Cara Atasi Efek Gas Air Mata Bukan dengan Odol

Cara Atasi Efek Gas Air Mata Bukan dengan Odol

Bagikan

Daftar Isi

Cara atasi efek gas air mata bukanlah dengan menggunakan odol, melainkan dengan langkah pertolongan pertama yang aman sesuai arahan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Gas air mata kerap digunakan aparat keamanan untuk mengurai massa dalam situasi demonstrasi atau kerumunan. Zat kimia di dalamnya, biasanya berbahan aktif seperti CS (chlorobenzylidene malononitrile) atau CN (chloroacetophenone), dapat memicu reaksi iritasi pada mata, kulit, hingga saluran pernapasan.

Meski demikian, masih banyak orang yang salah kaprah dalam menangani dampak gas air mata. Salah satunya dengan mengoleskan pasta gigi (odol) di bawah mata untuk mengurangi rasa perih. Kemenkes menegaskan, cara tersebut justru berisiko memperburuk kondisi dan tidak disarankan dilakukan.

Mengapa Odol Tidak Aman Digunakan

Fenomena penggunaan odol untuk menangkal efek gas air mata bukan hal baru. Banyak pengunjuk rasa percaya bahwa kandungan mentol dalam odol bisa memberikan rasa dingin dan meredakan perih. Namun, menurut dr. Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, odol memiliki zat abrasif dan bahan kimia yang justru bisa memperparah iritasi.

Area sekitar mata memiliki kulit tipis dan sensitif. Ketika odol diaplikasikan, alih-alih memberikan perlindungan, justru bisa menimbulkan sensasi panas lebih parah, perih, bahkan memicu luka bakar ringan di kulit. Karena itu, penggunaan pasta gigi tidak boleh dijadikan solusi pertolongan pertama saat terkena gas air mata.

Langkah Pertolongan Pertama Saat Terpapar Gas Air Mata

Kemenkes memberikan panduan jelas terkait cara aman mengatasi efek paparan gas air mata. Berikut beberapa langkah yang dianjurkan:

  1. Segera menjauh dari sumber paparan
    Begitu gas air mata dilepaskan, langkah pertama adalah keluar dari area kerumunan dan mencari udara terbuka. Sirkulasi udara yang lebih baik akan membantu mengurangi konsentrasi gas yang masuk ke tubuh.
  2. Lepaskan pakaian yang terkontaminasi
    Partikel gas mudah menempel pada pakaian dan bisa menyebabkan paparan berulang. Pakaian yang terkena gas sebaiknya segera dilepaskan dan dimasukkan ke kantong plastik tertutup sebelum dicuci.

  3. Bersihkan mata dengan air mengalir
    Cara terbaik mengatasi mata perih akibat gas air mata adalah dengan melakukan irigasi menggunakan air bersih yang mengalir atau larutan fisiologis seperti NaCl 0,9% maupun Ringer Laktat. Irigasi dianjurkan dilakukan minimal 15–30 menit. Hindari menggosok mata karena dapat memperparah luka atau iritasi.

  4. Cuci kulit dengan sabun lembut
    Apabila kulit terkena gas air mata, segera cuci dengan air dan sabun lembut. Hindari penggunaan bahan kimia keras atau scrub yang dapat memperburuk iritasi kulit.

  5. Atasi gangguan pernapasan
    Gas air mata dapat menimbulkan rasa sesak dan batuk. Jika hal ini terjadi, segeralah duduk tegak, longgarkan pakaian yang menekan dada, dan bernapas perlahan. Apabila sesak berlanjut, segera cari bantuan medis.

  6. Gunakan tetes mata atau kompres dingin
    Setelah irigasi, penggunaan tetes mata buatan atau kompres dingin bisa membantu mengurangi perih dan iritasi.

Penjelasan Ilmiah tentang Gas Air Mata

Gas air mata bekerja dengan cara mengiritasi selaput lendir di mata, hidung, mulut, dan paru-paru. Zat kimia ini bukan hanya menyebabkan mata berair, tetapi juga bisa menimbulkan efek sekunder berupa mual, pusing, hingga gangguan kulit. Paparan jangka panjang bahkan berpotensi merusak jaringan mata.

Pakar dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan bahwa cara terbaik melawan efek gas air mata adalah dengan membantu tubuh mengeluarkan partikel zat kimia tersebut. Karena itu, mencuci dengan air bersih atau larutan fisiologis jauh lebih efektif dibandingkan menggunakan bahan asing seperti odol, kopi, atau cairan beralkohol.

Edukasi dan Kesadaran Publik

Fenomena penggunaan odol menandakan masih kurangnya edukasi publik mengenai cara penanganan gas air mata. Informasi yang keliru cepat menyebar di media sosial dan dipercaya masyarakat, padahal bisa berbahaya. Oleh karena itu, Kemenkes bersama sejumlah tenaga medis berupaya meluruskan misinformasi ini dengan memberikan panduan resmi.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak menyebarkan tips tanpa dasar medis yang dapat membahayakan orang lain. Edukasi sederhana, seperti pentingnya menggunakan air bersih atau larutan fisiologis untuk mengatasi gas air mata, diharapkan bisa mengurangi risiko kesehatan.

Kesimpulan

Gas air mata memang dapat menimbulkan rasa perih, sesak, dan tidak nyaman, tetapi penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Cara atasi efek gas air mata adalah dengan menjauh dari area paparan, melepas pakaian yang terkontaminasi, mencuci mata dan kulit dengan air bersih atau larutan fisiologis, serta mencari bantuan medis bila gejala berlanjut.

Penggunaan odol atau bahan kimia lain bukanlah solusi, melainkan berpotensi memperparah iritasi. Edukasi masyarakat sangat dibutuhkan agar tidak lagi terjebak pada mitos, dan selalu mengutamakan langkah medis yang benar saat menghadapi paparan gas air mata.

Ikuti berita menarik lainnya hanya di Pakistan Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *