FIGURA menjadi program terbaru yang diluncurkan International Creatives Exchange (ICE) pada awal 2026. Program ini hadir sebagai ruang narasi alternatif yang menyoroti sisi lain para tokoh Indonesia.
Alih-alih menampilkan pencapaian akhir, FIGURA mengajak publik melihat proses panjang di balik kesuksesan. Kisah masa lalu, keterbatasan, dan keputusan hidup ditampilkan sebagai bagian penting perjalanan tokoh.
Apa Itu FIGURA ICE?
FIGURA atau Figur Nusantara merupakan program literasi naratif yang digagas International Creatives Exchange (ICE) untuk mendokumentasikan perjalanan hidup tokoh-tokoh Indonesia dari sudut pandang yang jarang disorot. Program ini menempatkan kisah masa lalu, pergulatan batin, keterbatasan ekonomi, hingga keputusan hidup sebagai bagian utama cerita, bukan sekadar pelengkap dari kesuksesan.
Melalui FIGURA, tokoh tidak diposisikan sebagai figur sempurna, melainkan sebagai manusia utuh dengan pengalaman jatuh dan bangkit. Setiap kisah disajikan dalam bentuk karya tulis yang menekankan kejujuran pengalaman, refleksi personal, serta nilai pembelajaran yang dapat diambil pembaca.
FIGURA juga dirancang sebagai arsip narasi kebangsaan. ICE melihat pentingnya dokumentasi pengalaman personal tokoh Indonesia agar generasi berikutnya tidak hanya mengenal nama besar, tetapi juga memahami proses panjang yang membentuk karakter dan integritas mereka.
Latar Belakang Kehadiran FIGURA
Latar belakang kehadiran FIGURA berangkat dari kegelisahan terhadap narasi publik yang kerap menampilkan kesuksesan sebagai sesuatu yang instan. Dalam banyak pemberitaan dan konten populer, perjalanan hidup tokoh sering kali dipangkas hanya pada pencapaian akhir, sementara proses panjang penuh pengorbanan nyaris tidak mendapat ruang.
ICE meyakini bahwa pola narasi semacam itu dapat menciptakan jarak antara publik dan figur publik. Kesuksesan yang ditampilkan tanpa konteks perjuangan berpotensi membentuk ekspektasi keliru, terutama bagi generasi muda yang sedang membangun mimpi dan identitas diri.
Melalui FIGURA, ICE ingin menghadirkan narasi tandingan yang lebih jujur dan manusiawi. Masa lalu tokoh diposisikan sebagai bagian penting dari perjalanan hidup, termasuk fase keterbatasan ekonomi, rasa takut, keraguan, hingga keputusan sunyi yang menentukan arah masa depan.
Pendekatan ini diharapkan dapat menumbuhkan empati dan daya tahan mental pembaca. Dengan memahami bahwa setiap pencapaian lahir dari proses panjang, FIGURA tidak hanya menjadi program cerita, tetapi juga medium refleksi sosial dan edukasi karakter.
Kesaksian Atta Karim dalam Program FIGURA
Salah satu tokoh yang terlibat dalam FIGURA adalah Atta Karim. Dalam keterangannya, Atta menekankan bahwa setiap peran publik selalu memiliki cerita manusia di baliknya.
“Di balik setiap peran publik, selalu ada perjalanan manusia di mana akan mengalami keraguan, keputusan sunyi, dan keberanian mengambil tindakan di antara kebuntuan yang ada,” kata Atta, Rabu (7/1/2026) .
Atta juga menyinggung bahwa kesuksesan yang terlihat hari ini kerap menutupi masa lalu yang penuh keterbatasan.
“Orang lain pasti tidak akan menyangka, saya pernah beberapa kali makan daun mentah untuk menahan rasa lapar saya ketika masih anak-anak,” kenang Atta.
Ia mengungkapkan bahwa keterbatasan ekonomi membuatnya terbiasa hidup dengan menu sederhana.
“Dahulu sayur favorit saya di rumah adalah sayur okra. Bukan karena suka, tapi terpaksa karena tidak sanggup membeli daging,” tuturnya.
Delapan Program ICE dan Posisi FIGURA di Dalamnya
International Creatives Exchange (ICE) menyebut memiliki delapan program di ranah kreativitas, literasi, dan pertukaran gagasan. Meski tidak seluruh program dirinci secara terbuka, ICE menegaskan bahwa FIGURA merupakan bagian dari program Tutur Bangsa. Program ini berfokus pada karya tulis dan narasi kebangsaan.
Tutur Bangsa dirancang sebagai payung besar untuk mendokumentasikan kisah, pemikiran, dan perjalanan tokoh Indonesia. Pendekatan yang digunakan berbasis literasi. Di dalamnya, FIGURA hadir sebagai subprogram yang menggali sisi personal tokoh. Fokus utamanya adalah fase hidup yang jarang tersorot publik.
Selain Tutur Bangsa dan FIGURA, ICE juga menjalankan berbagai program lain. Kegiatannya mencakup pengembangan kreativitas, forum diskusi, dan agenda edukasi. ICE juga mendorong pertukaran ide lintas sektor. Seluruh program diarahkan untuk membangun ekosistem kreatif yang berkelanjutan. Tujuan lainnya adalah memperluas ruang dialog antara pelaku kreatif, publik, dan pemangku kepentingan.
Dalam keterangannya, Atta Karim menyebut keberagaman program ini memiliki tujuan utama. Pesan kebangsaan dan nilai kemanusiaan ingin disampaikan melalui berbagai medium. ICE tidak ingin bergantung pada satu format tunggal.
“ICE saat ini memiliki delapan program. Salah satunya adalah Tutur Bangsa. FIGURA menjadi bagian dari Tutur Bangsa karena berkaitan langsung dengan karya tulis,” ujar Atta.
Melalui pendekatan tersebut, ICE berharap setiap program dapat saling melengkapi. FIGURA berperan sebagai pintu masuk narasi personal. Sementara itu, program lain memperluasnya ke ruang diskusi, edukasi, dan kolaborasi kreatif.
Kehadiran FIGURA ICE menambah warna baru dalam lanskap konten inspiratif Indonesia. Program ini menghadirkan narasi yang lebih jujur, dekat, dan relevan dengan realitas kehidupan masyarakat.
Ikuti terus perkembangan program FIGURA dan kisah inspiratif lainnya hanya di PakistanIndonesia.com. Temukan cerita tokoh Indonesia dari sudut pandang yang jarang diungkap.




