Pemerintah resmi meluncurkan buku sejarah indonesia terbaru hasil penulisan ulang sejarah nasional. Buku ini terdiri dari 10 jilid dengan total 7.958 halaman. Peluncuran dilakukan pada 14 Desember 2025 dan disebut sebagai proyek sejarah terbesar di Indonesia (Kompas.com, 2025).
Buku tersebut diperkenalkan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Sejak diumumkan, proyek ini langsung menarik perhatian publik. Akademisi, pendidik, dan masyarakat ikut menyoroti isi serta arah penulisan ulang sejarah nasional ini.
Buku Sejarah Indonesia Terbaru Resmi Diluncurkan
Peluncuran buku sejarah indonesia ini menandai upaya pemerintah memperbarui narasi sejarah nasional yang selama puluhan tahun belum mengalami revisi besar. Buku ini ditulis oleh lebih dari 120 penulis yang berasal dari 34 perguruan tinggi dan 11 lembaga nonperguruan tinggi di Indonesia (Liputan6.com, 2025).
Menurut pemerintah, pembaruan ini diperlukan untuk menyesuaikan perkembangan kajian sejarah, temuan arsip baru, serta dinamika sosial dan politik bangsa. Buku ini diharapkan menjadi rujukan sejarah yang lebih komprehensif dan relevan dengan konteks kekinian.
Skala Penulisan dan Struktur 10 Jilid
Dengan total 7.958 halaman, buku sejarah indonesia terbaru ini terdiri dari 10 jilid utama yang disusun secara kronologis. Isinya membahas perjalanan bangsa Indonesia mulai dari masa awal peradaban Nusantara, periode kerajaan, kolonialisme, perjuangan kemerdekaan, hingga era reformasi dan demokrasi modern (Kompas.com, 2025).
Setiap jilid ditulis oleh tim penulis yang memiliki keahlian pada periode tertentu, sehingga pendekatan penulisannya bersifat akademis dan berbasis kajian ilmiah.
Tujuan Penulisan Ulang Sejarah Nasional
Penulisan ulang buku sejarah indonesia ini bertujuan menghadirkan perspektif Indonesia-sentris dan memperkuat identitas kebangsaan. Pemerintah menyatakan bahwa buku ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan seluruh buku sejarah lama, melainkan menjadi referensi utama yang lebih mutakhir (Liputan6.com, 2025).
Selain sebagai rujukan akademik, buku ini juga diharapkan dapat dimanfaatkan dalam dunia pendidikan sebagai bahan pendukung pembelajaran sejarah bagi siswa dan mahasiswa.
Tanggapan Publik dan Akademisi
Peluncuran buku sejarah indonesia ini tidak lepas dari kritik dan sorotan. Sejumlah akademisi menilai penulisan ulang sejarah harus dilakukan secara hati-hati agar tetap objektif, transparan, dan berlandaskan metodologi ilmiah yang kuat. Perdebatan publik pun muncul terkait interpretasi sejumlah peristiwa sejarah penting.
Menanggapi polemik tersebut, Fadli Zon menegaskan bahwa buku ini tidak ditulis oleh dirinya maupun pejabat Kementerian Kebudayaan. Ia menyebut pemerintah hanya memfasilitasi para sejarawan untuk menulis sejarah bangsa.
“Jadi ini bukan ditulis oleh saya, oleh Pak Restu, atau oleh orang Kementerian Kebudayaan. Kita memfasilitasi para sejarawan untuk menulis sejarah. Kalau sejarawan tidak menulis sejarah, lantas bagaimana kita merawat memori kolektif bangsa kita?” kata Fadli Zon.
Fadli juga mengungkapkan bahwa keberadaan Direktorat Sejarah dan Permuseuman di Kementerian Kebudayaan merupakan hasil perjuangan panjang. Direktorat tersebut sebelumnya sempat tidak aktif dan baru dihidupkan kembali setelah pembentukan Kementerian Kebudayaan oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Direktorat Sejarah ini sebenarnya sudah tidak ada lagi. Pas setahun lalu ketika Bapak Presiden Prabowo Subianto mendirikan Kementerian Kebudayaan, salah satu yang kita minta adalah Direktorat Sejarah dihidupkan kembali,” ujarnya.
Ia mengakui proses penulisan ulang sejarah memunculkan banyak polemik. Namun, menurutnya hal tersebut wajar dalam iklim demokrasi dan menjadi bagian dari dinamika kebebasan berpendapat.
“Di dalam proses penulisan ini cukup banyak polemik. Ada juga yang meminta penulisan sejarah dihentikan. Saya kira pendapat seperti ini wajar di era demokrasi,” kata Fadli.
Fadli berharap proyek penulisan sejarah tidak berhenti pada satu buku saja. Ia menargetkan ke depan akan terbit buku-buku sejarah lain, termasuk penulisan yang lebih mendalam mengenai perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia pada periode 1945–1950.
Dampak bagi Pendidikan dan Literasi Sejarah
Kehadiran buku sejarah indonesia terbaru ini dinilai berpotensi meningkatkan literasi sejarah masyarakat. Dengan cakupan yang luas dan pendekatan ilmiah, buku ini diharapkan mampu mendorong minat generasi muda untuk mempelajari sejarah nasional secara lebih mendalam.
Namun demikian, para pengamat juga mengingatkan pentingnya membuka ruang dialog berkelanjutan agar buku ini terus dievaluasi dan disempurnakan seiring perkembangan ilmu sejarah.
Peluncuran buku sejarah indonesia setebal 7.958 halaman menjadi tonggak penting dalam upaya pembaruan narasi sejarah nasional. Proyek ini mencerminkan kerja besar para sejarawan dan akademisi dalam mendokumentasikan perjalanan bangsa Indonesia secara lebih komprehensif.
Ikuti terus perkembangan berita sejarah, budaya, dan isu nasional lainnya hanya di PakistanIndonesia.com. Temukan beragam artikel informatif dan terpercaya untuk memperluas wawasan Anda setiap hari.




