan beraktivitas normal.Sumber gambar: ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin

Bagikan

 

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat perlindungan pesisir melalui pembangunan tanggul National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) Fase A di Kawasan Ancol Barat. Proyek ini menjadi upaya penting untuk mengendalikan ancaman banjir rob yang meningkat akibat penurunan tanah dan kenaikan permukaan laut.

Hingga 17 November 2025, konstruksi telah mencapai 1.925 meter dari total 2.070 meter. Masih tersisa 145 meter yang ditargetkan rampung pada Desember 2025. Pembangunan dilakukan di Segmen Ancol Barat–Asahimas, salah satu titik paling rentan terhadap limpasan air laut di pesisir utara Jakarta.


Progres Pembangunan Tanggul NCICD Ancol Barat

Pembangunan tanggul NCICD Fase A ini merupakan bagian dari rangkaian pengamanan pesisir yang menjadi prioritas Pemprov DKI Jakarta dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan laporan Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta, progres telah mencapai kisaran 93% untuk keseluruhan konstruksi sepanjang 2,07 kilometer .

Struktur tanggul dibangun menggunakan material beton bertulang dengan desain yang disesuaikan untuk menahan limpasan air laut saat pasang tinggi. Penguatan fondasi dilakukan pada beberapa titik untuk memastikan tanggul dapat bertahan dalam jangka panjang, mengingat wilayah pesisir Jakarta mengalami penurunan tanah tahunan rata-rata 3–7 cm di sejumlah lokasi .


Ancaman Banjir Rob dan Pentingnya Tanggul Pengaman

Tanggul NCICD sebagai Solusi Utama

Banjir rob menjadi ancaman tahunan bagi wilayah pesisir Jakarta, terutama Jakarta Utara. Menurut laporan media lokal , rob dapat merendam permukiman, merusak infrastruktur, dan mengganggu aktivitas ekonomi warga pesisir.

Segmen Ancol Barat–Asahimas masuk kategori area rawan karena berada dekat zona penurunan muka tanah tertinggi. Pembangunan tanggul NCICD di kawasan ini ditujukan untuk mengurangi risiko limpasan air laut yang dapat mencapai permukiman warga. Dengan sistem ketinggian tanggul yang telah disesuaikan dengan proyeksi pasang maksimum, konstruksi ini diharapkan memberi perlindungan jangka panjang.

Dampak Sosial dan Lingkungan

Selain mencegah banjir rob, keberadaan tanggul juga meningkatkan kenyamanan warga sekitar. Banyak warga di pesisir utara mengeluhkan rob musiman yang dapat berlangsung berhari-hari, mengganggu aktivitas kerja, sekolah, dan transportasi lokal . Kehadiran tanggul NCICD diharapkan dapat memberikan rasa aman sekaligus mendongkrak aktivitas ekonomi setempat.

Sisi lain dari pembangunan tanggul juga menyangkut adaptasi lingkungan. Pemerintah memastikan pembangunan tetap memperhatikan aspek ekologi, termasuk sistem aliran air dan habitat pesisir. Tahapan pengecekan rutin turut dilakukan agar struktur tidak mengganggu keseimbangan alami kawasan .


Percepatan Penyelesaian dan Target Akhir Tahun

Pemprov DKI menargetkan sisa 145 meter tanggul selesai pada Desember 2025. Penentuan target ini didasarkan pada kebutuhan mendesak menghadapi musim pasang tinggi akhir tahun. Proses percepatan mencakup penambahan alat berat, optimalisasi tenaga kerja, dan percepatan suplai material konstruksi .

Proyek ini juga mendapat perhatian publik setelah unggahan dari akun resmi Pemprov DKI di Instagram pada November 2025, yang menampilkan dokumentasi visual progres pembangunan. Berdasarkan unggahan tersebut, terlihat bahwa sebagian besar struktur sudah berdiri kokoh dan tinggal memasuki tahap finishing. Informasi pada unggahan tersebut kini dijadikan acuan perkembangan terbaru, meskipun datanya bersifat kisaran sesuai informasi publik yang tersedia.


Perkembangan Banjir Rob Terbaru di Jakarta

Laporan banjir rob di Jakarta terus muncul sepanjang 2025, menunjukkan urgensi pembangunan tanggul NCICD. Pada 6 November 2025, banjir rob merendam beberapa titik di Jakarta Utara dengan ketinggian air mencapai 15–25 cm, termasuk kawasan Pluit dan Jalan RE Martadinata . Situasi ini diperparah oleh peringatan BMKG mengenai potensi rob pada 3–12 November 2025 akibat fenomena perigee dan purnama, yang meningkatkan ketinggian pasang laut.

Selain itu, Dinas Kominfotik DKI menetapkan 12 kelurahan pesisir dalam status waspada rob hingga 11 November 2025, termasuk Kamal Muara, Penjaringan, Pluit, Ancol, Marunda, dan sejumlah wilayah lainnya . Pemprov DKI merespons dengan menyiagakan Pasukan Biru dan ratusan pompa stasioner maupun mobile di titik-titik kritis. Pada beberapa kasus, seperti 22 November 2025, BPBD melaporkan banjir rob sudah surut pada sore hari setelah dilakukan penanganan pompa dan upaya lapangan intensif .

Fenomena astronomi seperti super new moon juga memperkuat potensi rob. Misalnya, pada akhir April hingga awal Mei 2025, Kompas melaporkan bahwa kondisi ini berpotensi menyebabkan rob di 11 wilayah pesisir Jakarta, termasuk Pluit, Ancol, Kapuk Muara, dan Muara Angke. Situasi ini mempertegas pentingnya penyelesaikan tanggul NCICD sebagai perlindungan jangka panjang.


Dengan terus berjalannya pembangunan tanggul NCICD Fase A di Ancol Barat, Jakarta semakin memperkuat ketahanan pesisirnya terhadap ancaman banjir rob. Upaya mitigasi seperti ini tidak hanya berfungsi sebagai perlindungan fisik, tetapi juga simbol komitmen pemerintah dalam menjaga keselamatan dan kenyamanan warga pesisir.

Untuk mengetahui perkembangan terbaru seputar infrastruktur, kebijakan lingkungan, dan penanggulangan banjir di Jakarta, pembaca dapat mengikuti berita selengkapnya melalui kanal resmi PakistanIndonesia.com. Banyak informasi menarik lainnya yang dapat memperluas wawasan Anda mengenai pembangunan kota dan perlindungan wilayah pesisir.

Ayo Menelusuri