Universitas YARSI mengembangkan program inovasi dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk membantu kerja dokter di ruang Unit Perawatan Intensif (ICU), seperti diberitakan Antara News. Rektor Universitas YARSI Prof. Fasli Jalal mengatakan berbagai program tersebut dikembangkan seiring dengan penerimaan hibah dari Korea, Jepang, maupun dari dalam negeri sendiri.
“Dalam artificial intelligence ini kami serius sekali,” kata Prof. Fasli.
Ia menjelaskan program tersebut merupakan salah satu proyek mahasiswa kedokteran. Kecerdasan buatan nantinya akan mengolah data darah, pernapasan, dan sebagainya dari seorang pasien. Setelah itu, AI akan memberikan saran kepada dokter mengenai pilihan obat yang bisa diberikan kepada pasien.
Meski pada akhirnya tetap dokter yang memutuskan obat yang akan diberikan. Fasli menuturkan mekanisme tersebut akan mempercepat penanganan pasien.
“Dokter tidak perlu lagi lama berdebat hingga tiga jam yang akhirnya bisa memengaruhi tingkat keselamatan pasien. Jadi, kami berupaya menggunakan AI ini agar mereka yang mendapatkan masalah kesehatan terbantu dalam penanganan pengobatan,” tutur dia.
AI Membantu Diagnosis di Tengah Keterbatasan Tenaga Medis
Selain memberikan rekomendasi obat, dirinya menyampaikan AI di universitasnya juga digunakan untuk memantapkan diagnosa, salah satunya menemukan kelainan genital bayi yang baru lahir. Menurut dia, salah satu kecerdasan buatan tersebut sangat dibutuhkan karena di Indonesia ahli urologi yang bisa mendiagnosa kelainan itu sangat terbatas. Saat ini jumlahnya disebut belum sampai 700 di seluruh Tanah Air. Dari jumlah tersebut, sambung dia, dua per tiganya berada di Jawa. Padahal, satu dari 300 anak di Indonesia lahir dengan gangguan tersebut.
“Dengan menggunakan artificial intelligence dan pengetahuan kedokteran, kami bisa membantu dari yang enggak mungkin mereka dapat fasilitas itu akhirnya bisa sehingga anak-anak yang mengidap kelainan tersebut tidak perlu dia teraniaya,” ungkap Fasli.
Adapun pada acara wisuda sabtu kemarin, terdapat 478 lulusan Universitas YARSI. Dalam kesempatan tersebut, ada juga satu lulusan pascasarjana yang berusia 70 tahun.
Penutup
Universitas YARSI menunjukkan komitmennya melalui pengembangan kecerdasan buatan di bidang kesehatan. Inovasi AI untuk bantu dokter di ICU diharapkan mempercepat diagnosis dan penanganan pasien di ICU. Dukungan riset dan kolaborasi internasional menjadikan pengembangan AI ini langkah penting menuju layanan kesehatan yang lebih modern dan berkelanjutan.
Jangan lewatkan berita lainnya seputar teknologi, nasional, internasional, ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, religi, olahraga, pariwisata, dan seni budaya hanya di PakistanIndonesia.com.