Wamenlu: Kerja Sama di Selat Malaka Terjaga di Tengah Kondisi Global

kerja sama selat malaka
Foto: Antara News
Table of Contents

Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno memastikan bahwa kerja sama pengelolaan Selat Malaka antara negara-negara yang melingkupinya tetap berjalan baik di tengah ketegangan geopolitik global, seperti diberitakan Antara News.

“Negara-negara yang berada di Selat Malaka, Indonesia, Malaysia, dan Singapura mengadakan pertemuan teknis rutin antara masing-masing otoritas perhubungan lautnya untuk membahas keselamatan navigasi di Selat Malaka,” kata Havas ditemui usai simposium terkait penegakan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) di masa kini di Kedutaan Besar Belanda Jakarta.

Kerja Sama Selat Malaka Tetap Berjalan

Mekanisme tersebut juga mencakup Selat Singapura yang bersambung di bagian selatan Selat Malaka, ucap dia. Di samping itu, ketiga negara pengelola Selat Malaka tersebut juga mengundang negara-negara yang memanfaatkan hak lintas di Selat Malaka. Negara-negara tersebut diundang untuk berkontribusi dalam pengelolaan wilayah laut tersebut melalui mekanisme kerja sama.

Ia menjabarkan bahwa bentuk pengelolaan Selat Malaka yang dilakukan Indonesia, Malaysia, dan Singapura antara lain melalui penyediaan rambu suar. Selain itu, pengelolaan tersebut juga mencakup penyediaan informasi terkait keamanan pelayaran.

“Sehingga semua kapal yang melakukan navigasi di sana mendapatkan informasi maksimal demi keselamatan dan keamanannya,” ujar dia.

Pengaturan Jalur Pelayaran di Selat Malaka

Lebih lanjut, demi memastikan kelancaran pelayaran di Selat Malaka, negara-negara pengelolanya sepakat mengalihkan kapal tanker raksasa (VLCC) dan kapal-kapal berukuran sejenis. Kapal-kapal tersebut akan berlayar melalui Selat Sunda dan Selat Lombok. Pasalnya, dengan rata-rata kedalaman sekitar 20-30 meter, selat tersebut terlalu dangkal untuk dilalui kapal yang sangat besar, kata dia.

Karena itu, kapal-kapal super besar dari Asia Tenggara, Eropa, dan Afrika yang hendak ke Singapura ataupun Laut China Selatan akan diarahkan berlayar ke Selat Sunda. Sementara, kapal-kapal dari Australia akan berlayar melalui Selat Lombok.

Kolaborasi Jadi Contoh bagi Dunia

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menilai kolaborasi Indonesia, Singapura, dan Malaysia dalam menjaga keamanan Selat Malaka dan Selat Singapura berjalan dengan baik. Menurutnya, keterbukaan jalur pelayaran sesuai UNCLOS tersebut dapat menjadi contoh bagi kawasan lain di dunia.

“Keberhasilan Indonesia dan kerja sama efektif yang kita miliki di kawasan ini memiliki dampak besar pada prospek ASEAN, tetapi juga dapat menjadi contoh positif bagi seluruh dunia,” kata Balakrishnan dalam pernyataan pers bersama Menlu RI Sugiono di Jakarta.

Penutup

Kerja sama Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam pengelolaan Selat Malaka menunjukkan pentingnya koordinasi regional dalam menjaga keamanan pelayaran internasional. Kolaborasi tersebut juga menjadi contoh positif bagi kawasan lain di tengah kondisi geopolitik global yang dinamis.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar kerja sama internasional, kerja sama ekonomi, kerja sama politik, kerja sama pendidikan, kerja sama teknologi, kerja sama pariwisata, kerja sama seni budaya, kerja sama kesehatan, kerja sama otomotif, dan kerja sama religi hanya di PakistanIndonesia.com.

Tri

Last Updated: 20 May 2026, 07:30

Bagikan:

Search

Berita Lainnya

Ayo Menelusuri