Indef: “Swap Currency” Bantu Stabilkan Rupiah dalam Jangka Pendek

swap currency
Foto: Antara News
Table of Contents

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai kerja sama pertukaran mata uang antarnegara (swap currency) dapat membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek. Hal ini terjadi di tengah tekanan dinamika global, seperti diberitakan Antara News.

“Menurut saya swap currency ada positifnya, namun ini bukan solusi jangka panjang,” kata Esther.

Dampak Positif Swap Currency bagi Stabilitas Rupiah

Ia menjelaskan salah satu dampak positif kebijakan tersebut ialah membantu menahan pelemahan rupiah terhadap mata uang asing melalui penguatan akses likuiditas valuta asing. Selain itu, kerja sama pembiayaan non-dolar dinilai dapat memperkuat cadangan devisa dan mendukung kebutuhan transaksi maupun pembayaran utang luar negeri.

“Penguatan likuiditas memperkuat cadangan devisa dan memastikan ketersediaan dana untuk kebutuhan transaksi atau pembayaran utang luar negeri,” ujar Esther.

Diversifikasi Pembiayaan dan Mitigasi Risiko

Menurut dia, diversifikasi pembiayaan juga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS melalui penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional. Ia menambahkan skema cross currency swap juga dapat membantu pelaku usaha memitigasi risiko fluktuasi nilai tukar dan suku bunga.

Cadangan Devisa dan Kondisi Rupiah

Berdasarkan data Bank Indonesia, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar 148,4 miliar dolar AS, yang dinilai cukup untuk mendukung stabilitas sektor eksternal dan sistem keuangan nasional. Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan Rabu (6/5) ditutup menguat ke kisaran Rp17.387 per dolar AS setelah penutupan sebelumnya di level Rp17.424 per dolar AS.

Swap Currency Bukan Solusi Jangka Panjang

Meski demikian, Esther mengingatkan kebijakan tersebut bukan solusi jangka panjang untuk memperkuat fundamental ekonomi domestik.

“Swap adalah alat stabilisasi sementara, bukan obat utama untuk memperkuat fundamental ekonomi domestik,” ucapnya.

Ia menilai penguatan fundamental ekonomi tetap perlu dilakukan melalui penguatan likuiditas serta diversifikasi pembiayaan. Langkah ini diperlukan agar ketergantungan terhadap dolar AS dapat dikurangi.

Peran Bank Indonesia dalam Stabilitas Nilai Tukar

Esther memandang Bank Indonesia tetap perlu menjaga stabilitas nilai tukar melalui operasi pasar. Langkah tersebut dapat dilakukan apabila cadangan devisa dinilai memadai.

“Bank Indonesia juga harus melakukan operasi pasar agar nilai tukar stabil dengan catatan cadangan devisa dolar AS cukup,” tuturnya.

Kebijakan Pemerintah dan BI untuk Swap Currency

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah bersama Bank Indonesia menyiapkan kerja sama swap currency dengan China, Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara lain. Langkah tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya menjaga stabilitas rupiah.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo juga menyatakan bahwa BI menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat rupiah. Langkah tersebut mencakup intervensi di pasar valuta asing serta penguatan arus modal masuk, dengan dukungan cadangan devisa yang dinilai lebih dari cukup untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Penutup

Swap currency dinilai dapat menjadi instrumen yang membantu menjaga stabilitas rupiah dalam jangka pendek di tengah tekanan global. Namun, kebijakan ini tetap tidak dapat menggantikan upaya penguatan fundamental ekonomi yang lebih berkelanjutan. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia menjadi kunci dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan ekonomi nasional.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar ekonomi, nasional, internasional, politik, pendidikan, kesehatan, religi, olahraga, pariwisata, teknologi, dan seni budaya hanya di PakistanIndonesia.com.

Last Updated: 8 May 2026, 07:00

Bagikan:

Search

Berita Lainnya

Ayo Menelusuri