Menteri Kebudayaan Fadli Zon berharap Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) Market 2026 terus berkembang menjadi pasar film bertaraf internasional. Pasar film tersebut diharapkan mampu mempertemukan pelaku industri dari berbagai negara, layaknya Marche du Film di Festival Film Cannes, seperti diberitakan Antara News.
“Saya harapkan nanti ke depannya JAFF Market itu semacam Marche du Film,” kata Fadli saat konferensi pers JAFF Market 2026 di Jakarta.
Menurut Fadli, keberadaan pasar film menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem perfilman yang berkelanjutan. Pasar film mampu mempertemukan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari talenta, kreator, produser, sutradara, penulis skenario, hingga investor.
Ia mengatakan model film market seperti itu telah menjadi praktik umum di berbagai negara. Ia mengaku telah mengunjungi Hong Kong Filmart dan Marche du Film di Cannes untuk melihat secara langsung bagaimana pasar film mampu mendorong kolaborasi dan lahirnya proyek-proyek baru.
“Ini menurut saya satu platform yang sangat bagus. Saya sangat mengapresiasi hadirnya JAFF Market ini karena menjadi bagian yang penting untuk sustainability,” ujarnya.
JAFF Market Diharapkan Perluas Kolaborasi Industri Film
Ia berharap penyelenggaraan JAFF Market pada tahun ini dapat menarik lebih banyak peserta internasional. Peserta tersebut diharapkan tidak hanya berasal dari Indonesia, tetapi juga dari negara-negara ASEAN, Asia, hingga kawasan lain di dunia.
Menurut Fadli, meningkatnya partisipasi internasional akan membuka peluang lebih besar bagi sineas Indonesia. Peluang tersebut mencakup kerja sama produksi bersama (co-production) maupun menjalin kemitraan dengan pelaku industri global.
“Tentu kita harapkan semakin banyak peserta dari luar negeri,” katanya.
Fadli menilai potensi tersebut perlu didukung dengan portofolio industri yang kuat. Dengan demikian, pelaku perfilman mancanegara memiliki alasan untuk datang dan membangun kerja sama di Indonesia.
Penguatan Perfilman Nasional Jadi Fokus Pemerintah
Ia menambahkan Kementerian Kebudayaan berkepentingan memperkuat perfilman nasional. Menurutnya, film merupakan salah satu media yang memuat beragam ekspresi budaya, mulai dari seni peran, musik, fesyen, kuliner hingga promosi wisata budaya.
Karena itu, pemerintah terus memperkuat ekosistem perfilman dari hulu hingga hilir. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan sumber daya manusia, peningkatan kualitas penulisan skenario, serta dukungan terhadap tema-tema yang dinilai masih memerlukan afirmasi.
Fadli juga berharap kolaborasi antara pemerintah, komunitas, asosiasi perfilman, dan pelaku industri dapat terus diperkuat. Menurutnya, langkah tersebut dapat mendorong film Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga mampu menjangkau pasar internasional.
“Yang kita harapkan bukan hanya di Indonesia, bukan hanya jago kandang, tapi kita ingin film Indonesia itu ditonton juga oleh masyarakat internasional,” katanya.
JAFF Market 2026 dijadwalkan berlangsung pada 28 November hingga 30 November di Yogyakarta. Ajang tersebut akan mempertemukan pelaku industri perfilman, investor, distributor, dan kreator untuk memperkuat ekosistem perfilman Indonesia.
Penutup
JAFF Market 2026 diharapkan menjadi momentum penting bagi perkembangan industri perfilman Indonesia di tingkat internasional. Melalui ajang ini, kolaborasi antara sineas, investor, distributor, dan pelaku industri kreatif dari berbagai negara diharapkan semakin meningkat. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem perfilman nasional sekaligus memperluas jangkauan film Indonesia ke pasar global.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar seni budaya, olahraga, pariwisata, internasional, ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, teknologi, religi, dan otomotif hanya di PakistanIndonesia.com.