3 Peluang Bisnis Pariwisata Indonesia di Era Digital

3 Peluang Bisnis Pariwisata Indonesia di Era Digital

3 Peluang Bisnis Pariwisata Indonesia di Era Digital
Table of Contents

Pakistanindonesia.com – Laut Indonesia bukan sekadar sumber pangan. Di balik aktivitas nelayan, tambak, dan industri pengolahan, terdapat bisnis ekspor bernilai miliaran dolar yang terus mencari pasar baru. Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat nilai ekspor produk perikanan Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$6,27 miliar, naik 5,2 persen dibandingkan 2024. Angka tersebut menunjukkan bahwa komoditas laut Indonesia masih memiliki ruang besar di pasar internasional.

Yang menarik, peluangnya tidak hanya datang dari satu jenis ikan. Udang, tuna-cakalang, cumi-sotong-gurita, rajungan-kepiting, hingga rumput laut menjadi bagian penting dari struktur ekspor perikanan Indonesia. Pada semester I 2026, ekspor produk perikanan bahkan mencapai 566,25 ribu ton dengan nilai US$3 miliar. Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia memiliki produk laut untuk diekspor, tetapi bisnis mana yang mampu menangkap nilai terbesar dari permintaan global tersebut?

1. Udang Masih Menjadi Mesin Utama Ekspor

Peluang pertama datang dari udang. KKP mencatat komoditas ini menjadi penyumbang terbesar ekspor perikanan Indonesia pada 2025 dengan nilai US$1,87 miliar, atau sekitar 29,8 persen dari total ekspor. Posisi tersebut menunjukkan kuatnya permintaan internasional terhadap produk udang Indonesia. Amerika Serikat juga menjadi pasar yang sangat penting bagi komoditas ini.

Namun peluang bisnis udang tidak berhenti pada penjualan produk mentah. Pengolahan, pembekuan, pengemasan, standardisasi mutu, hingga produk siap masak dapat menciptakan nilai tambah lebih tinggi. Artinya, bisnis yang mampu membangun rantai produksi dari tambak hingga produk akhir memiliki ruang untuk menangkap lebih banyak nilai ekonomi. Tantangannya tentu berada pada kualitas, konsistensi pasokan, keamanan pangan, dan kemampuan memenuhi standar negara tujuan.

2. Tuna Membuka Jalan ke Pasar Global

Peluang kedua berada pada tuna dan kelompok tuna-cakalang. Pada 2025, ekspor tuna-cakalang Indonesia mencapai sekitar US$1,04 miliar, menjadikannya komoditas terbesar kedua setelah udang. Pasar Jepang, Amerika Serikat, ASEAN, dan berbagai negara lain menjadi bagian dari jaringan perdagangan produk perikanan Indonesia. Besarnya nilai tersebut memperlihatkan bahwa permintaan global tidak hanya bergantung pada satu komoditas.

Bisnis tuna juga memiliki peluang pada produk dengan tingkat pengolahan lebih tinggi. Produk beku, fillet, kaleng, hingga berbagai produk siap konsumsi dapat menjadi pilihan untuk meningkatkan nilai jual. Di sinilah perusahaan pengolahan dan eksportir memiliki peran penting. Semakin kuat kemampuan menjaga mutu dan ketertelusuran produk, semakin besar peluang untuk mempertahankan akses ke pasar internasional.

3. Cumi dan Gurita Mulai Menjadi Bisnis Bernilai

Peluang ketiga sering kali tidak mendapat perhatian sebesar udang, padahal nilainya cukup besar. KKP mencatat kelompok cumi-sotong-gurita menyumbang US$889,73 juta pada 2025, sekitar 14,2 persen dari total ekspor perikanan. Angka tersebut menunjukkan bahwa produk laut Indonesia memiliki pasar yang jauh lebih beragam daripada sekadar ikan dan udang.

Potensinya semakin menarik karena komoditas ini dapat masuk ke berbagai kebutuhan pasar pangan. Produk segar, beku, maupun olahan dapat dikembangkan sesuai permintaan negara tujuan. Pelaku usaha juga dapat memanfaatkan teknologi pengolahan dan pengemasan untuk memperpanjang umur simpan produk. Dengan begitu, peluang ekspor tidak hanya berada di laut, tetapi juga di pabrik pengolahan dan jaringan distribusi.

4. Rajungan dan Kepiting Punya Nilai Tinggi

Peluang keempat datang dari rajungan dan kepiting. Nilai ekspor kelompok komoditas tersebut mencapai US$507,74 juta pada 2025, atau sekitar 8,1 persen dari total ekspor perikanan Indonesia. Nilainya memang berada di bawah udang dan tuna, tetapi produk ini memiliki karakter pasar yang menarik karena dapat dijual dalam bentuk segar, beku, maupun olahan.

Bagi pelaku usaha, peluang terbesar justru dapat muncul dari proses setelah hasil tangkapan diperoleh. Sortasi, pengolahan, pengemasan, dan pengendalian mutu menjadi bagian penting sebelum produk memasuki pasar ekspor. Model bisnis tersebut juga membuka ruang bagi industri pengolahan skala kecil dan menengah untuk masuk ke rantai pasok. Dengan standar yang tepat, produk bernilai tinggi dapat memberikan peluang ekonomi lebih besar dibandingkan sekadar menjual hasil tangkapan tanpa pengolahan.

5. Rumput Laut Bisa Menjadi Bisnis Masa Depan

Peluang kelima datang dari rumput laut. KKP mencatat ekspor rumput laut mencapai US$315,62 juta pada 2025, sekitar 5 persen dari total ekspor produk perikanan. Nilainya memang lebih kecil dibandingkan udang atau tuna, tetapi karakter bisnisnya berbeda karena rumput laut dapat menjadi bahan baku berbagai produk turunan.

Data KKP menunjukkan rumput laut digunakan untuk kebutuhan pangan, kesehatan, kosmetik, dan berbagai industri lainnya. Pada Januari-Oktober 2025 saja, ekspor rumput laut mencapai US$264,56 juta dengan volume 204,01 ribu ton. Ini membuka peluang bagi Indonesia untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mengembangkan industri pengolahan yang menghasilkan produk bernilai tambah lebih tinggi.

Tantangan Besar Bukan Lagi Soal Produksi

Besarnya pasar ekspor tidak otomatis membuat setiap pelaku usaha berhasil. Produk perikanan harus memenuhi standar keamanan pangan, mutu, ketertelusuran, dan persyaratan negara tujuan. KKP bahkan memperkuat sistem sertifikasi mutu dari hulu hingga hilir untuk memastikan produk Indonesia memenuhi standar internasional.

Artinya, persaingan masa depan bukan sekadar siapa yang memiliki hasil laut paling banyak. Persaingan juga akan ditentukan oleh siapa yang mampu menjaga kualitas, memasok secara konsisten, mengolah produk, dan memahami kebutuhan pasar. Bagi bisnis Indonesia, perubahan tersebut justru membuka peluang baru untuk naik kelas dari pemasok komoditas menjadi bagian dari industri perikanan global.

Penutup

Lima peluang terbesar terlihat dari udang, tuna-cakalang, cumi-sotong-gurita, rajungan-kepiting, dan rumput laut. Kelimanya sudah memiliki kontribusi nyata terhadap ekspor perikanan Indonesia dan menunjukkan bahwa pasar global masih menyediakan ruang bagi produk kelautan nasional.

Dengan ekspor perikanan mencapai US$6,27 miliar pada 2025 dan US$3 miliar hanya dalam enam bulan pertama 2026, peluang bisnisnya semakin sulit diabaikan. Tantangan berikutnya adalah meningkatkan nilai tambah agar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara penghasil komoditas laut, tetapi juga sebagai pemasok produk perikanan berkualitas dan bernilai tinggi untuk pasar dunia.

Sumber Referensi

Last Updated: 6 October 2026, 09:54

Bagikan:

Search

Artikel Lainnya

Ayo Menelusuri