Mengenal Profil Negara Anggota D-8: Potensi dan Sektor Unggulan

negara anggota d-8
Foto: SINDOnews
Table of Contents

Organisasi Kerja Sama Ekonomi D-8 (Developing Eight) merupakan wadah kerja sama delapan negara berkembang. Kelompok ini memiliki potensi besar untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi global. Negara anggota D-8, yaitu Nigeria, Azerbaijan, Bangladesh, Turki, Mesir, Indonesia, Iran, Malaysia, dan Pakistan, memiliki kekuatan yang saling melengkapi di bidang energi, manufaktur, pertanian, industri tekstil, serta jasa dan teknologi.

Potensi tersebut membuat negara anggota D-8 aktif dalam perdagangan, investasi, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan Global South. Indonesia, sebagai Ketua D-8 periode 2026-2027, berkomitmen memperkuat kerja sama ekonomi. Selain itu, Indonesia mendorong solidaritas antar anggota dan kolaborasi yang inklusif untuk kesejahteraan bersama, sebagaimana dilaporkan Kemensetneg.

Azerbaijan

Ibukota: Baku
PDB: 74,6 miliar dolar AS (2024)
Mata Uang: Manat (AZN)
Luas Wilayah: 86.600 km²
Jumlah Penduduk: 10,44 juta jiwa (2025)

Sektor hidrokarbon tetap menjadi tulang punggung ekonomi Azerbaijan dengan menyumbang lebih dari 90% pendapatan ekspor. Meski demikian, negara ini tengah gencar melakukan diversifikasi melalui pengembangan energi terbarukan. Kapasitas energi surya dan angin yang mencapai 0,6 gigawatt pada 2024 ditargetkan melonjak menjadi 1,5 gigawatt pada 2030, demi memenuhi kebutuhan domestik serta ambisi ekspor listrik hijau dan hidrogen rendah karbon ke Eropa. Di luar sektor minyak, Azerbaijan fokus memperkuat bidang pertanian, logistik, dan pariwisata. Kemajuan signifikan juga terlihat pada sektor IT sebagai bagian dari strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Bangladesh

Ibukota: Dhaka
PDB: 475,01 miliar dolar AS (2025)
Mata Uang: Taka (BDT)
Luas Wilayah: 147.639 km²
Jumlah Penduduk: 175,7 juta jiwa (2025)

Bangladesh mengandalkan industri garmen yang menyumbang 81% ekspor, menjadikannya produsen terbesar kedua di dunia. Meskipun sektor pakaian jadi dan tekstil mendominasi perdagangan luar negeri, sektor jasa seperti perbankan dan telekomunikasi justru memberikan kontribusi PDB tertinggi. Struktur ini menunjukkan keseimbangan yang kuat antara kekuatan manufaktur global dan pertumbuhan layanan domestik yang terus berkembang pesat. Sektor industri dan pertanian juga menjadi pilar utama dengan menyerap sekitar 40% tenaga kerja nasional. Perpaduan antara dominasi ekspor tekstil dan sektor agraris yang tangguh memastikan stabilitas ekonomi Bangladesh tetap terjaga di kawasan. Sinergi berbagai sektor strategis ini terus memperkokoh posisi Bangladesh sebagai salah satu kekuatan ekonomi baru yang paling diperhitungkan di Asia Selatan.

Indonesia

Ibukota: Jakarta
PDB: 1,44 triliun dolar AS (2025)
Mata Uang: Rupiah (IDR)
Luas Wilayah: 5.180.053 km²
Jumlah Penduduk: 284,43 juta jiwa (2025)

Sektor ekonomi utama Indonesia ditopang oleh industri manufaktur, pertanian, pertambangan, dan perdagangan. Bidang manufaktur sendiri didominasi oleh otomotif, elektronik, tekstil, hingga pengolahan hasil sumber daya alam. Struktur ekonomi nasional ini kian kokoh berkat pesatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga serta sektor jasa, terutama di bidang transportasi, informasi, dan komunikasi. Dalam beberapa tahun terakhir, penyerapan tenaga kerja terbesar di Indonesia terpusat pada tiga pilar utama: pertanian, industri, dan jasa. Sinergi antara sektor-sektor strategis ini tidak hanya menggerakkan roda perekonomian domestik, tetapi juga memastikan ketersediaan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat secara berkelanjutan.

Iran

Ibukota: Teheran
PDB: 356,51 miliar dolar AS (2025)
Mata Uang: Rial (IRR)
Luas Wilayah: 1.648.195 km²
Jumlah Penduduk: 92,4 juta jiwa (2025)

Ekonomi Iran didominasi oleh sektor migas yang menjadi sumber pendapatan utama pemerintah. Dengan kepemilikan 10 persen cadangan minyak dunia, komoditas ini menyumbang 80 persen dari total ekspor nasional. Selain minyak bumi, Iran juga mengekspor produk petrokimia, bahan kimia, otomotif, hingga komoditas khas seperti karpet, buah-buahan, dan kacang-kacangan. Di luar energi, Iran memiliki basis industri luas mencakup pembuatan mobil, farmasi, telekomunikasi, fabrikasi logam, dan pengolahan makanan. Sektor lain seperti semen, tekstil, bahan bangunan, pupuk, hingga soda api turut memperkuat struktur ekonominya. Diversifikasi ini menunjukkan bahwa meski minyak menjadi penggerak utama, Iran memiliki kapasitas manufaktur yang beragam untuk menopang ekonomi domestik.

Malaysia

Ibukota: Kuala Lumpur
PDB: 470,57 miliar dolar AS (2025)
Mata Uang: Ringgit (MYR)
Luas Wilayah: 329.847 km²
Jumlah Penduduk: 34,23 juta jiwa (2025)

Sektor ekonomi utama Malaysia didominasi oleh jasa, diikuti manufaktur, pertambangan, dan pertanian. Industri utamanya mencakup elektronik & semikonduktor, minyak & gas, kelapa sawit, manufaktur mesin, serta produk kayu. Manufaktur adalah pendorong ekspor utama, menyumbang lebih dari 60% total ekspor negara. Dalam sektor manufaktur, Malaysia bercita-cita untuk memajukan kemampuannya di bidang-bidang seperti elektronik canggih dan industri hijau. Hal ini didukung kuat oleh sektor jasa yang sangat dinamis dan intensif pengetahuan, termasuk digitalisasi, penelitian dan pengembangan, pembiayaan, dan jasa bisnis.

Mesir

Ibukota: Kairo
PDB: 349,26 miliar dolar AS (2025)
Mata Uang: Pound Mesir (EGP)
Luas Wilayah: 1.002.000 km²
Jumlah Penduduk: 116,27 juta jiwa (2025)

Perekonomian Mesir didukung oleh kegiatan pada sektor pariwisata, kekayaan minyak bumi, pajak dari Terusan Suez, dan beberapa industri menengah. Sektor pertanian masih menjadi andalan di Mesir karena menyerap 31% dari tenaga kerja. Hasil produksi pertanian yang utama adalah kapas, gandum, beras, dan ternak. Hasil produksi dari industri menengah di Mesir antara lain semen, pupuk, goni, aluminium, dan produk kapas. Kegiatan pertambangan mengandalkan hasil tambang minyak bumi, bijih besi, fosfat. Mesir juga aktif mengembangkan kegiatan pariwisata budaya. Tujuan wisata utamanya adalah Piramida Giza, Kuil Karnak, dan Lembah Para Raja. Jumlah wisatawan yang berkunjung ke Mesir mencapai dua juta orang setiap tahun.

Nigeria

Ibukota: Abuja
PDB: 187,76 miliar dolar AS (2024)
Mata Uang: Naira (NGN)
Luas Wilayah: 923.768 km²
Jumlah Penduduk: 240.330.974 (2025)

Nigeria merupakan raksasa ekonomi Afrika yang ditopang oleh sektor jasa, khususnya bidang informasi dan komunikasi yang menyumbang sekitar 50% PDB. Selain itu, sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung yang menyerap banyak tenaga kerja, sekaligus mengukuhkan posisi Nigeria sebagai produsen singkong terbesar di dunia. Kekuatan sumber dayanya pun terbukti melalui statusnya sebagai produsen minyak terbesar di benua tersebut dan pemilik cadangan minyak 10 besar dunia. Sektor manufakturnya bahkan menjadi yang terunggul di Afrika, memproduksi mayoritas barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan pasar di wilayah Afrika Barat secara luas.

Pakistan

Ibukota: Islamabad
PDB: 410,50 miliar dolar AS (2025)
Mata Uang: Rupee Pakistan (PKR)
Luas Wilayah: 881.913 km²
Jumlah Penduduk: 255,2 juta jiwa (2025)

Ekonomi Pakistan didominasi oleh sektor jasa, namun industri tekstil tetap menjadi tulang punggung ekspor sebagai pengekspor terbesar ke-8 di Asia. Kekuatan ini didukung statusnya sebagai produsen kapas terbesar ke-4 dunia dengan kapasitas pemintalan terbesar ke-3 di Asia. Selain garmen dan benang, Pakistan juga aktif mengekspor komoditas unggulan lain seperti beras, produk kulit, alat olahraga, hingga bahan kimia. Di sisi lain, pertanian tetap menjadi pilar utama yang menyerap lebih dari setengah tenaga kerja nasional sekaligus menjadi sumber devisa terbesar. Sektor ini, bersama dengan industri manufaktur seperti permadani, membentuk fondasi ekonomi yang krusial bagi penduduknya. Sinergi antara kekuatan industri tekstil dan agrikultur inilah yang menjaga stabilitas arus perdagangan luar negeri Pakistan di pasar global.

Turki

Ibukota: Ankara
PDB: 1,57 triliun dolar AS (2025)
Mata Uang: Lira (TRY)
Luas Wilayah: 783.562 km²
Jumlah Penduduk: 85,8 juta jiwa (2025)

Ekonomi Turki didominasi sektor manufaktur unggulan seperti otomotif, tekstil, dan peralatan rumah tangga, menjadikannya manufaktur terbesar ke-12 dunia. Kekuatan ini ditopang oleh sektor jasa yang dinamis, terutama pariwisata, perbankan, serta transportasi. Sebagai negara agraris, Turki pun menjadi produsen hasil pertanian global yang penting dan masuk dalam 10 besar dunia untuk aplikasi desain industri. Transformasi signifikan juga terlihat pada sektor pertahanan dan dirgantara. Dari pengimpor alutsista, Turki kini menjadi perancang serta eksportir dengan tingkat lokalisasi domestik melampaui 80%. Perkembangan pesat ini memperkuat posisi Turki sebagai pemain industri strategis yang mandiri dan kompetitif di pasar internasional.

Penutup

Negara anggota D-8 memiliki potensi yang saling melengkapi. Sektor unggulan mencakup energi, manufaktur, pertanian, tekstil, jasa, dan teknologi. Kerja sama yang erat mendorong perdagangan, investasi, dan pembangunan berkelanjutan. Sinergi ini memperkuat posisi D-8 di kawasan Global South.

Jangan lewatkan berita lainnya seputar negara anggota D-8, internasional, ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, teknologi, seni budaya, dan religi di PakistanIndonesia.com.

Last Updated: 24 February 2026, 14:30

Bagikan:

Search

Berita Lainnya

Ayo Menelusuri