Kemenbud Dorong Memperkuat Seni Rupa RI di Venice Biennale 2026

venice biennale 2026
Foto: Antara News
Table of Contents

Kementerian Kebudayaan mendorong upaya diplomasi kebudayaan untuk memperkuat posisi seni rupa Indonesia. Langkah itu dilakukan dengan menghadirkan Paviliun Indonesia pada Pameran Seni Internasional ke-61 La Biennale di Venesia, Italia, atau Venice Biennale 2026, seperti diberitakan Antara News.

Dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta pada Jumat, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa partisipasi Indonesia di Venice Biennale 2026 memiliki arti penting. Menurut dia, kehadiran tersebut menjadi bagian dari penguatan diplomasi kebudayaan Indonesia di tingkat global.

Partisipasi Indonesia di Venice Biennale 2026

Menurut dia, kehadiran Indonesia tahun ini menjadi momentum penting karena merupakan partisipasi pertama di bawah Kementerian Kebudayaan yang berdiri sendiri. Dalam hal ini diyakini budaya bukan sekadar warisan, tetapi juga fondasi bagi masa depan.

“Indonesia hadir bukan hanya untuk memperkenalkan kebudayaan kepada dunia, tetapi juga untuk ikut membentuk percakapan global melalui seni,” ujar Menbud Fadli Zon.

Paviliun Indonesia berlokasi di Scuola Internazionale di Grafica, Cannaregio 1798, Venesia. Hari pratinjau dijadwalkan pada 7 Mei 2026. Sementara itu, masa pameran berlangsung pada 9 Mei hingga 22 November 2026.

Mengusung tajuk “Printing the Unprinted”, Paviliun Indonesia diselenggarakan oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan. Kegiatan ini mendapat dukungan dari Danantara Indonesia Trust Fund serta berkolaborasi dengan Scuola Internazionale di Grafica, Negeri Elok, Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya, dan Venice Art Factory.

Kurasi Paviliun, Seniman, dan Potensi Budaya Indonesia

Indonesia, kata Menbud Fadli, memiliki salah satu ekosistem budaya paling dinamis di dunia. Bahkan warisan prasejarah Indonesia menunjukkan bahwa kepulauan ini telah lama menjadi salah satu pusat kreativitas tertua umat manusia.

“Dengan kekayaan budaya yang dimiliki, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi salah satu pusat kebudayaan dunia, tempat tradisi, imajinasi, dan masa depan bertemu,” tutur dia.

Paviliun Indonesia dikuratori oleh Aminudin TH Siregar. Dalam proses kuratorialnya, Scuola Internazionale di Grafica dipilih sebagai lokasi paviliun karena memiliki kedekatan dengan praktik seni grafis, cetak, dan produksi artistik berbasis proses.

Menurut Menbud, tema “Printing the Unprinted” merupakan perayaan atas kekuatan imajinasi yang melampaui batas-batas realitas.

“Melalui karya-karya yang ditampilkan di paviliun ini, para seniman Indonesia menghadirkan narasi-narasi imajinatif yang mengisi ruang-ruang yang belum tercatat, suara-suara yang belum terdengar, ingatan yang terlupakan, dan masa depan yang belum pernah dibayangkan,” kata dia.

“Printing the Unprinted” mempertemukan tujuh seniman Indonesia lintas generasi. Mereka adalah Agus Suwage, Syahrizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.

Melalui medium seni cetak grafis atau printmaking, para seniman menghadirkan proses penciptaan sebagai ruang perjumpaan dan pertukaran gagasan. Mereka juga menghadirkan pembacaan ulang terhadap sejarah, identitas, dan imajinasi Nusantara. Secara konseptual, pameran ini berangkat dari narasi fiksi tentang pelayaran besar abad ke-15 yang terinspirasi dari manuskrip imajiner Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit di Sumatra.

Program Paviliun dan Kolaborasi Talenta Indonesia

Selain pameran utama, Paviliun Indonesia juga menghadirkan rangkaian program berupa residensi seniman, diskusi seni, lokakarya, dan simposium. Seluruh program dirancang untuk memperkuat pertukaran pengetahuan dan memperluas jejaring seni Indonesia. Program tersebut juga menghadirkan praktik artistik yang berbasis proses dan kolaborasi.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem talenta seni budaya, Kementerian Kebudayaan melalui program Manajemen Talenta Nasional Seni Budaya (MTN) bersama kurator mengajak Negeri Elok untuk terlibat dalam program tersebut. Kolaborasi ini turut melibatkan tujuh talenta Indonesia.

Tujuh talenta Indonesia tersebut berkolaborasi dengan tujuh seniman Paviliun Indonesia dalam proses penciptaan dan pertukaran gagasan di Venesia. Kolaborasi tersebut menggunakan pendekatan art therapy yang menempatkan seni tidak hanya sebagai ekspresi estetik, tetapi juga sebagai medium untuk membangun empati, merawat memori, meredakan trauma, serta memperkuat ketahanan personal dan kolektif.

“Budaya sumber identitas, nilai, dan imajinasi, sementara ekonomi kreatif menjadi kekuatan yang mengubah budaya menjadi inovasi, peluang, dan pengaruh global. Karena itu, Indonesia terus memperkuat hubungan antara seni, tradisi, dan industri kreatif, mulai dari seni visual, film, musik, sastra, hingga animasi, gim, dan budaya digital,” ujar dia.

Melalui pameran “Printing the Unprinted”, Paviliun Indonesia tidak hanya menghadirkan karya seni. Pameran ini juga menawarkan cara pandang tentang sejarah, imajinasi, dan masa depan kebudayaan.

Penutup

Partisipasi Indonesia di Venice Biennale 2026 menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperkuat diplomasi kebudayaan melalui seni rupa. Kehadiran Paviliun Indonesia juga menjadi ruang penting untuk memperkenalkan kreativitas seniman nasional di panggung internasional. Momentum ini diharapkan mampu membuka peluang kolaborasi baru bagi perkembangan seni dan budaya Indonesia ke depan.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar seni budaya, olahraga, pariwisata, internasional, ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, teknologi, religi, dan otomotif hanya di PakistanIndonesia.com.

Last Updated: 10 May 2026, 08:00

Bagikan:

Search

Berita Lainnya

Ayo Menelusuri