Sekolah Rakyat Banyumas dan Sukoharjo Siap Beroperasi, Kuota SD Masih Belum Terpenuhi

Sekolah Rakyat Banyumas Sukoharjo
Program Sekolah Rakyat menjadi langkah nyata dalam memperluas akses pendidikan sekaligus membangun karakter peserta didik melalui sistem pembelajaran berasrama. Sumber gambar: Humas Pemkab Banyumas.
Table of Contents

Sekolah Rakyat di Banyumas dan Sukoharjo bersiap memulai kegiatan belajar pada tahun ajaran 2026/2027. Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat terus mematangkan kesiapan fasilitas, tenaga pendidik, dan penerimaan peserta didik. Meski demikian, kuota jenjang sekolah dasar (SD) di beberapa lokasi masih belum terpenuhi. Kondisi ini terjadi karena sebagian orang tua belum siap melepas anak mereka tinggal di asrama. (RRI Purwokerto, 2026; detikJateng, 2026)

Sekolah Rakyat Banyumas Siapkan Kapasitas 270 Siswa

Pemerintah Kabupaten Banyumas menyiapkan Sekolah Rakyat sebagai bagian dari program pendidikan berasrama. Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga yang memenuhi kriteria penerima manfaat. Sekolah tersebut dirancang menampung hingga 270 peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan. (RRI Purwokerto, 2026)

Kesiapan fasilitas terus dipercepat menjelang dimulainya proses pembelajaran. Pembangunan fisik dan persiapan operasional dilakukan agar sekolah dapat berfungsi sesuai jadwal yang telah ditetapkan. (RRI Purwokerto, 2026)

Pemerintah daerah masih menghadapi tantangan pada proses penerimaan siswa jenjang SD. Sebagian besar kuota untuk tingkat SMP dan SMA telah terpenuhi. Sementara itu, kuota SD masih memerlukan tambahan peserta didik. (RRI Purwokerto, 2026)

Banyak orang tua belum bersedia memasukkan anak usia sekolah dasar ke sistem pendidikan berasrama. Mereka masih merasa berat berpisah dengan anak yang usianya relatif muda. (RRI Purwokerto, 2026)

Faktor Asrama Menjadi Pertimbangan Orang Tua

Model pendidikan Sekolah Rakyat mengharuskan peserta didik tinggal di lingkungan sekolah selama mengikuti pembelajaran. Sistem ini bertujuan membangun karakter dan kedisiplinan. Selain itu, peserta didik juga memperoleh pendampingan pendidikan secara menyeluruh. (RRI Purwokerto, 2026; detikJateng, 2026)

Kebijakan tersebut masih menjadi pertimbangan bagi keluarga yang memiliki anak usia SD. Banyak orang tua belum siap melepas anak mereka tinggal jauh dari rumah dalam waktu yang cukup lama. (RRI Purwokerto, 2026)

Pemerintah daerah terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat. Langkah ini bertujuan memberikan pemahaman mengenai konsep pendidikan, sistem pengasuhan, dan fasilitas yang tersedia di Sekolah Rakyat. (RRI Purwokerto, 2026)

Alasan kuota SD belum terpenuhi antara lain:

  • Orang tua belum siap melepas anak usia SD tinggal di asrama.
  • Usia peserta didik dinilai masih membutuhkan pendampingan keluarga.
  • Masyarakat masih memerlukan pemahaman mengenai konsep Sekolah Rakyat.
  • Pemerintah masih melakukan sosialisasi kepada calon peserta didik dan keluarga.

Sekolah Rakyat Sukoharjo Percepat Persiapan Tahun Ajaran Baru

Selain Banyumas, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo juga mempersiapkan operasional Sekolah Rakyat permanen yang ditargetkan mulai menerima peserta didik pada tahun ajaran 2026/2027. Sekolah tersebut dibangun di atas lahan sekitar 5,2 hektare dengan kapasitas mencapai 1.080 siswa yang mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA (Radar Solo, 2026; detikJateng, 2026).

Pemerintah menargetkan operasional sekolah dimulai pada pertengahan Juli 2026. Berbagai sarana pembelajaran, asrama, ruang guru, laboratorium, rumah ibadah, hingga fasilitas penunjang lainnya telah dipersiapkan untuk mendukung proses belajar mengajar secara penuh berbasis asrama (detikJateng, 2026).

Radar Solo melaporkan bahwa Sekolah Rakyat di Sukoharjo juga memprioritaskan tenaga pendidik yang berasal dari daerah setempat. Kebijakan tersebut diharapkan dapat mempermudah proses adaptasi siswa sekaligus memperkuat sinergi antara sekolah dan masyarakat sekitar (Radar Solo, 2026).

Orang Tua Masih Menjadi Faktor Utama Pemenuhan Kuota SD

Pemerintah mengakui bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada kesiapan bangunan, melainkan pada pemenuhan kuota siswa jenjang SD. Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menjelaskan bahwa kuota SMP dan SMA telah terpenuhi, sedangkan kuota SD masih berada di bawah target karena banyak orang tua belum siap melepas anak usia sekolah dasar tinggal di asrama (detikJateng, 2026).

Sebagai solusi, pemerintah menyiapkan berbagai fasilitas pendukung, termasuk guest house bagi orang tua yang ingin menjenguk anak sewaktu-waktu. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi kekhawatiran keluarga terhadap sistem pendidikan berasrama yang diterapkan di Sekolah Rakyat (detikJateng, 2026).

Beberapa fokus pengembangan Sekolah Rakyat meliputi:

  • Menyediakan pendidikan gratis bagi peserta didik sesuai kriteria program.
  • Menyiapkan fasilitas pembelajaran dan asrama yang memadai.
  • Memprioritaskan guru lokal untuk mendukung proses pendidikan.
  • Memberikan lingkungan belajar yang mendukung pembentukan karakter.
  • Menyediakan fasilitas kunjungan keluarga melalui guest house.

Persiapan Sekolah Rakyat di Banyumas dan Sukoharjo menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat yang membutuhkan. Infrastruktur sekolah terus diselesaikan, sementara proses penerimaan peserta didik masih dioptimalkan, khususnya pada jenjang SD yang menghadapi tantangan berupa kesiapan orang tua terhadap sistem pendidikan berasrama (RRI Purwokerto, 2026; Radar Solo, 2026; detikJateng, 2026).

Ikuti terus informasi terbaru mengenai kebijakan pendidikan, program pemerintah, dan perkembangan Sekolah Rakyat hanya di PakistanIndonesia.com. Temukan pula artikel menarik lainnya untuk memperoleh informasi yang akurat dan terpercaya.

Referensi

Last Updated: 3 July 2026, 22:15

Bagikan:

Search

Berita Lainnya

Ayo Menelusuri