Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan pemerintah menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk meredam dampak ekonomi global akibat eskalasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran. Budi mengatakan pengalaman konflik sebelumnya antara Iran dan Israel tidak berdampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia.
Namun menurutnya, apabila terjadi eskalasi hingga penutupan Selat Hormuz, maka harga minyak dunia berpotensi melonjak. Kenaikan harga energi akan berdampak langsung pada biaya produksi, transportasi, hingga harga barang konsumsi, seperti diberitakan MetroTV News.
Dampak Konflik AS Iran terhadap Ekonomi Indonesia
“Pasti ya, nanti minyak atau bahan bakunya jadi naik ya. Tapi kan gini, pertumbuhan ekonomi kita kan banyak ditopang oleh konsumsi dalam negeri, konsumsi domestik. Jadi ya kita harus memberdayakan itu, tetap menjaga itu,” ujar Budi ditemui di kantor Kementerian Perdagangan (Kemendag), Jakarta.
Ia menyebut sektor manufaktur dan ekspor akan menjadi yang paling terdampak karena adanya peningkatan biaya produksi dan logistik. Namun, hal ini tidak hanya berlaku bagi Indonesia saja, tetapi bersifat global.
Diversifikasi Pasar Ekspor
Oleh karena itu, strategi kedua pemerintah adalah mendorong ekspor ke pasar-pasar yang relatif tidak terdampak konflik. Diversifikasi tujuan ekspor dinilai penting untuk menjaga momentum perdagangan di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah, lanjutnya, akan memaksimalkan berbagai stimulus yang telah disiapkan khususnya menjelang momentum Lebaran, serta mendorong kolaborasi dengan sektor swasta untuk menjaga perputaran ekonomi domestik.
“Kita antisipasi itu dulu, kita jaga momentum yang bagus itu. Apalagi ini mau Lebaran, saya pikir banyak ya stimulus yang telah diberikan oleh pemerintah. Dan kita akan terus melakukan gerakan-gerakan bersama swasta, ya untuk meningkatkan daya beli kita, untuk meningkatkan daya beli kita di pasar domestik,” jelas dia.
Penutup
Langkah antisipatif pemerintah diharapkan dapat melindungi sektor vital seperti manufaktur, ekspor, energi, perdagangan, dan logistik. Selain itu, langkah ini juga bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat tetap kuat di tengah eskalasi konflik AS Iran.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar ekonomi, internasional, kesehatan, nasional, olahraga, otomotif, pariwisata, pendidikan, politik, religi, seni budaya, dan teknologi di PakistanIndonesia.com.